Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia berdasarkan pemutakhiran data mulai Kamis (1/10) hingga Jumat (2/10).
Sejumlah kejadian yang menjadi perhatian meliputi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, serta angin kencang.
Salah satu kejadian karhutla dilaporkan terjadi di Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku, pada Selasa (29/9), khususnya di Desa Saalas, Kecamatan Bula dan Desa Silohan, Kecamatan Bula Barat.
Kondisi cuaca panas dan tiupan angin kencang menyebabkan api dengan cepat membakar vegetasi yang mengering akibat kemarau berkepanjangan.
Berdasarkan pemutakhiran data pada Kamis (1/10), sekitar 40 hektare lahan terbakar.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Seram Bagian Timur bersama tim gabungan mengerahkan satu unit mobil pemadam untuk melakukan pemadaman dan pendinginan di lokasi kejadian. Sampai dengan Kamis (1/10), api dilaporkan telah padam.
Pada wilayah Jawa Tengah, karhutla tercatat terjadi di Kabupaten Rembang pada Rabu (30/9) pukul 11.15 WIB, tepatnya di Desa Karasgede, Kecamatan Lasem.
Kebakaran membakar kawasan rumpun bambu, lahan jati, dan lahan tebu dengan luas sekitar satu hektare.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Rembang bersama perangkat daerah lainnya melakukan pemadaman menggunakan 1 unit mobil tangki yang dilanjutkan dengan pendinginan dan penyisiran.
Upata tersebut untuk memastikan tidak terdapat titik api yang berpotensi menyala kembali. Berdasarkan laporan pada Kamis (1/10), api telah padam.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Wonogiri pada Rabu (30/9) pukul 13.05 WIB, tepatnya di kawasan hutan Petak 23 D dan 23 A yang berada di Desa Giriwono, Kecamatan Wonogiri, serta Desa Sendangijo, Kecamatan Selogiri.
Kebakaran membakar serasah, kirinyuh dan alang – alang kering dengan luas sekitar empat hektare.
BPBD Kabupaten Wonogiri bersama tim gabungan dan masyarakat setempat melakukan pemadaman. Hingga Kamis (1/10), api telah padam.
Penanganan karhutla di Jawa Tengah juga dilakukan di Kabupaten Grobogan. Kejadian berlangsung pada Kamis (1/10) pukul 13.00 WIB dan membakar lahan pertanian jagung di Dusun Juwono, Desa Karangrejo, Kecamatan Grobogan.
Luas lahan yang terbakar diperkirakan sekitar dua hektare. BPBD Kabupaten Grobogan bersama unsur terkait melakukan pemadaman dan pendinginan untuk memastikan tidak terdapat bara api atau titik panas yang dapat menyebabkan kebakaran kembali.
Pada hari yang sama, api berhasil dipadamkan dan pemantauan terhadap kondisi di lokasi kejadian masih dilakukan.
Perkembangan karhutla selanjutnya tercatat di Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, pada Kamis (1/10) sekitar pukul 14.30 WIT di Desa Kayasa dan Desa Gosale, Kecamatan Oba Utara.
Kebakaran bermula dari lahan kosong milik warga yang ditumbuhi pohon bambu dan sagu, kemudian api menyebar dengan cepat akibat tiupan angin kencang.
Diperkirakan sekitar sembilan hektare hutan dan lahan terbakar. Berdasarkan laporan pada Kamis (1/10), masih terdapat beberapa titik api dan tim TRC BPBD Provinsi Maluku Utara terus melakukan pemadaman di lokasi terdampak.
Selain karhutla, dampak musim kemarau juga terlihat di Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku, berupa kekeringan dan kekurangan air bersih.
Kondisi tersebut menyebabkan debit sumber air dan sumur warga menurun di Desa Piru, Kecamatan Seram Barat, sehingga sekitar 80 kepala keluarga terdampak. BPBD Kabupaten Seram Bagian Barat telah melakukan asesmen dan pendistribusian air bersih.
Pada Kamis (1/10), sebanyak 8.000 liter air bersih didistribusikan kepada masyarakat terdampak.
Kebutuhan air bersih juga menjadi perhatian di Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, akibat sejumlah sumber air mulai mengering selama musim kemarau.
Kondisi tersebut berdampak pada sekitar 1.327 kepala keluarga atau 4.242 jiwa di Desa Kalirejo, Kecamatan Singorojo dan Desa Kedungasri, Kecamatan Ringinarum. BPBD Kabupaten Kendal bersama unsur perangkat daerah terkait terus mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat terdampak.
Pada Kamis (1/10), BPBD Kabupaten Kendal dan PMI Kabupaten Kendal mendistribusikan 20.000 liter air bersih di Dusun Kalipuru dan Dusun Surak, Desa Kalirejo, Kecamatan Singorojo, serta bantuan CSR (KIK) sebanyak 34.000 liter di Dusun Jatigowok, Desa Kedungasri, Kecamatan Ringinarum.
Hingga Kamis (1/10), total distribusi air bersih telah mencapai 900.000 liter, termasuk dukungan dari berbagai unsur terkait.
Pada sisi lain, cuaca berupa angin kencang terjadi di Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara, pada Selasa (29/9).
Kejadian tersebut menyebabkan kerusakan pada rumah serta perahu milik warga di Desa Hiligeho Sogawu, Kecamatan Tabag Nasa.
Sekitar sembilan kepala keluarga terdampak dan sembilan unit rumah mengalami kerusakan.
BPBD Kabupaten Nias telah melakukan pendataan dan berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait untuk penanganan kerusakan rumah warga terdampak. Berdasarkan laporan pada Kamis (1/10), kondisi wilayah terdampak telah kondusif.
Pada skala penanganan yang lebih luas, upaya pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat, terus dilakukan secara terpadu.
Operasi darat, operasi udara, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilaksanakan sesuai kondisi di lapangan.
Pemadaman, pendinginan, pemantauan dan pengendalian perluasan kebakaran terus diperkuat untuk menangani titik api yang masih ditemukan di sejumlah wilayah.
Kondisi cuaca dalam beberapa hari ke depan turut menjadi perhatian dalam upaya pengendalian karhutla dan penanganan kekeringan.
Berdasarkan prediksi Curah Hujan Kumulatif Dasarian I Oktober 2026 (1 – 10 Oktober 2026) yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah diprakirakan mengalami curah hujan dominan pada kategori rendah dan menengah.
Wilayah tersebut meliputi Provinsi Aceh, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
Selain itu, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla dan kekeringan di sejumlah wilayah.
Masyarakat diharapkan tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan, segera melaporkan kepada petugas berwenang apabila menemukan titik api agar dapat segera ditangani dan mencegah api meluas, serta menggunakan air secara efisien.
Masyarakat juga diharapkan tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem dan mengikuti informasi resmi dari BNPB, BPBD, BMKG, serta pemerintah daerah setempat. I
