Kementerian LH Satukan Aksi Pulihkan Ekosistem Danau Toba

Penguatan kolaborasi lintas sektor dan lintas iman menjadi landasan utama bagi Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) dalam memulihkan lingkungan melalui perubahan perilaku, serta aksi nyata yang berdampak langsung bagi ekosistem dan kesejahteraan warga.

Pendekatan tersebut dikemukakan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat, dalam rangkaian kunjungan kerja di kawasan Danau Toba, Sumatra Utara, yang meliputi penanaman pohon endemik, penebaran ikan endemik, kampanye penggunaan kendaraan listrik hingga peresmian stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).

​Rangkaian agenda strategis ini sebagai langkah terpadu untuk membangun ekosistem rendah karbon, sekaligus merawat kelestarian kawasan Danau Toba secara berkelanjutan.

“Lingkungan, budaya, masyarakat adat dan nilai – nilai agama saling berkaitan erat dalam menjaga bumi sebagai ruang hidup bersama. Kita harus merawatnya melalui aksi nyata yang melibatkan seluruh elemen bangsa,” kata Menteri Jumhur.

​​Dalam forum dialog bersama tokoh agama, masyarakat, dan berbagai komunitas di kawasan Danau Toba, dia menjelaskan, esensi dari Tobat Ekologis.

Konsep ini merupakan panggilan moral bagi individu, kelompok, organisasi, korporasi dan pemerintah untuk mengakui kekeliruan terhadap lingkungan di masa lalu, serta mengambil langkah korektif sesuai porsi tanggung jawab masing – masing.

​Pada tingkat individu, perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mengelola sampah dengan bijak, menekan penggunaan plastik sekali pakai dan menghemat energi.

Sementara itu, bagi korporasi yang kegiatan operasionalnya meninggalkan jejak ekologis, kewajiban pemulihan lingkungan mutlak ditunaikan secara substantif dan bukan sekadar gugur kewajiban.

KLH/BPLH berkomitmen untuk terus memperketat regulasi dan pengawasan di lapangan.

​”Kepedulian moral perlu berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap peraturan dan penegakan hukum. Tobat Ekologis bukanlah pengganti kewajiban hukum, melainkan dorongan moral untuk memperbaiki perilaku dan memulihkan kerusakan secara nyata,” tutur Menteri Jumhur.

​​Dalam agenda peninjauan di kawasan Taman Eden, dia menyaksikan langsung aksi penanaman pohon endemik yang dimotori oleh komunitas lokal bekerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN Persero), disertai komitmen penanaman lanjutan di lingkungan sekolah.

Apresiasi khusus diberikan atas komitmen komunitas yang menjamin perawatan dan penyulaman tanaman selama satu tahun penuh.

​Menteri Jumhur menilai kolaborasi partisipatif seperti ini patut direplikasi oleh korporasi lainnya. “Mitigasi perubahan iklim dan pemulihan bentang alam harus dimulai dari aksi akar rumput yang terukur dan terpelihara dengan baik.”

​Pada saat bersamaan, dilakukan pula penebaran (restocking) ikan endemik Danau Toba guna memulihkan populasi hayati perairan.

Langkah ini menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem danau agar fungsi ekologis dan manfaat ekonominya dapat terus dirasakan oleh masyarakat setempat.

​​Komitmen merawat bumi dalam bingkai spiritualitas dan kebudayaan lokal turut dikukuhkan melalui penandatanganan prasasti Monumen Aksi Profetis Yubileum 800 Tahun St. Fransiskus Assisi di Dolok Parmonangan.

Monumen ini merupakan buah kolaborasi bersama Yayasan Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Ordo Kapusin Provinsi Medan serta masyarakat Danau Toba, yang mengangkat semangat pelestarian alam selaras dengan kearifan budaya.

​Pesan yang diabadikan pada prasasti tersebut mengutip seruan St. Fransiskus Assisi “Marilah kita mulai sekali lagi, sebab sampai saat ini, kita belum berbuat apa-apa.”

Penggalan kalimat ini menjadi pengingat abadi bahwa kecintaan pada bumi harus diterjemahkan dalam kerja kolektif yang konsisten.

​Rangkaian kunjungan ini turut diwarnai dengan touring kendaraan listrik guna mengampanyekan transisi energi bersih dan peresmian fasilitas SPKLU.

Menteri Jumhur menilai bahwa adopsi kendaraan listrik dan rehabilitasi ekosistem hutan merupakan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan dalam arsitektur pembangunan hijau nasional.

​Melalui sinergi lintas sektor dan lintas iman yang terpadu, KLH/BPLH optimistis bahwa ikhtiar pelestarian Danau Toba akan bertransformasi menjadi budaya pemeliharaan ekosistem yang mengakar, memperkuat ketahanan lingkungan hidup dan menjamin warisan alam yang lestari. I

 

Kirim Komentar