Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat upaya perlindungan terhadap perempuan dan anak.
Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah melalui penyelenggaraan Training of Trainer (ToT) untuk relawan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) di Hotel 1O1 Style Yogyakarta Malioboro.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Yogyakarta untuk meningkatkan kapasitas para relawan yang selama ini menjadi garda terdepan dalam memberikan pendampingan, edukasi dan perlindungan terhadap perempuan dan anak di lingkungan masyarakat.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta Retnaningtyas mengatakan, pelatihan ini memiliki peran strategis dalam memperkuat kemampuan relawan SAPA agar semakin siap menghadapi berbagai persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Menurutnya, relawan SAPA merupakan mitra penting pemerintah dalam mendukung terwujudnya lingkungan yang aman, ramah dan bebas dari berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkuat kapasitas relawan yang selama ini menjadi mitra strategis dalam perlindungan perempuan dan anak di tingkat masyarakat,” ujarnya.
Saat ini, lanjutnya, relawan SAPA telah hadir di delapan kelurahan di Kota Yogyakarta yakni Rejowinangun, Giwangan, Kricak, Brontokusuman, Wirogunan, Sorosutan, Bener, dan Prawirodirjan.
Retnaningtyas menambahkan, keberadaan relawan SAPA sangat dibutuhkan, terutama di wilayah kelurahan yang memiliki tingkat kerawanan sosial cukup tinggi.
Para relawan hadir untuk memberikan pendampingan, edukasi, sekaligus menjadi penghubung antara masyarakat dengan layanan perlindungan yang disediakan pemerintah.
Melalui pelatihan ini, peserta dibekali berbagai pengetahuan dan keterampilan yang dapat menunjang pelaksanaan tugas mereka di lapangan.
Materi yang diberikan dirancang untuk memperkuat peran relawan dalam aspek promotif, preventif maupun edukatif terhadap berbagai isu yang berkaitan dengan perempuan dan anak.
“Relawan SAPA diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang memiliki kepedulian tinggi, kemampuan komunikasi yang baik, pemahaman terhadap isu gender dan kekerasan, serta keterampilan dalam melakukan edukasi kepada masyarakat,” ungkapnya.
Dia menambahkan, peningkatan kapasitas relawan menjadi hal yang sangat penting mengingat kompleksitas persoalan yang dihadapi perempuan dan anak saat ini semakin beragam.
Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai, lanjutnya, relawan diharapkan mampu memberikan respons yang tepat ketika menemukan kasus di masyarakat dan dapat melakukan upaya pencegahan sejak dini.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa relawan SAPA memiliki kesiapan yang memadai dalam menjalankan tugas dan perannya di lapangan,” tuturnya.
Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta mendapatkan berbagai materi dari sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi dan pengalaman di bidang perlindungan perempuan, serta anak – anak.
Pada hari pertama, peserta memperoleh materi mengenai penguatan kapasitas relawan yang mencakup keterampilan komunikasi, kemampuan pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan.
Materi tersebut disampaikan oleh Mutia Dewi dengan tujuan membekali relawan agar mampu membangun komunikasi yang efektif ketika melakukan pendampingan maupun edukasi di masyarakat.
Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman mendalam mengenai pemberdayaan perempuan, isu kesetaraan gender dan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Materi ini disampaikan oleh Agus Ruyanto yang menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap hak – hak perempuan dan anak, serta perlunya menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif.
Memasuki hari kedua, pelatihan berfokus pada isu-isu yang semakin menjadi perhatian dalam perlindungan anak, yakni persoalan pekerja anak dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Materi tersebut disampaikan oleh Arum Purwaningtyas yang memberikan gambaran mengenai berbagai bentuk eksploitasi terhadap anak dan langkah – langkah pencegahan, serta penanganannya.
Peserta juga memperoleh pembekalan terkait pendidikan dan kesehatan reproduksi, pencegahan perkawinan anak, serta pencegahan kekerasan seksual terhadap anak yang disampaikan oleh Agus Triyanto.
Materi ini dinilai sangat relevan mengingat masih adanya berbagai tantangan yang dihadapi anak – anak dan remaja dalam memperoleh informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan perlindungan diri.
Sementara itu, pada hari terakhir pelatihan, para relawan mempelajari berbagai varian kegiatan SAPA yang dapat diterapkan di lingkungan masyarakat.
Mereka juga mendapatkan materi mengenai teknik pemetaan masalah sosial sebagai dasar dalam merancang program dan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan wilayah masing – masing.
Sebagai penutup kegiatan, nantinya para peserta akan menyusun rencana tindak lanjut yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan program perlindungan perempuan dan anak di wilayah masing – masing. I
