Ini Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air pada 28 Maret 2026

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum laporan kejadian bencana pada periode Jumat hingga Sabtu, 27 – 28 Maret 2026.

Bencana hidrometeorologi basah meliputi banjir dan angin kencang dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Pulau Jawa, sementara itu bencana hidrometeorologi kering seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di wilayah Pulau Kalimantan.

Dari Pulau Jawa bagian timur, banjir melanda empat desa, yaitu Desa Pagertanjung, Jatigedong, Gudungombo, dan Rejoagung di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur pada Rabu (25/3).

Peristiwa ini terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah hulu Sungai Marmoyo hingga menyebabkan debit air naik dan meluap ke permukiman warga.

Kondisi ini turut diperparah oleh sumbatan material sampah di jembatan setempat.

Tim kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang mendata sebanyak 60 unit rumah dan tiga akses jalan desa terdampak genangan air dengan tinggi rata – rata 40 sentimeter.

Pada Jumat (27/3), kondisi genangan mengalami penurunan.

Berikutnya di Kabupaten Pasuruan. Pemerintah daerah melalui BPBD Kabupaten Pasuruan bersama lintas instansi gabungan masih fokus dalam upaya penanganan banjir yang terjadi sejak Selasa (24/3).

Adapun kondisi per Jumat (27/3), genangan banjir di beberapa desa seperti Sadengrejo, Pandanrejo, Karangpandan, Sambirejo, Rejoso Kidul, Patuguran, dan Kawisrejo di Kecamatan Rejoso, kemudian Desa Cangkringmalang di Kecamatan Beji, serta Kecamatan Gempol, telah berangsur surut.

Wilayah lain yang meliputi Desa Jarangan, Toyaning, Kedungbako, Rejoso Lor, dan Arjosari di Kecamatan Rejoso, kemudian di Desa Kedungringin dan Kedungboto di Kecamatan Beji, serta Desa Prodo, Winongan Lor, Winongan Kidul,serta Bandaran di Kecamatan Winongan masih terpantau adanya genangan dengan ketinggian antara 10 sentimeter (cm) hingga 80 cm.

Demi mendukung upaya percepatan penanganan darurat banjir di Pasuruan, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto telah hadir di lokasi untuk melihat kondisi lapangan, mengkaji kebutuhan yang diperlukan dan berkoordinasi dengan forkopimda setempat pada Jumat (27/3).

Menurut Kepala BNPB, banjir yang menjadi langganan tiap tahun itu harus mendapatkan intervensi dari lintas kementerian/lembaga baik pusat maupun daerah.

BNPB akan mencatat segala kebutuhan yang diperlukan mulai fase percepatan penanganan darurat hingga upaya mitigasi ke depannya agar bencana serupa tidak terulang atau paling tidak dapat diminimalisir dampaknya di kemudian hari.

“BNPB akan berkoordinasi dengan kementerian lembaga terkait,” ujar Suharyanto, Jumat (26/3).

Bergeser ke wilayah Pulau Jawa bagian tengah, hujan dengan intensitas tinggi pada akhir dasarian tiga bulan Maret 2026 telah memicu kejadian banjir di beberapa kabupaten/kota.

Hasil dari perkembangan penanganan darurat atas bencana banjir Kabupaten Brebes, sejak Rabu (25/3), genangan di delapan desa wilayah Kecamatan Ketanggungan mulai berangsur surut per hari ini.

Sebagian pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing untuk pembersihan tempat tinggal pascabanjir dibantu pihak BPBD Kabupaten Brebes bersama unsur TNI, Polri, Pemadam Kebakaran dan relawan.

Selain itu, dukungan pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga terdampak masih terus dilakukan oleh BPBD dan Dinas Sosial Kabupaten Brebes.

Di sisi lain, beberapa lintas instansi, seperti Polri, TNI dan Dinas Perhubungan, juga bersiaga di titik rawan banjir, khususnya di akses utama wilayah Ketanggungan – Pejagan, sebagai jalur utama lintas selatan pada momentum arus mudik – balik Idulfitri 1447 Hijriah, yang sebelumnya terdampak banjir dan menghambat lalu lintas.

Bergeser di wilayah timur, dari Kabupaten Pemalang, Sungai Comal meluap akibat hujan lebat yang terjadi pada Kamis (26/3) sekitar pukul 03.00 WIB.

Fenomena ini menyebabkan 16 desa di empat kecamatan tergenang banjir dengan tinggi muka air berkisar antara 30 sentimeter (cm) hingga 80 cm.

Adapun kecamatan terdampak adalah Kecamatan Comal, Ampelgading, Ulujami, dan Patarukan.

