Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah kejadian dalam periode pemantauan 22 Maret 2026 pukul 07.00 WIB hingga 23 Maret 2026 pukul 07.00 WIB.
Sejumlah bencana hidrometeorologi basah tercatat berdampak pada berbagai wilayah di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat usai Lebaran 2026.
Peristiwa pertama terjadi di Kota Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur wilayah tersebut sejak Sabtu malam (21/3) pukul 19.00 WIB hingga dini hari memicu banjir di sejumlah titik.
Kondisi ini diperparah oleh peningkatan pasang air laut secara signifikan yang menyebabkan debit Sungai Welang meningkat dan meluap ke permukiman warga.
Akibatnya, genangan air dengan ketinggian 5 sentimeter (cm) hingga 40 cm terjadi pada dini hari.
Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Gadingrejo, tepatnya di Kelurahan Karangketug serta dua desa, yakni Rujak Gadung dan Karang Asem.
Banjir ini berdampak pada sekitar 100 Kepala Keluarga (KK) yang masih dalam proses pendataan. Selain itu, sekitar 100 unit rumah turut terdampak genangan air.
Menanggapi kejadian tersebut, BPBD Provinsi Jawa Timur bersama BPBD Kota Pasuruan segera melakukan asesmen di lokasi terdampak serta berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan penanganan berjalan optimal.
Pemantauan ketinggian air terus dilakukan secara berkala untuk mengantisipasi peningkatan debit air dan memastikan keselamatan warga.
Peristiwa ini terjadi pada periode Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi di Provinsi Jawa Timur berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/845/013/2025 yang berlaku selama 155 hari, terhitung sejak 27 November 2025 hingga 1 Mei 2026.
Berdasarkan kondisi mutakhir pada Minggu (22/3), genangan air di wilayah terdampak, khususnya di Desa Rujak Gadung, Kelurahan Karangketug dan Desa Karang Asem, masih berada pada kisaran 5 cm hingga 40 cm.
Pemantauan dan upaya penanganan terus dilakukan sambil menunggu genangan air surut secara bertahap.
Di wilayah lain, banjir juga melanda Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Jumat (20/3) sejak pukul 15.00 Wita.
Peristiwa ini dipicu oleh hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, khususnya di Kecamatan Tanawawo.
Curah hujan tinggi menyebabkan Sungai Lowo Regi meluap dan berdampak pada infrastruktur vital, terutama akses jalan penghubung antar desa.
Salah satu titik terdampak paling signifikan berada di crossway Kali Lowo Regi, Desa Masebewa, yang mengalami kerusakan hingga menyebabkan akses jalan terputus.
Kondisi ini menghambat mobilitas warga serta distribusi logistik antarwilayah.
Sebanyak 10 desa terdampak dengan total 2.922 kepala keluarga atau 12.981 jiwa.
Warga terpaksa menyeberangi arus banjir dengan berjalan kaki untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari, yang berisiko bagi keselamatan.
Selain itu, sekitar 2.922 unit rumah terdampak, dengan rincian 1 unit rusak berat dan 3 unit rusak ringan.
Dampak banjir juga meluas ke sektor infrastruktur dan ekonomi masyarakat.
Sekitar 15 hektare lahan persawahan terdampak, bangunan penangkap air mengalami kerusakan dan pipa distribusi air bersih terputus.
Selain itu, terdapat empat titik akses jalan yang mengalami kerusakan berupa lubang, sehingga semakin menghambat mobilitas warga dan distribusi bantuan.
BPBD Kabupaten Sikka bersama aparat setempat dan instansi terkait telah melakukan koordinasi, serta turun langsung ke lapangan untuk melakukan survei dan identifikasi guna mendukung asesmen dan pendataan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan untuk memastikan penanganan yang tepat dan percepatan pemulihan kondisi di wilayah terdampak.
Peristiwa ini terjadi dalam masa Status Siaga Darurat Bencana di Provinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 495/KEP/HK/2025 yang berlaku sejak 8 Desember 2025 hingga 8 Juni 2026.
Kebutuhan mendesak saat ini meliputi bantuan sembako, terpal, air bersih atau air mineral, perbaikan darurat akses crossway dan perlengkapan dapur (kitchen set).
Hingga kini, penanganan masih terus dilakukan oleh BPBD Kabupaten Sikka bersama unsur terkait lainnya.
Percepatan pemulihan akses dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak menjadi prioritas utama.
Masih di Kabupaten Sikka, bencana tanah longsor juga terjadi dan hingga Minggu (22/3) penanganan masih berlangsung.
Fokus penanganan meliputi pembersihan material longsor dan pohon tumbang yang menutup akses jalan penghubung antara Desa Poma dan Desa Napugera di Kecamatan Tanawawo guna memulihkan mobilitas warga.
Peristiwa longsor tersebut sebelumnya terjadi pada Jumat (6/3) sekitar pukul 03.00 WITA, dipicu oleh hujan berintensitas tinggi yang berlangsung dalam durasi cukup lama.
Material longsor menimbun badan jalan di dua titik, sehingga menyebabkan akses utama warga terputus dan aktivitas perekonomian terganggu.
Sebanyak 11 kepala keluarga terdampak, dengan 11 unit rumah berada dalam kondisi terancam. BPBD Kabupaten Sikka bersama TNI/Polri, Dinas PUPR, relawan, dan masyarakat setempat terus melakukan penanganan melalui pembersihan material dan pembukaan akses jalan.
Kejadian ini masih berada dalam periode Status Siaga Darurat Bencana di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berlaku hingga 8 Juni 2026.
Kebutuhan mendesak meliputi dukungan alat berat, bantuan logistik dan pembangunan turap pengaman untuk mengantisipasi potensi longsor susulan.
BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah, khususnya di wilayah dengan curah hujan tinggi.
Masyarakat perlu memantau informasi cuaca, menjaga kebersihan saluran air dan segera mengungsi ke tempat aman jika terjadi peningkatan debit air atau tanda – tanda longsor.
Kewaspadaan ini perlu ditingkatkan seiring tingginya mobilitas masyarakat pada periode pasca Idulfitri 1447 Hijriah.
Pemerintah daerah juga perlu meningkatkan kesiapsiagaan, koordinasi dan mitigasi guna meminimalkan risiko bencana. I
