Masa depan infrastruktur Indonesia tidak hanya ditentukan oleh investasi dan teknologi, tetapi juga oleh kualitas pemimpin yang mengelola dan mengawal pembangunan.
Integritas, karakter dan keberanian mengambil keputusan menjadi bekal penting untuk memastikan pembangunan memberikan manfaat sebesar – besarnya bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (Menko AHY) saat menjadi narasumber dalam program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD), dengan tema Memimpin dengan Jiwa Ksatria: Integritas, Ketangguhan, dan Visi Strategis Insan BUMN dalam Membangun Infrastruktur Indonesia Emas 2045 di Jakarta.
Di hadapan para peserta P3MD Batch 1 Angkatan Soedirman, Menko AHY menekankan, kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk menjadi pemimpin yang mampu menjawab tantangan bangsa.
Karakter, kompetensi dan kesiapan, lanjutnya, untuk mengabdi juga harus ditempa agar setiap amanah dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“IQ alone is not sufficient. Tidak cukup. Kita perlu membutuhkan karakter. Kita perlu leadership. Kita perlu menempa diri kita agar siap. Kata – kata siap itu mengandung banyak makna. Siap untuk bekerja, siap untuk berjuang, berkorban, mengabdi dan kadang – kadang harus melebihi panggilan tugas,” jelas Menko AHY.
Menurutnya, kepemimpinan tidak semata – mata diukur dari pangkat, jabatan, maupun kewenangan, melainkan dari dampak yang dihasilkan bagi masyarakat.
Prinsip ini relevan bagi insan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki tanggung jawab strategis dalam mendukung pembangunan nasional.
“Leadership should be beyond authority. Kepemimpinan tidak sekadar bicara pangkat dan jabatan. Itu semua berarti, itu semua adalah media untuk kita bisa berkarya dan memahami,” ungkap Menko AHY.
Namun, dia menambahkan, ingat leadership should be beyond authority dan tentunya harus melihat dampak yang bisa dirasakan langsung oleh negeri, Indonesia agar negaranya semakin maju, adil, serta sejahtera.
Menko AHY juga membagikan pengalaman dalam perjalanan karier dan pengabdiannya, termasuk ketika menghadapi kegagalan dan perubahan arah.
Dia mengingatkan bahwa perjalanan seorang pemimpin tidak selalu berjalan mulus dan berbagai tantangan justru dapat menjadi pelajaran berharga untuk memperkuat karakter, mengevaluasi diri dan bangkit melanjutkan pengabdian.
“Saya kalah, tapi saya tidak patah, merefleksikan pengalamannya dalam menghadapi salah satu fase penting dalam perjalanan kariernya,” tuturnya.
Menko AHY berpesan agar para calon pemimpin tidak takut menghadapi kegagalan maupun tantangan dalam menjalankan amanah.
“Jangan pernah takut gagal. Jangan pernah takut kalah. Jatuh bangun, pasang surut itu adalah miliknya manusia, milik kita semua, milik pemimpin – pemimpin besar,” ujarnya.
Lebih lanjut, Menko AHY mengajak para peserta untuk berpikir melampaui pencapaian pribadi dan masa jabatan.
Seorang pemimpin, dia menambahkan, harus mampu menyiapkan fondasi yang lebih baik bagi generasi berikutnya, termasuk melalui keputusan dan kebijakan yang memberikan manfaat jangka panjang.
“A great leader is someone who does not only prepare for the next competition, not for the next election, but someone who prepares for the next generation,” kata Menko AHY.
Pesan tersebut sejalan dengan peran Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko Infra dan PK) dalam mengoordinasikan dan menyinkronkan kebijakan pembangunan infrastruktur lintas sektor.
Sinergi antarkementerian dan lembaga menjadi penting untuk memastikan pembangunan tidak hanya menghasilkan infrastruktur yang berkualitas, tetapi juga memperkuat konektivitas, mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperluas pemerataan pembangunan di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui forum P3MD, Menko AHY menegaskan pentingnya menyiapkan generasi pemimpin yang berintegritas, tangguh dan memiliki visi strategis untuk menjawab tantangan pembangunan ke depan.
Dengan kepemimpinan yang kuat serta kolaborasi lintas sektor, Kemenko Infra dan PK terus mendorong pembangunan infrastruktur dan kewilayahan yang terintegrasi, berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045. I
