Pendidikan Vokasi Harus Sejalan dengan Transformasi Industri

Pendidikan vokasi harus sejalan dengan transformasi industry, karena kebutuhan talenta industri tidak bisa dijawab dengan pendidikan yang berjalan sendiri.

Jadi, kata Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza, lulusan vokasi tidak hanya cukup untuk siap bekerja, mereka harus job ready, industry ready, technology ready, entrepreneurship ready, dan future ready.

“Kolaborasi pemerintah, sektor industri dan perguruan tinggi harus diperkuat agar talenta Indonesia bukan hanya mengikuti transformasi, tetapi menjadi penggeraknya,” jelasnya dalam VoxConnect 2026 Sekolah Vokasi Universitas Indonesia (UI) Jakarta bertema Industry Voices, Vocational Pathways.

Menurut Wamenperin Riza, saat ini industri pengolahan menyumbang 18,50% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap 20,04 juta tenaga kerja.

“Oleh karena itu, kebutuhan talenta industri tidak bisa dijawab dengan pendidikan yang berjalan sendiri,” ungkapnya.

Wamenperin Riza menuturkan bahwa proyeksi kebutuhan vokasi industri pada tahun 2027 – 2031 terbesar ada pada sektor pangan, agro, sawit dan perikanan, yakni sekitar 20%, sedangkan pada sektor logam dasar, mineral dan hilirisasi sekitar 14%.

“Pada sektor otomotif, kendaraan listrik dan baterai 12%, sedangkan kebutuhan vokasi industri sektor elektronika dan semi konduktor 9%,” ujarnya.

Selanjutnya, kebutuhan vokasi industri pada sektor kimia, petrokimia, oleokimia dan farmasi sekitar 10%, sektor tekstil, pakaian jadi, alas kaki dan technical textile sebesar 10%.

Mengenai sektor energi terbarukan dan peralatan kelistrikan sekitar 8%, sektor mesin, peralatan industri dan otomasi 7%, industri digital dan data center ada 5%, sedangkan sektor maritim, perkapalan, kereta api dan dirgantara sekitar 3%, serta sektor daur ulang, air limbah dan ekonomi sirkular ada 2%.

Pada periode 2032 – 2030, komposisi proyeksi kebutuhan vokasi industri bergeser, yakni pangan menjadi 18%, logam dan hilirisasi 13%, otomotif, serta kendaraan listrik sekitar 13%, sektor elektronika dna semikonduktor 12%.

Kemudian, sektor kimia 10%, tekstil 8%, energi terbarukan 10%, mesin dan otomasi 8%, lalu digital dan data center menjadi 4%, sedangkan maritim 2% dan ekonomi sirkular ada 2%.

“Masing – masing periode komposisi proyeksi kebutuhan vokasi industri sebesar 100%,” tegas Wamenperin Riza.

Menurutnya, kebutuhan tenaga kerja dalam peirode 2027-2031 sebantak 55% pada sektor operator dan teknisi produksi, sedangkan 25% pada sektor teknisi tindak lanjur dan supervisor.

“Lalu, ada sekitar 12% kebutuhan tenaga kerja sektor programmer mesin, otomasi dan digital industrial,” ungkap Wamenperin Riza. I

 

Kirim Komentar