Kontrak Cetak Sawah Rakyat 101.000 Hektare Harus Tuntas dalam Sebulan

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya percepatan program Cetak Sawah Rakyat (CSR) sebagai langkah strategis memperkuat swasembada pangan nasional.

Dia secara khusus meminta seluruh jajaran, termasuk TNI untuk mengakselerasi penyelesaian kontrak cetak sawah seluas 101.503 hektare dalam satu bulan ke depan.

“Waktunya tinggal satu bulan. Target kontrak cetak sawah 101.000 hektare harus diselesaikan. Saya minta seluruh jajaran, termasuk TNI, bergerak cepat dan bekerja total. Ini penentu,” katanya dalam Rapat Koordinasi Pelaksana Swakelola Cetak Sawah di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan).
Percepatan tersebut mencakup sejumlah provinsi prioritas, yakni Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Papua Selatan (Merauke), Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Papua Barat Daya, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Jambi, Bengkulu, Kalimantan Barat, Riau, dan Kalimantan Utara.
Mentan menekankan bahwa keterlibatan TNI dalam program cetak sawah merupakan bagian dari kolaborasi strategis lintas sektor dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global.
Kondisi iklim dunia yang semakin tidak menentu, lanjutnya, termasuk potensi El Nino menjadi alasan utama percepatan perlu dilakukan.
“Kondisi iklim ekstrem bukan lagi pilihan, ini kewajiban kita untuk bersiap. Kalau pangan bermasalah, negara bermasalah. Karena itu TNI, pemerintah daerah, dan seluruh jajaran harus turun tangan. Ini perintah strategis untuk menjaga kedaulatan pangan,” tuturnya.
Mentan mengingatkan pengalaman krisis pangan global saat El Nino 2023 – 2024, ketika sejumlah negara membatasi ekspor beras.
Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk besar, tidak boleh bergantung pada impor.
Oleh karena itu, perluasan areal tanam melalui cetak sawah baru menjadi salah satu kunci penguatan produksi nasional.
Mentan juga menyampaikan apresiasi atas capaian swasembada yang berhasil dipercepat dari target empat tahun menjadi satu tahun melalui kolaborasi pemerintah pusat, daerah, TNI, Polri, dan dukungan petani, serta penyuluh pertanian lapangan (PPL).
“Tidak ada keberhasilan yang berdiri sendiri. Ini kerja kolaboratif. Babinsa, PPL, Kepala Dinas, Gubernur, Bupati, semua terlibat. Karena itu saya minta semangat yang sama untuk menyelesaikan target cetak sawah ini,” jelasnya.
Mentan menambahkan, keberhasilan Indonesia menjaga produksi dan menekan impor telah berkontribusi terhadap stabilitas harga pangan global.
“Penurunan harga beras dunia, menurutnya, tidak terlepas dari kebijakan penguatan produksi dalam negeri,” tegasnya.
Namun, dia mengingatkan agar seluruh jajaran tidak lengah. Target penyelesaian kontrak cetak sawah hingga Maret 2026 harus menjadi prioritas bersama, dengan memaksimalkan seluruh sumber daya yang ada.
“Saya mohon ini diselesaikan dengan baik. Gerakkan semua kekuatan di lapangan. Nama Indonesia sudah baik di mata dunia, jangan ada celah. Satu bulan ini harus kita tuntaskan,” ungkapnya.
Mentan Amran juga menyampaikan salam dan apresiasi Presiden kepada seluruh jajaran TNI hingga tingkat bawah yang terlibat dalam program percepatan swasembada pangan.
Dia optimistis, dengan sinergi yang kuat, Indonesia tidak hanya mampu mempertahankan swasembada, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai negara yang berkontribusi pada ketahanan pangan dunia. I
Kirim Komentar