Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Laporan kejadian bencana yang berhasil dihimpun sejak Jumat (13/3) hingga Sabtu (14/3) pukul 07.00 WIB adalah sebagai berikut.
Kejadian pertama dilaporkan banjir terjadi terjadi di Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara pada Kamis (12/3). Lokasi terdampak berada di Desa Waisaka Kecamatan Mangoli Utara Timur.
Sedikitnya 35 unit rumah mengalami kerusakan dan satu unit jembatan dilaporkan ambruk.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Sula segera terjun ke lokasi kejadian usai mendapatkan laporan. Kondisi terkini per Jumat (13/3) banjir sudah surut.
Kejadian serupa juga terjadi di Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat. Banjir dilaporkan terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi terjadi pada Kamis (13/3), sekitar pukul 17.00 Wita.
Limpasan air berdampak hingga dua lokasi yakni Kecamatan Palibelo dan Kecamatan Wera.
Sedikitnya 587 jiwa terdampak dan 165 unit rumah turut tergenang. Banjir juga berdampak pada satu fasilitas ibadah, satu fasilitas umum dan tiga akses jalan. Kaji cepat sementara dilaporkan banjir sudah surut.
Beralih ke Provinsi Nusa Tenggara Timur, wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan mengalami banjir akibat luapan sungai Nunusunu.
Luapan sungai ini berdampak di Desa Toineke, Tuafanu dan Kiufatu Kecamatan Kualin.
Kaji cepat sementara dilaporkan 430 rumah tergenang dan 1582 jiwa terdampak. Berdasarkan pantauan visual per Jumat (13/3) kondisi sungai sudah normal kembali.
Selain banjir, kejadian angin kencang juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung.
Fenomena ini terjadi pada Selasa (10/3) saat hujan intensitas tinggi disertai angin kencang menerjang Desa Kesumadadi Kecamatan Bakri.
Sebanyak 21 unit rumah rusak dengan rincian 3 unit rumah rusak berat dan 18 unit rumah rusak ringan.
Sesaat setelah kejadian, tim BPBD segera menuju ke lokasi dan melakukan penanganan darurat.
Menyikapi rangkaian bencana tersebut, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap berbagai potensi ancaman bencana, khususnya bahaya hidrometeorologi basah.
Warga yang tinggal di daerah bantaran sungai juga diminta untuk rutin memantau ketinggian muka air dan memperbarui informasi cuaca dari lembaga resmi.
Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama, masyarakat diimbau untuk melakukan evakuasi mandiri dan mengetahui jalur evakuasi yang aman. I
