Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto cek langsung progres pembangunan hunian sementara (huntara) bagi pengungsi banjir di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.
Kegiatan tersebut bersama dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dengan turut mendampingi Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Safrizal Z.A. selaku Koordinator Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Aceh, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, serta Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil.
Dalam kesempatan tersebut, BNPB memastikan seluruh pengungsi korban banjir tidak lagi tinggal di tenda pengungsian pada 18 Februari 2026, bertepatan dengan menjelang Ramadan.
Pengungsi akan dipindahkan ke huntara, sedangkan sebagian lainnya menetap sementara di rumah saudara atau keluarga.
Huntara yang dibangun di Aceh Utara sebanyak 4.000 unit dan jumlah ini diasumsikan sebagai tahap pertama pembangunan hunian tetap (huntap).
“Memang jumlahnya sangat besar dan saat ini progresnya baru sekitar 30%,” ujar Suharyanto saat cek lokasi pengungsian korban banjir di Desa Bukit Lintang, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.
Dia menjelaskan bahwa pengungsi yang memilih tinggal di rumah keluarga akan diberikan dana tunggu hunian sebesar Rp600.000 per kepala keluarga per bulan selama enam bulan.
Menurutnya, dalam jangka waktu enam bulan tersebut pembangunan hunian tetap diharapkan dapat diselesaikan.
“Tantangannya memang jumlahnya sangat besar, sehingga harus dikerjakan dalam waktu yang cepat,” ungkapnya.
Selain BNPB, pembangunan hunian juga melibatkan Danantara, Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah daerah, TNI, Polri dan sejumlah lembaga lainnya.
Dia optimistis sebelum Ramadhan seluruh pengungsi sudah tidak lagi tinggal di tenda pengungsian. “Kemungkinan pada 18 Februari sudah tidak ada lagi pengungsi di tenda.”
Usai cek pembangunan hunian, Kepala BNPB juga menyusuri aliran Sungai Jambo Aye di desa Seulemak Kecamatan Langkahan Kabupaten Aceh Utara menggunakan perahu bermesin untuk melihat langsung sejumlah titik terdampak banjir besar pada 25 November 2025 yang belum dapat diakses melalui jalur darat. I
