Prospek ekonomi global tahun 2027 diperkirakan membaik dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 3,1%, perdagangan tumbuh sekitar 3,3%, dan tingkat inflasi global melandai menjadi 3,7%.
Namun, ke depannya juga Indonesia masih akan dibayang – bayangi oleh tensi geopolitik, proteksionisme, dan volatilitas pasar keuangan.
Menghadapi berbagai tantangan itu, Indonesia harus tangguh, sekaligus menangkap peluang yang akan muncul.
Hal itu juga didukung fundamental ekonomi nasional yang masih tetap solid, dengan pertumbuhan sebesar 5,45% pada Semester I/2026, tingkat inflasi pada September 2026 terkendali di 3,28% dan jumlah investasi pada Januari – September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun atau tumbuh 7,3% (yoy).
“Yang encouraging itu PMI Manufaktur, yang sebelumnya di bawah 50, sekarang growing menjadi 52,4. Kita semua tahu kalau PMI di atas 50 artinya terjadi ekspansi dan manufaktur itu menjadi penyumbang sangat krusial bagi pertumbuhan kita,” ujar Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo saat berbicara pada acara Permata Bank Wealth Wisdom 2026: Leading with Integrity and Purpose di Jakarta.
Kemudian, dia menambahkan, poverty itu declining, pengangguran terbuka juga sudah sangat rendah di angka 4,65%.
Rasio Gini nilainya juga sangat bagus di 0,368, karena kalau nilai Rasio Gini semakin rendah maka makin bagus, karena ketimpangannya semakin berkurang.
“Stabilitas tersebut memberikan ruang bagi perbankan untuk memperluas pembiayaan produktif sekaligus menjaga kepercayaan investor,” jelasnya.
Kinerja perbankan cukup baik dengan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 13,65%, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10,94%, permodalan (CAR) masih stabil di 24,10%, dan angka kredit macet (NPL) juga terjaga di 2,11% pada Agustus 2026.
“Stabilitas ekonomi tentu harus kita maksimalkan untuk menghasilkan manfaat nyata. Kita bisa lihat bagi masyarakat, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp250,43 triliun, bantuan sosial itu terealisasi Rp115,8 triliun,” ungkap Wamenko Dradjad.
Jadi, lanjutnya, sebenarnya negara masih sangat kuat mengalokasikan dana yang cukup besar untuk program – program sosial dan stimulus bagi masyarakat.
Terdapat 26 proyek hilirisasi senilai Rp225 triliun yang diproyeksikan menciptakan sekitar 37.833 lapangan kerja di masa depan.
Capaian tersebut menjadi landasan untuk meningkatkan pertumbuhan menuju 6% pada tahun 2027 dan 8% dalam jangka menengah.
Pencapaiannya bertumpu pada tiga prasyarat, yaitu investasi yang tumbuh lebih cepat daripada PDB, peningkatan produktivitas dan ekspor bernilai tambah dengan dukungan logistik yang efisien.
Oleh karena itu, pemerintah memperkuat konsumsi rumah tangga, meningkatkan kualitas belanja publik dan mempercepat investasi dan ekspor.
“Selain itu, kita juga harus bisa memastikan bahwa investasi dan perdagangan menjadi sumber pertumbuhan baru, bukan sekadar mempertahankan momentum yang sudah ada. Untuk mempercepat investasi, pemerintah memperkuat kepastian berusaha melalui PP Nomor 28 Tahun 2025, penyederhanaan perizinan berbasis risiko dan kepastian waktu pelayanan,” katanya.
Penyelesaian hambatan investasi juga diperkuat lewat koordinasi lintas Kementerian/Lembaga, karena kepastian regulasi dan akuntabilitas adalah kunci kepercayaan investor.
Turut hadir dalam acara ini di antaranya Komisaris Utama Permata Bank Riswinandi, Presiden Direktur Permata Bank Meliza M. Rusli, para Komisaris dan Direksi Permata Bank, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, dan Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal. I
