Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) menyiapkan inovasi Sinergi Governansi Adaptif Desa Wisata (Sigap Deswita), untuk memperkuat pengembangan desa wisata.
Sinergi ini diwujudkan dalam orkestrasi antarlini guna menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Kepala Biro Administrasi Pembangunan Daerah (Bangda) Setda Provinsi Jawa Tengah Eni Lestari menjelaskan, Sigap Deswita Jawa Tengah mengedepankan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media, dalam mengembangkan potensi desa wisata.
Program tersebut, menjadi salah satu upaya mendukung program unggulan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, yakni pengembangan 1.000 desa wisata atau kampung wisata, sebagaimana tertuang dalam RPJMD 2025 – 2029.
“Pengelolaan desa wisata tidak bisa dilakukan sendiri oleh Dinas Pariwisata. Perlu kolaborasi banyak pihak, dengan masyarakat sebagai akar penggeraknya,” ujarnya.
Menurut Eni, setiap desa wisata memiliki potensi dan kebutuhan berbeda. Karena itu, Sigap Deswita mendorong pemetaan potensi sekaligus kebutuhan masing – masing desa, mulai dari pendampingan, peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), pelatihan pengolahan produk lokal hingga dukungan sarana dan prasarana melalui kolaborasi lintas sektor.
Dia menambahkan, berdasarkan data Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jateng, pada tahun 2025 terdapat 899 desa wisata di Jawa Tengah.
Namun, sekitar 76,2% di antaranya masih berstatus rintisan. Kondisi tersebut menjadi tantangan agar desa wisata dapat naik kelas dan berkembang secara berkelanjutan.
Eni mencontohkan, pengembangan Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang.
Desa tersebut memanfaatkan potensi Sungai Tuntang untuk wisata rekreasi dan arung jeram, bahkan lokasinya pernah menjadi tuan rumah cabang olahraga rafting dalam ajang olahraga tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Meningkatnya aktivitas wisata, terangnya, turut membuka peluang ekonomi bagi warga.
Masyarakat mulai didorong untuk menyediakan homestay dengan memanfaatkan rumah tinggal, sekaligus mengembangkan produk olahan pangan lokal.
Pelatihan pengelolaan homestay dan pengolahan pisang serta singkong menjadi keripik, kue dan berbagai produk makanan, menjadi bagian dari upaya tersebut.
“Ketika kunjungan wisata meningkat dan wisatawan tinggal lebih lama, peluang ekonomi masyarakat juga semakin terbuka. Mereka bisa mendapatkan penghasilan dari homestay, kuliner maupun produk unggulan desa,” jelasnya.
Eni berharap, Sigap Deswita dapat diterapkan secara berkelanjutan untuk mendukung pengembangan 1.000 desa wisata.
Selain memperkuat promosi dan branding, program itu diharapkan menghasilkan basis data potensi dan kebutuhan desa, sehingga dukungan pemerintah, dunia usaha, sera akademisi dapat lebih tepat sasaran.
“Dengan demikian, pengembangan desa wisata tidak sekadar menambah destinasi kunjungan, tapi juga menjadi pengungkit kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal,” ungkap. I
