Kementan Percepat Hilirisasi Pertanian untuk Pengembangan Biofuel dan Bioetanol

Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat hilirisasi sektor pertanian melalui penguatan biofuel dan bioetanol sebagai langkah strategis menuju kemandirian energi nasional.

Hal ini sebagai bentuk tindak lanjut sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto dalam menghadapi dinamika geopolitik global.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, percepatan hilirisasi menjadi fokus utama pemerintah dalam mendorong energi berbasis sumber daya dalam negeri.

“Pada saat kita rapat minggu lalu sebelum Presiden bertolak ke Jepang dan Korea Selatan, beliau sampaikan kita melakukan akselerasi hilirisasi. Pertama, untuk sektor pertanian hilirisasi biofuel di saat kondisi geopolitik yang memanas, kita butuh langkah cepat,” katanya usai rapat hilirisasi bersama BUMN Pangan di Kantor Pusat Kementan, Jakarta.

Menurut Mentan, setelah sektor pangan dinilai kuat, pemerintah kini mengarahkan langkah pada kemandirian energi melalui biofuel dan bioetanol.

“Pangan selesai. Jadi alhamdulillah bulan suci Ramadan bukan harga beras yang menjadi penyumbang inflasi. Kedua adalah janji Bapak Presiden bahwa kita menyetop impor solar digantikan oleh biofuel sawit B50. Itu 5,3 juta ton,” ungkapnya.

Selain biofuel, Kementan juga mendorong pengembangan bioetanol sebagai sumber energi baru berbasis pertanian melalui program E20.

“Yang ketiga, mimpi kita E20. Apa itu E20? Etanol dan campuran bensin. Dari mana? Jagung, ubi kayu dan tebu. Semua bisa tumbuh di Indonesia,” jelasnya.

Dia menambahkan, Indonesia memiliki potensi bahan baku bioetanol yang besar, termasuk dari produk samping industri gula.

“Bahan baku kita yang kita ekspor itu ada 1 juta ton. Itu molase, tetes. Ini bisa dijadikan etanol,” ujarnya.

Maka dari itu, Mentan Amran menekankan pentingnya kerja bersama dalam mewujudkan ketahanan pangan sekaligus energi.

“Artinya ke depan bagaimana kita mandiri energi, mandiri pangan. Ini kita lakukan bersama-sama, kita bergerak bersama – sama,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menambahkan, sektor pertanian kini berperan strategis dalam mendukung transisi menuju kemandirian energi nasional.

“Swasembada pangan sudah kita raih dan Insyaallah kita akan bergeser. Salah satunya adalah kemandirian energi, di mana pertanian menyumbang dari sisi bioenerginya,” kata Sudaryono.

Guna mempercepat implementasi, Kementan memperkuat kolaborasi dengan BUMN pangan sebagai motor penggerak hilirisasi di lapangan.

Wakil Ketua Badan Pengaturan BUMN Tedi Bharata mengungkapkan dukungannya terhadap akselerasi hilirisasi pertanian untuk mendukung kemandirian energi.

”Kita sudah berkoordinasi rapat dengan Mentan terkait tindak lanjut arahan Presiden bahwa BUMN memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Kementerian Pertanian sebagai pembina sektor. Kita akan unlock beberapa potensi yang kita bisa lakukan di beberapa BUMN untuk memastikan kita menjadi lebih mandiri, lebih independen,” ungkapnya.

Dengan akselerasi biofuel dan bioetanol ini, pemerintah menargetkan kemandirian energi berbasis pertanian, sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri dan kesejahteraan petani.

Melalui sinergi Kementerian Pertanian, BUMN dan seluruh pemangku kepentingan, program hilirisasi diharapkan berjalan cepat dan tepat sasaran, sehingga Indonesia semakin tangguh menghadapi dinamika global. I

 

 

Kirim Komentar