Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan pelaku usaha tengah menyusun rencana roadmap hilirisasi aluminium nasional.
Maka dari itu, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Fasiol Riza menerima audiensi dari PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), produsen alumunium terpadu yang memaparkan rencana penyusunan roadmap hilirisasi aluminium nasional.
“Saya menilai langkah ini sebagai sinyal positif bagi keberlanjutan industri nasional, khususnya dalam upaya memperkuat struktur industri dan meningkatkan daya saing alumunium Indonesia di tingkat global,” jelasnya.
Menurut Wamenperin Riza, roadmap hilirisasi alumunium yang siap mendongkrak daya saing nasional ini akan ditopang oleh pengembangan fasilitas produksi Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II dan pembangunan smelter yang dijadwalkan segera dimulai dalam waktu dekat.
Maka dari itu, dia menambahkan, hilirisasi alumunium dipercepat menuju Indonesia industrial powerhouse.
“Saya menilai langkah ini sebagai sinyal positif bagi keberlanjutan industri nasional, khususnya dalam upaya memperkuat struktur industri dan meningkatkan daya saing alumunium Indonesia di tingkat global,” ujar Wamenperin Riza.
Sejalan dengan itu, Kemenperin juga akan terus berupaya memenuhi kebutuhan energi bagi pelaku industri guna menjamin kelancaran proses produksi.
“Melalui langkah – langkah tersebut, kami optimistis pengiatan industri alumunim nasional dapat terwujud secara terintegrais, dari hulu hingga hilir, sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah dan daya saing industri dalam negeri,” kata Wamenpeirn Riza.
Pada tahun 2025, produksi aluminium nasional Indonesia menunjukkan tren positif dengan Inalum mencetak rekor produksi tertinggi mencapai 280.082 ton sepanjang tahun, meningkat dari tahun 2024.
Total output smelter aluminium primer nasional mencapai 352.000 ton dengan utilisasi mendekati 91% hingga pertengahan tahun.
Kebutuhan domestik masih tinggi, mendorong target kapasitas produksi yang lebih besar ke depannya.
Mengenai Inalum pada tahun 2025, mencapai All-Time High dengan produksi 280.082 ton dan menargetkan menguasai 48% pasar domestik (sekitar 472.000 ton kebutuhan).
Sementara itu, total nasional untuk smelter aluminium menghasilkan 352.000 ton aluminium primer hingga pertengahan tahun 2025, dengan produksi alumina mencapai 2,01 juta ton.
Pada tahun 2025, kapasitas produksi aluminium primer Indonesia diperkirakan sekitar 500.000 ton per tahun hingga 700.000 ton per tahun, dengan target pengembangan mencapai 2 juta ton sampai dengan 3 juta ton per tahun dalam lima tahun mendatang untuk mengurangi ketergantungan impor.
Proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat menjadi fokus untuk memperkuat pasokan bahan baku dalam negeri.
Produksi ini didukung oleh harga aluminium global yang cenderung stabil dan meningkat, mencapai level tertinggi dalam tiga tahun pada Oktober 2025. I
