BNPB Perkuat Penanganan Karhutla Kalteng melalui OMC

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperkuat strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).

Selain mengoptimalkan operasi pemadaman darat, dukungan udara melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga ditingkatkan melalui penambahan armada pesawat, pemenuhan stok bahan semai dan fleksibilitas pelaksanaan operasi hingga malam hari.

Hal tersebut disampaikan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto saat memimpin rapat koordinasi di Posko OMC Bandara Tjilik Riwut, Jumat (31/7).

Rapat tersebut turut dihadiri perwakilan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah, serta pengelola Bandara Tjilik Riwut.

Dalam arahannya, Kepala BNPB menginstruksikan agar armada pesawat OMC dapat dioperasikan secara fleksibel kapan pun diperlukan, termasuk pada malam hari apabila BMKG mengidentifikasi potensi pertumbuhan awan hujan.

Guna mendukung hal tersebut, tim BMKG diminta terus memantau dan memetakan perkembangan awan secara cermat sebagai dasar pelaksanaan operasi penyemaian.

“Baru saja kita rapat koordinasi sambil melihat OMC oleh tim gabungan, setiap hari BMKG melihat apakah bisa dilaksanakan OMC? Jadi bisa tidaknya OMC itu sangat bergantung pada awan hujan,” jelas Suharyanto.

Dia menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk tidak terbang selama masih ada potensi pertumbuhan awan hujan dan menjadi tidak terbangnya kalau tidak ada awan hujan saja.

Lebih lanjut, Kepala BNPB mengarahkan agar penyemaian bahan semai Natrium Klorida (NaCl) diprioritaskan pada wilayah dengan tingkat kebakaran yang tinggi, yakni Kabupaten Pulang Pisau dan Kota Palangka Raya.

Sementara itu, pemantauan kondisi cuaca dan potensi penyemaian juga terus dilakukan di Kabupaten Kotawaringin Timur.

“Ini akan menjadi atensi kami, semua pihak yang terlibat dalam OMC ini, saya perintahkan agar kalau ada pertumbuhan awan arahkan ke tempat – tempat yang terjadi pembakaran,” tutur Suharyanto.

Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah terdampak, sehingga mempercepat proses pemadaman, mempercepat pendinginan lahan gambut dan mencegah meluasnya kebakaran.

Guna mendukung efektivitas operasi, Kepala BNPB juga menekankan pentingnya menjaga ketersediaan stok bahan semai NaCl selama pelaksanaan OMC.

Selain itu, dia menyetujui penambahan armada pesawat OMC, sekaligus perluasan pangkalan operasi dengan menempatkan tambahan pesawat di Pangkalan Bun.

“Saya izinkan juga kalau ada penambahan kemudian saya izinkan juga penambahan satu di Pangkalan Bun satu, di sini Tjilik Riwut satu,” ungkapnya.

Berdasarkan data hingga Jumat (31/7), operasi OMC di Kalimantan Tengah menggunakan pesawat jenis Caravan telah dilaksanakan dengan total durasi terbang selama empat jam.

Sebanyak 2.000 kilogram bahan semai NaCl telah disebarkan untuk menjangkau wilayah penyemaian seluas 1.777,60 kilometer persegi.

Sementara itu, stok bahan semai NaCl yang tersedia di Posko OMC tercatat sebanyak 6.000 kilogram.

Sebelumnya, BNPB telah melaksanakan OMC tahap pertama di wilayah Kalimantan Tengah, pada periode 16 hingga 30 Juni 2026. OMC tersebut terlaksana dengan durasi terbang hingga 63 jam 18 menit, dengan jumlah penerbangan 31 sorti dan bahan semai yang digunakan sebanyak 31.000 kilogram.

Berdasarkan hasil peninjauan di Pos Lapangan Siaga Darurat Karhutla Kabupaten Pulang Pisau dan rapat koordinasi di Posko OMC Bandara Tjilik Riwut, Kepala BNPB menekankan pentingnya penguatan operasi Satgas Darat melalui pengerahan personel secara langsung di titik – titik api prioritas.

Dia juga menginstruksikan agar setelah api berhasil dipadamkan, Satgas Darat segera melakukan proses pendinginan pada area yang terbakar.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan bara api benar – benar padam dan mencegah munculnya kembali asap dari lahan gambut.

“Apinya sudah padam, tetapi karena lahan gambut harus segera didinginkan sampai asap itu betul – betul hilang dan yang paling efektif, serta efisien memang hujan, makanya satgas udara dan darat harus betul-betul bekerja maksimal,” katanya.

Guna mendukung efektivitas operasi di lapangan, BNPB juga akan mendistribusikan berbagai peralatan pendukung, antara lain bahan pemadam api, pompa air dan kantong air lipat (flexible tank) secara proporsional sesuai kebutuhan di lapangan.

Pemanfaatan flexible tank milik BPBD juga akan dioptimalkan pada wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air.

Menurut Suharyanto, hasil dari rapat tadi disampaikan bahwa flexible tank itu nanti diisi air dari heli water bombing.

“Jadi, heli water bombing yang sekarang ada bergerak dua, sedangkan 2 unit di titik Pulang Pisau, di samping memadamkan api, juga mengisi flexible tank. Nanti, pasukan daratnya dari flexible tank menggunakan pompa kecil disiram di asap – asap yang masih mengepul,” tuturnya.

Sebagai bagian dari penguatan operasi lapangan, BNPB juga mengerahkan tambahan satu regu yang terdiri atas 10 personel untuk memberikan pendampingan teknis di lokasi terdampak.

Selain itu, Kepala BNPB meminta pemerintah daerah memastikan pemenuhan perlengkapan perorangan, logistic dan hak uang harian bagi seluruh personel lapangan agar moril, serta kesiapan fisik petugas tetap terjaga selama operasi penanganan karhutla berlangsung. I

 

Kirim Komentar