Beringharjo Great Sale Dorong Digitalisasi Pasar Rakyat di Yogyakarta

Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta terus mendorong percepatan digitalisasi pasar rakyat melalui program Beringharjo Great Sale (BGS).

Puncak kegiatan ditandai dengan pengundian hadiah BGS yang digelar di Atrium Pasar Beringharjo.

Program tahunan yang diinisiasi Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta melalui UPT Pusat Bisnis tersebut bekerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai sponsor utama dan Bank BPD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk meningkatkan transaksi ekonomi pasar rakyat melalui pembayaran nontunai.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta Veronica Ambar Ismuwardani mengatakan, Beringharjo Great Sale menjadi salah satu upaya mempercepat adaptasi digitalisasi pasar di kalangan pedagang, sekaligus mendorong masyarakat semakin terbiasa menggunakan transaksi digital.

Event ini bertujuan untuk mempercepat adaptasi digitalisasi pasar di kalangan pedagang dan mendorong penggunaan transaksi digital secara luas oleh masyarakat,” ujarnya.

Dia menjelaskan, pelaksanaan BGS berlangsung selama kurang lebih empat bulan, mulai 15 Desember 2025 hingga 30 April 2026.

Tidak hanya melibatkan pedagang Pasar Beringharjo, program tersebut juga diikuti pasar rakyat lainnya, seperti Pasar Kranggan, Pasar Ngasem, Pasar Prawirotaman dan PASTY.

Melalui program tersebut, pedagang dan pembeli didorong menggunakan pembayaran nontunai baik melalui QRIS maupun EDC BSI.

Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyediakan berbagai hadiah menarik bagi pengguna transaksi digital, mulai dari sepeda motor matic, sepeda listrik, kulkas, mesin cuci, smart TV, smartphone hingga voucher belanja.

Penjabat Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Dedi Budiono menuturkan, digitalisasi pasar rakyat menjadi kebutuhan agar pasar tradisional mampu mengikuti perkembangan pola konsumsi masyarakat dan wisatawan.

“Hari ini masyarakat semakin terbiasa menggunakan pembayaran digital. Wisatawan juga datang dengan pola belanja yang semakin modern, maka pasar rakyat tidak boleh tertinggal,” jelasnya.

Pasar rakyat harus tetap mempertahankan keramahan dan kekhasannya, tetapi pada saat yang sama juga harus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman.

Menurut Dedi, pelaksanaan BGS tahun ini menunjukkan capaian menggembirakan.

Rata – rata pertumbuhan transaksi non tunai selama periode event melalui QRIS BSI mencapai 26,65%.

Selain itu, estimasi transaksi non tunai secara keseluruhan di pasar rakyat yang terlibat dalam BGS mencapai rata – rata Rp14,9 miliar per bulan atau hampir Rp60 miliar selama empat bulan pelaksanaan.

“Angka ini bukan hanya menunjukkan peningkatan transaksi. Lebih dari itu, angka ini menunjukkan bahwa pedagang pasar rakyat mampu beradaptasi. Pembeli juga semakin siap menggunakan transaksi digital. Artinya, pasar rakyat kita memiliki daya lenting dan daya tumbuh yang kuat,” tuturnya.

Dia juga mengapresiasi para pedagang yang mulai terbiasa menggunakan QRIS maupun EDC dalam aktivitas jual beli.

Menurut Dedi, transaksi digital membantu pedagang memiliki pencatatan usaha yang lebih rapi sehingga memudahkan pengembangan usaha dan akses pembiayaan.

Dalam kegiatan tersebut juga diberikan penghargaan kepada paguyuban pasar dengan volume transaksi digital terbanyak, yakni Pasar Prawirotaman, Pasar Beringharjo dan PASTY.

Perwakilan Paguyuban Pasar Prawirotaman Untung Suparno mengaku program digitalisasi memberikan dampak positif bagi pedagang.

Alhamdulillah, mereka senang. Ternyata memang menguntungkan. Kita bisa transaksi, bisa jualan dengan pembayaran non tunai seperti sekarang,” tegasnya.

Dia berharap digitalisasi pasar terus berkembang dan semakin memotivasi pedagang untuk maju. “Ke depannya kita berusaha lebih lagi, lebih maju lagi. Semangat untuk kami sebagai pedagang Pasar Prawirotaman.”

Melalui kolaborasi antara pemerintah, perbankan, pengelola pasar dan paguyuban pedagang, Pemkot Yogyakarta berharap pasar rakyat semakin kuat sebagai pusat ekonomi, interaksi social, sekaligus destinasi belanja dan wisata di Kota Yogyakarta. I

 

Kirim Komentar