Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air pada 3 Maret 2026

Memasuki hari ketiga Maret 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana baru di beberapa wilayah Indonesia.

Berdasarkan hasil pemantauan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB pada periode 2 Maret 2026 pukul 07.00 WIB hingga 3 Maret 2026 pukul 07.00 WIB, terdapat beberapa kejadian bencana yang berdampak signifikan.

BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus melakukan penanganan darurat, pendataan, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak.

Kejadian banjir berdampak signifikan dilaporkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember.

Banjir dipicu hujan selama lebih dari enam jam pada Senin (2/3) sejak pukul 13.30 WIB yang menyebabkan peningkatan debit air di Sungai Dinoyo, Sungai Kaliputih, Sungai Badean, dan Sungai Kalijompo.

Pada pukul 18.30 WIB, keempat sungai tersebut meluap, sehingga air berwarna cokelat bercampur lumpur masuk hingga permukiman warga.

Banjir berdampak pada empat desa dan dua kelurahan di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Panti, Rambipuji dan Kaliwates, dengan Tinggi Muka Air (TMA) sekitar 40 sentimter (cm) hingga 70 cm.

Sebanyak 132 Kepala Keluarga (KK) atau 435 jiwa terdampak dan sedikitnya 111 jiwa mengungsi di tiga titik pengungsian.

BPBD Kabupaten Jember segera diturunkan untuk melakukan pendataan dan penanganan warga terdampak.

Petugas bekerja sama dengan dinas terkait dan relawan Desa Tangguh Bencana (Destana) mendistribusikan bantuan logistik permakanan, matras dan selimut bagi warga yang mengungsi maupun yang memilih bertahan di rumah.

Kondisi terkini, banjir telah surut. Warga secara mandiri membersihkan rumah dari sisa lumpur, sedangkan para pengungsi telah kembali ke rumah masing – masing.

Kejadian banjir juga masih melanda wilayah Kabupaten Karawang sejak 10 Februari 2026, menyusul curah hujan tinggi yang menyebabkan Sungai Citarum dan Sungai Cibeet meluap.

Berdasarkan laporan BPBD Kabupaten Karawang, terdapat tiga desa yang masih terdampak, yaitu Desa Srijaya di Kecamatan Tirtajaya dan Desa Kutamakmur, serta Desa Karangligar di Kecamatan Telukjambe Barat.

Sebanyak 317 unit rumah dan lima fasilitas ibadah terdampak. Menurut pantauan petugas pada Senin (2/3), tinggi muka air bervariasi dari 5 cm hingga 80 cm.

Petugas gabungan yang terdiri dari BPBD, Tagana, dan TNI-Polri terus disiagakan untuk mengevakuasi warga yang terjebak banjir menggunakan perahu karet.

Petugas juga berpatroli untuk mengantisipasi kiriman air apabila hujan kembali turun.

Beralih ke Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, hujan disertai angin kencang menyebabkan kerusakan pada 41 rumah warga di Desa Legundi dan Desa Tri Dharmayoga, Kecamatan Ketapang.

Kejadian ini dilaporkan BPBD Kabupaten Lampung Selatan pada Senin (2/3) pukul 13.00 WIB.

Sebagian besar kerusakan terjadi pada bagian atap bangunan. Selain rumah warga, dua fasilitas pendidikan turut terdampak angin kencang.

Petugas melakukan penilaian di lokasi terdampak, sedangkan warga melakukan perbaikan rumah secara mandiri.

Dari wilayah Provinsi Kalimantan Tengah dilaporkan kejadian kebakaran hutan dan lahan pada Minggu (1/3) pukul 17.30 WIB.

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi di Desa Samuda Kota, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur.

Sedikitnya empat lahan terbakar, sedangkan penyebab kejadian masih dalam proses penyelidikan.

Hingga Senin (2/3), api belum padam. Petugas gabungan dari BPBD, Damkar, TNI-Polri hingga relawan terus melakukan pemadaman agar api tidak semakin melebar.

Beberapa wilayah di Indonesia menunjukkan tingkat kerawanan tinggi terhadap potensi karhutla.

Pemerintah mendorong masyarakat menggunakan metode pembukaan lahan tanpa membakar.

Membakar lahan, terlebih lahan gambut, dapat menyebabkan kabut asap, merusak tanah dan ekosistem, serta memicu kebakaran yang sulit dikendalikan.

Menyikapi berbagai kejadian bencana tersebut, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan.

Kesiapsiagaan diperlukan dalam menghadapi potensi ancaman bencana hidrometeorologi basah maupun kering.

Masyarakat yang tinggal di daerah bantaran sungai diimbau untuk secara berkala memantau ketinggian muka air.

Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi lama, warga disarankan melakukan evakuasi mandiri jika diperlukan, mengetahui jalur evakuasi dan memperbarui informasi cuaca melalui sumber resmi. I

Kirim Komentar