Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghimpun kejadian dan penanganan bencana yang dilakukan pemerintah daerah pada periode Sabtu (28/2) pukul 07.00 WIB hingga Minggu (1/3) pukul 07.00 WIB.
Memasuki awal bulan Maret ini, berbagai bencana seperti kebakaran hutan dan lahan, angin kencang, serta banjir tetap menjadi perhatian bersama, sehingga upaya mitigasi dan koordinasi penanganan di berbagai daerah terus ditingkatkan.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di wilayah Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah pada Sabtu, (28/2) sekitar pukul 16.00 Wita.
Peristiwa ini berlokasi di Kecamatan Parigi Barat, tepatnya di Desa Lobu Mandiri. Hingga saat ini, penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan.
Berdasarkan data yang dihimpun, tidak terdapat korban jiwa dalam kejadian ini.
Namun demikian, luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar dua hektare. Kerugian material masih dalam tahap pendataan oleh pihak terkait.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong telah berkoordinasi dengan unsur kecamatan, pemerintah desa dan masyarakat setempat guna melakukan penanganan awal dan pendataan di lokasi terdampak.
Penanganan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai pihak untuk mengendalikan penyebaran api.
Adapun kondisi terkini, api di beberapa titik belum berhasil dipadamkan. Hal ini disebabkan akses menuju lokasi kebakaran yang sulit dijangkau kendaraan, sehingga tim harus berjalan kaki untuk mencapai titik api.
Upaya pemadaman dan pengendalian masih terus dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi medan dan keselamatan petugas.
Selain bencana kebakaran hutan, cuaca ekstrem juga memberikan dampak signifikan di wilayah lain, seperti Kota Binjai, Provinsi Sumatra Utara.
Peristiwa ini terjadi pada Jumat, (27/2)sekitar pukul 17.00 WIB, dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang, sehingga mengakibatkan kerusakan di sejumlah wilayah kota.
Wilayah terdampak mencakup lima kecamatan, yaitu Binjai Kota (Kelurahan Kampung Binjai dan Tangsi), serta Binjai Timur (Kelurahan Dataran Tinggi, Timbang Langkat, dan Mencirim).
Selain itu, Binjai Selatan (Kelurahan Rambung Barat dan Rambung Dalam), Binjai Utara (Kelurahan Cengkeh Turi), serta Binjai Barat (Kelurahan Limau Sundai).
Sebanyak sekitar 22 Kepala Keluarga (KK) terdampak dalam peristiwa ini dan masih dalam proses pendataan oleh petugas di lapangan.
Dari sisi kerugian material, tercatat sekitar 22 unit rumah terdampak dengan rincian 3 unit mengalami kerusakan berat, 13 unit rusak sedang dan enam unit rusak ringan.
Selain itu, satu unit fasilitas ibadah juga terdampak. Pendataan kerusakan masih terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan penanganan dan bantuan bagi warga terdampak.
BPBD Kota Binjai telah melakukan berbagai langkah penanganan, antara lain melakukan assessment di lokasi kejadian, berkoordinasi dengan pihak kelurahan dan kecamatan untuk pembaruan data pascabencana, serta melakukan evakuasi pohon tumbang.
Koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Kesehatan Kota Binjai guna menyiapkan layanan kesehatan dan bantuan obat – obatan apabila diperlukan oleh masyarakat.
Selain itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk disampaikan kepada masyarakat sebagai langkah antisipasi.
Hingga kini, kondisi di lokasi terdampak masih dalam tahap assessment lanjutan. Upaya penanganan terus dilakukan dengan melibatkan BPBD Kota Binjai dan masyarakat setempat guna memastikan keselamatan warga serta percepatan pemulihan pascabencana.
Tidak hanya itu, wilayah lain seperti Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah, juga menghadapi dampak lanjutan dari curah hujan tinggi, berupa banjir yang masih dalam tahap penanganan.
Per Minggu, (1/3) pukul 00.05 WIB, tercatat lima desa di satu kecamatan masih tergenang, sedangkan tujuh desa di tiga kecamatan lainnya telah berangsur surut.
Genangan masih terjadi di Kecamatan Sayung dengan ketinggian air berkisar 10 sentimeter (cm) hingga 50 cm.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh karakter wilayah yang berupa cekungan dan tingginya air rob, sehingga aliran air menuju Sungai Dombo belum optimal dan masih menggenangi permukiman warga, serta akses jalan.
Penanganan infrastruktur terus dilakukan, khususnya pada tanggul jebol Sungai Cabean.
Hingga saat ini, progres penutupan tanggul mencapai sekitar 70% pada titik kiri dan 80% pada titik kanan, yang masih dalam proses penguatan.
Sementara itu, penanganan tanggul Sungai Tuntang di beberapa titik masih tertunda sementara, karena debit air yang masih tinggi, meskipun sebagian titik telah berhasil ditutup dan diperkuat.
Upaya lanjutan yang masih dilakukan meliputi penguatan tanggul, normalisasi saluran sekunder, pemasangan jaring penahan sampah di Sipon Gajah dan pembersihan saluran dengan menggunakan alat berat.
Seluruh kegiatan penanganan dikoordinasikan melalui Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Banjir guna mempercepat pemulihan wilayah terdampak.
Banjir ini merupakan kejadian yang telah berlangsung sejak Senin, (16/2) pukul 03.30 WIB, dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan Sungai Cabean meluap ke permukiman warga dan akses jalan.
BNPB menghimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi bencana, mengikuti arahan pemerintah daerah, dan segera melaporkan kejadian bencana melalui saluran resmi agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.
Masyarakat juga diimbau untuk mempersiapkan perlengkapan darurat dan menjaga keselamatan diri, serta keluarga. I
