Diskominfotik Sumbar Edukasi Ratusan Siswa Baru Antisipasi Gaming Disorder

Menyambut tahun ajaran baru, Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Sumatra Barat (Sumbar) punya cara tersendiri untuk membentengi para remaja dari bahaya kecanduan gawai.

Lewat sosialisasi interaktif di masa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), ratusan siswa baru dari SMKN 4, SMKN 7 dan SMKN 8 Padang diajak bersama – sama mengenali dan mencegah dampak buruk gaming disorder.

Kegiatan edukatif bertajuk Bahaya Game Online: Dampak, Pencegahan, serta Penanganan Anak dan Masyarakat ini digelar di Aula SMKN 7 Padang, belum lama ini.

Ratusan siswa baru yang hadir tampak antusias menyimak materi yang dikemas secara santai, tetapi penuh esensi.

Hadir sebagai narasumber, perwakilan Diskominfotik Sumbar Satria Oki Sanjaya, yang mengingatkan para siswa untuk lebih bijak dan berhati – hati dalam memanfaatkan teknologi informasi di kehidupan sehari – hari.

“Kecanduan game online saat ini telah menjadi ancaman serius bagi generasi muda di Indonesia. Fenomena ini bukan lagi sekadar hobi untuk mengisi waktu luang, melainkan sudah bergeser menjadi gangguan perilaku di tengah masyarakat, terutama pada anak – anak,” ujarnya.

Satria menegaskan, ancaman ini bukanlah persoalan kecil, karena telah diakui di tingkat global.

Sejak tahun 2018, World Health Organization (WHO) secara resmi telah memasukkan Gaming Disorder (gangguan bermain game) ke dalam klasifikasi penyakit internasional ICD-11.

“Ini adalah gangguan kesehatan mental nyata yang dapat didiagnosis dan ditangani secara medis,” tegas Satria.

Dia menambahkan, kecanduan gawai tidak berdiri sendiri, karena kondisi ini sering kali dipicu oleh berbagai faktor komersial dan konten terselubung yang disisipkan di dalam permainan.

“Kecanduan ini tidak hanya dipicu oleh durasi bermain yang berlebihan, tetapi juga karena adanya unsur negative, seperti judi online, konten tidak senonoh hingga dorongan pembelian aset game (in-app purchase) dengan harga fantastis yang kerap menjebak anak – anak,” jelasnya.

Dampak buruk dari kondisi ini dinilai sangat kompleks, mulai dari penurunan prestasi akademis, gangguan kesehatan fisik hingga terganggunya stabilitas mental anak, sehingga edukasi literasi digital sejak dini menjadi kunci pencegahan yang paling utama. I

 

 

Kirim Komentar