Harga Tingkat Peternak Unggas Mulai Bergerak Positif

Adanya depresiasi harga di tingkat peternak unggas tidak dapat dibiarkan begitu saja, bahkan pemerintah harus hadir agar level harga di tingkat produsen pangan dapat sesuai dengan Harga Acuan Pembelian (HAP).

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian menyatakan, upaya tersebut demi menjaga keberlangsungan usaha peternak unggas nasional.

Salah satunya adalah dengan mendorong penyerapan komoditas tersebut pada progam Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Harga yang turun, tidak kalah pentingnya. Ini peternak unggas kesulitan. Telur turun drastis. Harga di peternak itu Rp 18.000 sampai 20.000 per kilo. Kemudian ayam juga turun drastis,” ujarnya dalam rapat pengendalian inflasi di Jakarta.

Pemerintah sepakat untuk melaksanakan optimalisasi penyerapan produk peternak unggas untuk menunjang program MBG.

Amran menambahkan, tentunya program strategis ini diharapkan dapat menjadi alat kontrol fluktuasi harga pangan pokok, terutama sebagai bantalan keekonomian harga produsen pangan dalam negeri.

“Kami sudah koordinasi. MBG agar konsumsi telur dan ayamnya dinaikkan dari satu kali per minggu, kalau bisa tiga kali per minggu. Kami komunikasi langsung dengan Kepala Badan Gizi Nasional agar segera realisasikan konsumsi telur ayam, bisa menjadi alat kontrol untuk mengontrol harga pangan,” katanya.

Adapun pergerakan harga ayam broiler tingkat peternak dalam pantauan Bapanas mulai bergerak positif.

Rerata harga secara nasional per 15 Juni tercatat telah berada di Rp22.107 per kilogram (kg).

Level harga tersebut mulai naik 0,56% dibandingkan harga sehari sebelumnya di Rp21.984 per kg, sedangkan dibandingkan seminggu sebelumnya juga sudah naik tipis 0,02%.

Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) dilaporkan memiliki rerata harga ayam broiler tingkat peternak paling rendah dengan harga Rp18.438 per kg.

Sementara itu, provinsi dengan rerata harga paling tinggi ada di Riau dengan harga Rp27.000 per kg atau telah melampaui HAP tingkat peternak yang ditetapkan di Rp25.000 per kg.

Selanjutnya, mengenai pergerakan harga telur ayam ras tingkat peternak secara nasional, per 15 Juni telah berada di Rp24.019 per kg.

Provinsi Sumsel kembali tercatat dengan rerata harga paling rendah di Rp22.000 per kg.

Mengenai provinsi dengan rerata harga paling tinggi ada di Sulawesi Utara dengan Rp28.000 per kg yang telah melebihi HAP tingkat peternak di Rp26.500 per kg.

Selain memperluas akses penyerapan produk ternak unggas di hilir, pemerintah juga membantu peternak unggas dalam negeri agar biaya produksi dapat semakin efisien.

Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan telah dijalankan sejak 9 Mei 2026.

Pelaksanaan program SPHP jagung pakan, Bapanas telah menyiapkan anggaran sebesar Rp678 miliar di tahun ini.

Total alokasi penyaluran sebanyak 242.000 ton dan dapat berlangsung hingga akhir 2026.

Sebanyak lebih dari 5.000 peternak yang terdiri dari skala Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dengan total populasi 53 juta ekor unggas pada 26 provinsi menjadi target sasaran SPHP jagung pakan tahun ini.

Dalam catatan Bapanas, realisasi salur SPHP jagung pakan yang telah dijalankan Perum Bulog sampai 15 Juni mencapai 42.400 ton atau sekitar 19,9% dari target sementara 213.200 ton.

Masih ada sisa pagu 28.800 ton lagi yang masih sedang diproses bersama Kementerian Pertanian untuk memperoleh tambahan peternak penerima manfaat.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan sampai minggu kedua Juni 2026, jumlah daerah dengan penurunan Indeks Perkembangan Harga (IPH) telur ayam ras dan daging ayam ras di tingkat konsumen semakin banyak. Penurunan IPH Telur ayam ras ada di 198 kabupaten/kota dan daging ayam ras di 182 kabupaten/kota. I

 

Kirim Komentar