Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sepanjang 22 hingga 23 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, sejumlah wilayah di tanah air dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tersebar di Kabupaten Majene, Sukoharjo, Wonogiri, Kota Batu, dan Luwu Timur.
Meski demikian, bencana tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, tetapi kebakaran tersebut menghanguskan sejumlah lahan.
Kejadian pertama berada di Desa Simbang, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat, pada hari Kamis (22/10) sekitar pukul 12.00 Wita.
Kejadian tersebut berawal dari aktivitas warga yang melakukan pembersihan lahan dengan cara membakar yang kemudian api meluas ke area sekitar pembakaran.
Akibat kejadian tersebut sekitar 5 hektare lahan hangus terbakar, beruntung tidak ada korban jiwa.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majene berkoordinasi dengan instansi terkait bersama damkar dan warga setempat melakukan asesmen dan pemadaman hingga Jumat (23/10) seluruh lahan yang terbakar telah berhasil dipadamkan sepenuhnya.
Selain kejadian tersebut, pada hari yang sama Kamis (22/10) juga terjadi kebakaran lahan dan hutan di Dukuh Klile RT 02/RW 02, Desa Karangasem, Kecamatan Bulu, tepatnya di kawasan Bukit Gunung Pegat, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Sumber api dan penyebab kebakaran masih belum diketahui hingga saat ini.
Akibatnya sekitar 4 hektare lahan hangus terbakar, saluran air wisata Gunung Pegat terdampak dan satu unit warung milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang sudah lama tidak digunakan ikut terbakar, beruntung tidak ada korban jiwa.
Upaya pemadaman melibatkan perangkat Desa Karangasem, warga sekitar, IRB Kecamatan Bulu, Kasi Trantib Kecamatan Bulu, petugas pemadam kebakaran dan BPBD Kabupaten Sukoharjo, pada Jumat (23/10) api sudah berhasil dipadamkan.
Sementara itu, masih di Provinsi Jawa Tengah, pada Kamis (22/10), BPBD Kabupaten Wonogiri menerima laporan dua kejadian kebakaran lahan, yaitu di kawasan Perhutani Petak 8D RPH Cubluk BKPH Wonogiri pada pukul 13.30 WIB dan lahan kosong milik warga di Dusun Godang Kulon pada pukul 18.00 WIB yang berlokasi di Desa Keloran, Kecamatan Selogiri dan Desa Purwosari, Kecamatan Wonogiri.
Penyebab kebakaran akibat musim kemarau panjang El Nino dengan cuaca panas dan kering membuat tumbuhan lebih cepat kering dan mudah terbakar.
Peristiwa tersebut menghanguskan total sekitar 1,5 hektare lahan, beruntung tidak ada korban jiwa.
BPBD Kabupaten Wonogiri bersama Damkar Wonogiri, Polsek Wonogiri Kota, Perhutani, Relawan Keloran dan warga sekitar melakukan pemadaman, kondisi mutakhir pada Jumat (23/10) api di kedua lokasi sudah berhasil dipadamkan sepenuhnya.
Kemudian, pada hari Jumat (23/10) sekitar pukul 12.00 WIB, telah terjadi kebakaran lahan seluas sekitar 1,5 hektare di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur.
Kebakaran diduga bermula dari sisa pembakaran serasah yang ditinggalkan dalam kondisi masih menyala dan belum sepenuhnya padam, sehingga bara api merambat ke area lahan sekitarnya hingga meluas.
BPBD Kota Batu melakukan kaji cepat dan berkoordinasi dengan instansi terkait, serta bersama tim gabungan yang terdiri dari Perhutani, Polri, Mitra Perhutani, Agen Informasi Bencana Provinsi Jatim, relawan dan warga melakukan pemadaman.
Hingga Jumat (23/10) api berhasil dipadamkan dan tidak meluas ke area lain, setelah pemadaman dilakukan penyisiran dan pemantauan untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi memicu kebakaran ulang.
Pada waktu yang sama, pada Jumat (23/10) juga telah terjadi kebakaran hutan dan lahan di Desa Puncak Indah, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Akibat kejadian tersebut sekitar 10 hektare lahan hangus terbakar, beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
BPBD Kabupaten Luwu Timur berkoordinasi dengan pihak terkait dan melakukan asesmen dengan melibatkan unsur Damkar, Satpol PP, PMI Luwu Timur, PSC Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup dan masyarakat setempat untuk melakukan pemadaman. Api tersebut telah padam sepenuhnya pada sore harinya.
Sehubungan dengan rentetan kejadian karhutla tersebut, BNPB mengimbau kepada pemerintah daerah melalui BPBD, Perhutani dan aparat terkait untuk meningkatkan patroli terpadu di area rawan, memperkuat sistem deteksi dini, kesiapsiagaan personel serta peralatan pemadaman, serta memperluas sosialisasi bahaya kekeringan dan karhutla kepada masyarakat.
Kepada masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, tidak meninggalkan sisa pembakaran serasah dalam kondisi menyala, tidak membuang puntung rokok sembarangan di area lahan kering dan segera melaporkan kepada perangkat desa atau BPBD setempat apabila menemukan titik api atau kepulan asap untuk penanganan cepat agar tidak meluas. I
