Kementerian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) mendorong lulusan perguruan tinggi untuk berwirausaha setelah lulus kuliah.
“Di Indonesia, sekitar 57,8% atau 85,3 juta penduduk saat ini masih bergerak di sektor informal dan 7,2 juta jiwa masih menganggur di tingkat nasional,” kata Wakil Menteri (Wamen) UMKM Helvi Yuni Moraza pada Bursa Wirausaha Unggulan 2026 yang digelar Kementerian UMKM di Muladi Dome, Universitas Diponegoro (Undip), Semarang.
Setiap tahun, perguruan tinggi memproduksi lulusan dan menerima mahasiswa baru, sedangkan ketersediaan lapangan kerja tidak sebanding.
Dia mencontohkan, Jateng saat ini menghadapi beban 960.000 pengangguran dari total populasi 38,5 juta penduduk.
“Sementara itu, di wilayah ini terdapat 241 perguruan tinggi yang melahirkan sekitar 105.000 lulusan baru setiap tahun dan 678.000 mahasiswa aktif,” katanya.
Oleh karena itu, lanjutnya, surplus lulusan perguruan tinggi tersebut tidak boleh dibiarkan menjadi generasi yang tidak produktif.
Bahkan, Wamen Helvi khawatir apabila tidak dilakukan fasilitasi, maka surplus lulusan tersebut akan cenderung berpotensi menjadi destruktif.
“Kita harus mengarahkan mereka untuk mengambil peran strategis. Sebagai wirausaha produktif sehingga dapat menciptakan rantai ekonomi yang baru,” jelasnya.
Dia mengapresiasi para lulusan ataupun mereka yang sejak mahasiswa sudah menjadi wirausaha, sebab mereka telah membantu pemerintah.
“Ketika adik – adik yang memilih sebagai pelaku UMKM, paling tidak membantu pemerintah dalam dua hal sekaligus, yakni pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja baru,” tuturnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM M. Riza Damanik menambahkan bahwa Bursa Wirausaha Unggulan adalah rangkaian dari proses panjang.
Sebelumnya, katanya, ada proses inkubasi yang dilakukan oleh lembaga – lembaga inkubator, pendampingan – pendampingan yang dilakukan oleh perguruan – perguruan tinggi.
“Alhamdulillah ini adalah proses graduasinya, sehingga program ini kita harapkan bisa melahirkan lapangan pekerjaan yang berkualitas, bisa melahirkan usaha mikro, kecil dan menengah yang lebih produktif, yang lebih bisa menyejahterakan,” tuturnya.
Ajang tersebut menjadi ruang pertemuan antara wirausaha muda, pelaku UMKM, lembaga inkubator kampus dan pemerintah untuk memperluas jejaring, serta akses pasar.
Bursa Wirausaha Unggulan sebelumnya sudah dilakukan di Universitas Udayana, Universitas Hasanuddin, Universitas Sumatra Utara dan di DKI Jakarta yang melibatkan 19 perguruan tinggi. I
