Upaya pemerintah menjaga stabilitas harga beras melalui penguatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan berbagai program intervensi terbukti mampu meredam tekanan inflasi beras di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi beras pada Juni 2026 secara tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 3,98%.
Angka ini mulai melandai 0,57% lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 4,55%.
Sementara itu, secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi beras tercatat 0,45%, masih berada di bawah level 1%, sehingga mencerminkan pergerakan harga yang relatif terkendali.
“Di tingkat eceran terjadi inflasi (beras) secara month to month sebesar 0,45% dan secara year on year terjadi inflasi di tingkat eceran sebesar 3,98%,” jelas Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta.
Secara historis, inflasi beras secara tahunan di Juni 2026 juga masih jauh lebih rendah dibandingkan kondisi Juni 2024 yang sempat mencapai 11,88% dan hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan Juni 2025 yang berada pada level 3,38%.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga beras semakin terkendali dibandingkan periode dua tahun sebelumnya.
BPS pun mencatat inflasi beras secara bulanan di Juni 2026 masih lebih stabil dibandingkan inflasi bawang merah dan bawang putih.
Bawang merah mengalami inflasi 6,52% dengan andil 0,04%. Sementara itu, inflasi bawang putih 6,88% dengan andil 0,03%.
Andil beras terhadap inflasi secara bulanan di Juni 2026 hanya 0,02%.
Mengenai inflasi beras secara bulanan di Juni 2026 dengan 0,45% dapat pula menandakan tren harga beras di tingkat konsumen yang masih bergerak stabil.
Hal ini karena tingkat inflasi beras secara bulanan belum pernah melebihi level 1% sejak Desember 2025.
Kala itu, inflasi beras Desember 2025 mulai bergerak positif setelah mengalami deflasi yang cukup dalam dengan 0,59% pada November 2025.
Desember 2025 berada di 0,18%. Lalu, Januari sampai Juni 2026 secara berurutan antara lain 0,16%, 0,43%, 0,65%, 0,58%, 0,38%, dan terakhir di 0,45%.
“Untuk harga beras medium secara month to month naik 0,92% dan secara year on year, yaitu pada bulan Juni tahun 2026 dibandingkan dengan tahun sebelumnya, naik 5,10%,” tutur Deputi BPS Ateng.
Deviasi rerata harga beras medium juga tidak jauh berbeda dari pemantauan Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Meskipun rerata harga beras medium mengalami fluktuasi, tetapi masih dalam koridor Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium yang terbagi ke dalam tiga zonasi sesuai ketetapan pemerintah.
Per 1 Juli 2026, rerata harga beras medium di Zona I (Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi) berada di Rp13.098 per kilogram (kg) dengan HET beras medium Zona I adalah Rp 13.500per kg.
Level harga tersebut mengalami fluktuasi 0,10% dibandingkan sebulan sebelumnya yang berada di Rp13.085 per kg.
Untuk Zona II (Sumatra selain Lampung dan Sumsel, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan), rerata harga 1 Juli 2026 di Rp13.722 per kg dengan HET Rp14.000 per kg.
Sementara itu, jika dibandingkan sebulan sebelumnya hanya mengalami fluktuasi 0,12%, karena sebulan lalu berada di level harga Rp13.705 per kg.
Kondisi harga untuk Zona III (Maluku, Papua), rerata harga beras medium per 1 Juli 2026 tercatat di Rp15.397 per kg dengan HET Rp15.500 per kg.
Ini berfluktuasi hingga 1,06%, karena pada sebulan sebelumnya berada di rerata harga Rp15.236 per kg.
Inflasi dan harga beras secara nasional yang masih terjaga tersebut salah satunya ditopang oleh penggelontoran stok CBP yang bersumber dari hasil serapan produksi beras dalam negeri.
Pemerintah pun optimis stok CBP dapat semakin diperkuat sebagai instrumen penjaga harga beras bagi masyarakat.
Dalam catatan Bapanas, sejak Januari sampai Juni 2026, total intervensi CBP secara nasional telah menyentuh 1,34 juta ton melalui Perum Bulog.
Ini terdiri dari realisasi penjualan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Januari dan Februari yang 221.050 ton. Kemudian, SPHP beras Maret sampai Juni yang 406.500 ton.
Mengenai program bantuan pangan alokasi Februari dan Maret telah difinalkan sampai akhir Juni.
Realisasinya telah mencapai 33,14 juta keluarga penerima manfaat dengan total beras tersalurkan sebanyak 662.860 ton.
Selebihnya CBP disalurkan untuk program golongan anggaran ASN di wilayah tertentu 40.720 ton dan bencana alam 11.370 ton.
“Stok kita hari ini tertinggi sepanjang sejarah, selama kita merdeka. Ini stoknya hari ini 5,1 juta ton. FAO baru mengeluarkan pengumuman, justru produksi kita melompat, estimasi di 2026 itu 38 juta ton,” ungkap Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat menerima penghargaan Wredatama Nugraha Utama dari Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kementerian Pertanian.
Menurutnya, dalam kalkulasinya, jika total produksi beras setahun masih di kisaran 34 juta ton seperti tahun 2025, berarti ada surplus produksi terhadap tahun 2024 sekitar 4 juta ton.
Surplus 4 juta ton tersebut, dia menambahkan, dapat berulang jika produksi beras di 2026 masih di kisaran 34 juta ton, tetapi jika produksi 2026 berhasil sentuh 38 juta ton, maka surplus produksi dapat semakin meninggi.
“Kalau ini terjadi prediksi FAO, artinya 8 juta ton surplus tambah 4 juta, itu bisa sampai 13 juta ton, sehingga kita bangun gudang cepat. Ada 100 gudang. Anggarannya Rp5 triliun dan gudang yang bisa menyimpan dua sampai tiga tahun beras,” jelas Amran. I
