Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan pentingnya komunikasi bisnis antarpelaku usaha dalam aktivitas Business-to-Business (B2B) untuk perdagangan maupun investasi.
Dia mengapresiasi kehadiran Asian Trade, Tourism, and Economics Council (ATTEC) sebagai forum kolaborasi yang, sekaligus memperkuat ekspor Indonesia.
Hal ini disampaikan Mendag saat meresmikan Kantor Pusat ATTEC di Jakarta, baru – baru ini.
Dia menjelaskan, kehadiran ATTEC dapat menjadi platform praktis untuk mempertemukan pelaku usaha, mempermudah arus investasi dan mempercepat realisasi ekspor, khususnya antara Indonesia dan negara – negara di Asia.
Dia berharap, kantor ATTEC di Jakarta dapat menjadi lokasi strategis untuk penyelenggaraan business matching secara berkelanjutan.
“Komunikasi bisnis antarpelaku usaha sangat mendukung keberhasilan komunikasi antarpemerintah. ATTEC hadir sebagai wadah yang mempermudah pelaku usaha untuk langsung menemukan mitra, baik untuk ekspor maupun investasi,” ujar Mendag.
Hadir dalam peresmian, yaitu Ketua mum ATTEC Budihardjo Iduansjah, President ASEAN – Korea Business Centre Moon Ki Bong, Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Hendry Panjaitan dan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah Provinsi Jakarta Elisabeth Ratu Rante Allo.
Turut mendampingi Mendag di antaranya Sekretaris Jenderal Isy Karim, Diretur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Fajarini Puntodewi dan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Iqbal S. Shofwan.
Terkait dengan investasi, Mendag menuturkan, persepsi terhadap Indonesia selama ini seringkali berkutat pada kurangnya pemahaman dan arus komunikasi yang belum optimal.
Padahal, katanya, kegiatan usaha dan investasi di Indonesia relatif mudah dilakukan dari segi regulasi.
“Kami harap kehadiran wadah, seperti ATTEC dapat menjadi sarana untuk memberikan informasi yang jelas kepada para investor. Selain itu, juga untuk mempermudah pelaku usaha dalam memahami mekanisme investasi di Indonesia,” tutur Mendag.
Di sisi lain, Budihardjo Iduansjah menambahkan, salah satu tantangan utama bagi investor asing selama ini adalah keterbatasan pemahaman terhadap regulasi, bahasa dan prosedur perizinan di Indonesia.
Guna menjawab tantangan tersebut, ATTEC hadir sebagai wadah pendampingan yang menjembatani komunikasi antara pelaku usaha asing, asosiasi dan pemerintah.
Melalui ATTEC, pelaku usaha akan difasilitasi dalam proses legalitas dan perizinan agar kegiatan investasi, serta perdagangan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Melalui ATTEC, Indonesia akan membawa dan memperjuangkan kepentingan nasional terbaik di kawasan Asia. Indonesia Emas 2045 menjadi momentum strategis, sekaligus peluang besar bagi mitra internasional untuk berinvestasi dan berkolaborasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Budiharjdo.
Sementara itu, Moon Ki-bong menilai, peresmian kantor pusat ATTEC adalah momentum untuk memperkuat konektivitas bisnis di kawasan Asia.
Menurutnya, ATTEC berperan sebagai penghubung efektif antara pelaku usaha Asia dan Indonesia.
Keberadaan kantor pusat baru ini akan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di bidang investasi, perdagangan dan pariwisata antara Indonesia, serta negara – negara Asia, termasuk Korea Selatan.
ATTEC merupakan organisasi regional yang berperan sebagai platform kerja sama bisnis lintas negara di kawasan Asia.
Selain itu, ATTEC difokuskan pada fasilitasi kolaborasi antarpelaku usaha, peningkatan perdagangan dan investasi, serta penguatan daya saing ekonomi Asia di tingkat global.
Melalui jaringan strategis yang menghubungkan dunia usaha, investor dan para pemangku kepentingan lintas sektor, organisasi ini bertujuan untuk membangun ekosistem kemitraan yang berkelanjutan, inklusif, serta saling menguntungkan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan. I
