Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong penguatan hilirisasi dan daya saing industri minyak atsiri nasional.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan hal tersebut saat menjadi keynote speech kegiatan Konferensi Nasional Minyak Atsiri (KNMA) 2026 yang diselenggarakan di Hotel Trembesi BSD, Tangerang Selatan.
Kegiatan yang mengusung tema Inovasi Teknologi Budidaya dan Proses Produksi dalam Mendukung Keberlanjutan dan Daya Saing Minyak Atsiri Indonesia ini menjadi forum strategis mempertemukan pemerintah, akademisi, peneliti, asosiasi, serta pelaku industri untuk membahas peluang, tantangan dan arah pengembangan industri minyak atsiri nasional.
“Penguatan produktivitas dan kualitas bahan baku, efisiensi proses produksi, pengembangan industri hilir, serta perluasan akses pasar menjadi fokus utama dalam meningkatkan daya saing industri minyak atsiri nasional,” ujar Wamenperin Riza.
Menurutnya, melalui penyelenggaraan KNMA 2026 diharapkan terbangun sinergi dan kolaborasi yang semakin kuat antarpemangku kepentingan dalam mendorong inovasi, hilirisasi, peningkatan nilai tambah, serta keberlanjutan industri minyak atsiri nasional.
“Tantangan produk minyak atsiri Indonesia adalah nilai tambah yang dihasilkan di dalam negeri,” tegasnya.
Dia juga mendorong penguatan industri atsiri dair hulu hingga hilir melalui peningkatan kualitas bahan baku, modernisasi penyulingan, pengujian mutu dan pemanfaatan hasil riset.
“Urgensinya jelas, nilai ekspor atsiri Indonesia tahun 2025 mencapai US$348,7 juta atau tumbuh sekitar 34,4%,” tutur Wamenperin Riza.
Saat ini, Indonesia menempati di posisi kelima eksportir atsiri terbesar dunia, tetapi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti sebagian besar atsiri masih diekspor dalam bentuk mentah, sedangkan produk turunannya diimpor kembali untuk kebutuhan kosmetik dan farmasi dengan nilai lebih tinggi.
Oleh karena itu, Wamenperin Riza menambahkan, penguatan teknologi pengolahan menjadi kunci.
“Kekayaan bahan baku harus tumbuh menjadi kekuatan industri menghasilkan produk bernilai tinggi, memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan petani, serta penyuling,” ungkapnya.
Wamenperin Riza menyatakan bajwa minyak atsiri Indonesia sudah mengharumkan dunia dan saatnya nilai tambahnya semakin menyejahterakan masyarakat di negeri sendiri.
Melalui penyelenggaraan KNMA 2026, diharapkan terbangun sinergi dan kolaborasi yang semakin kuat antarpemangku kepentingan dalam mendorong inovasi, hilirisasi, peningkatan nilai tambah, serta keberlanjutan industri minyak atsiri Indonesia.
Berbagai produk strategis tersebut didorong untuk memperkuat industri minyak atsiri nasional, pengembangan Database Nasional Minyak Atsiri, progam restrukturisasi mesin dan peralatan industri, komersialisasi hasil riset dan inovasi, optimalisasi Pusat Flavor and Fragnance (PFF), serta peningkatan partisipasi industri dalam kegiatan promosi dan pameran.
Kemenperin juga memperkuat hilirisasi dengan mengembangkan PFF guna menjembatani potensi bahan baku dengan kebutuhan industri dan pasar global.
Selain itu, Kemenperin mendorong pengolahan minyak atsiri, seperti minyak nilam dan kemenyan menjadi produk bernilai tambah tinggi antara lain parfum dan fragrance, produk kosmetik dan perawatan diri, antiseptic dan disinfectant, medicated oil (minyak pengobatan) dan aromaterapi, serta bioaditif berbasis minyak atsiri untuk bahan bakar diesel (didukung standar, seperti SNI 8744:2019).
Kemenperin juga melakukan penguatan ekosistem dan kelembagaan dengan mendorong pembentukan serta penguatan kelembagaan, seperti koperasi bagi petani dan penyuling.
Bahkan, melakukan perluasan akses pasar dan pembiayaan, dengan memperluas akses bagi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM), serta startup teknologi terhadap pembiayaan dan jaringan pasar global.
Kemenperin juga melakukan standardisasi dan jaminan kualitas dengan menyediakan panduan mutu dan standar nasional untuk memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku yang berkualitas bagi industri hilir. I