Hasil kaji cepat sementara BPBD Kabupaten Pemalang, sebanyak 23.154 jiwa dan 6.727 unit rumah terdampak. Sehari setelah kejadian atau pada Jumat (27/3), BPBD setempat melaporkan ketinggian genangan berangsur turun antara 10 cm hingga 20 cm. Debit sungai Comal juga mengalami penurunan.

Selain banjir, tujuh desa di Kecamatan Pulosari dan Watukumpul, Kabupaten Pemalang terdampak tanah longsor.

Sedikitnya enam kepala keluarga terdampak atas kejadian ini. Longsor juga berdampak pada dua unit jalan desa dan dua talud jebol.

Secara pararel, dampak banjir maupun longsor sudah dalam penanganan oleh BPBD Kabupaten Pemalang bersama lintas unsur pemerintah daerah setempat.

Bantuan logistik permakanan telah didistribusikan kepada warga terdampak longsor.

Beralih ke Kabupaten Grobogan, tiga wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Purwodadi, Karangayung dan Tegowanu, dilanda banjir pada Kamis (26/3).

Bencana ini disebabkan oleh luapan air dari drainase yang tersumbat dan tidak dapat menampung debit air setelah hujan dengan intensitas tinggi turun selama lebih dari empat jam.

Tinggi muka air terpantau antara 10 cm hingga – 50 cm. Sebanyak 150 Kepala Keluarga (KK) terdampak peristiwa ini. Kerugian material terdata antara lain dua hektare lahan pertanian dan satu fasilitas pendidikan terdampak.

Hingga Jumat (27/3), BPBD Kabupaten Grobogan melaporkan genangan air di Kecamatan Purwodadi dan Kecamatan Karangayung telah surut, sedangkan di Kecamatan Tegowaru, beberapa rumah masih tergenang air dengan ketinggian antara 10 cm sampai dengan 50 cm.

Selanjutnya di wilayah barat Kabupaten Grobogan, banjir terjadi di Desa Botosengon, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak, Jumat (27/3).

Bencana ini terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut hingga menyebabkan air sungai meluap.

Ketinggian air di ruas jalan antar desa dan kecamatan antara 10 cm hingga 40 cm, sedangkan ketinggian air di permukiman warga antara 5 cm sampai dengan 30 cm.

Atas bencana ini, warga yang terdampak mencapai 300 jiwa, termasuk 27 unit rumah.

BPBD Kabupaten Demak telah melakukan kaji cepat dan pengumpulan data (asesmen) termasuk memberikan dukungan bagi warga.

Meskipun sebagian wilayah di Indonesia masih mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi, sebagian wilayah Indonesia lainnya mulai mengalami cuaca terik dan hari tanpa hujan.

Di Provinsi Kalimantan, bencana karhutla melanda beberapa daerah. Di Kalimantan Tengah, 11 kabupaten dan satu kota dilanda karhutla sejak bulan Januari 2026. Total luasan lahan terbakar per 27 Maret 2026 mencapai 357,69 hektare.

 

Sementara itu, di Kalimantan Barat, terjadi kebakaran hutan dan lahan sejak 1 Januari 2026 sampai dengan 27 Maret 2026 dengan total luas lahan terbakar mencapai 671,933 hektare. Titik karhutla berada di 12 kabupaten dan dua kota.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah di Indonesia akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal, yaitu pada sekitar April 2026. Meskipun demikian di beberapa wilayah mulai terjadi peralihan musim.

Adapun wilayah yang diprakirakan mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian Selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku hingga sebagian wilayah Papua.

BNPB mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi selama fase peralihan musim seperti angin kencang, hujan ekstrim, puting beliung, banjir dan gelombang tinggi.

Di sisi lain, BNPB juga berharap agar masyarakat tidak lengah dengan potensi risiko bencana hidrometeorologi kering, seperti karhutla dan kekeringan.

Sebagai upaya pencegahan, warga diimbau untuk tidak membakar sampah tanpa pantauan langsung, membuka lahan secara sengaja dengan pembakaran dan memastikan padamnya bara saat membuang putung rokok.

Masyarakat diharapkan menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, obat – obatan, kebutuhan makanan sementara, pakaian, alat penerangan, pengisi daya, termasuk kebutuhan darurat lainnya sebagai langkah kesiapsiagaan.

Jajaran BMKG diharapkan senantiasa memantau perkembangan informasi prakiraan cuaca dan wilayah rawan bencana dari aplikasi InaRisk BNPB termasuk sosial media, serta laman resmi, seperti BNPB, BPBD dan BMKG. I

 

 

Kirim Komentar