Strategi Urai Kepadatan dari Ditjen Hubdat di Pelabuhan Ketapang – Gilimanuk

Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan melalui Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Jawa Timur berupaya mengurai kepadatan panjang di Pelabuhan Ketapang – Gilimanuk yang terjadi beberapa hari terakhir.

Sejumlah strategi dilakukan, salah satunya penambahan tiga kapal besar 5000 GT dari Pelabuhan Padangbai dan Pelabuhan Merak.

“Untuk mempercepat pengangkutan muatan, akan dilakukan penambahan operasional kapal besar sebanyak dua unit dari Pelabuhan Padangbai dan satu unit dari Pelabuhan Merak,” jelas Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat Aan Suhanan dalam keterangan resminya di Jakarta.

Selain itu, dia menjelaskan, skema Tiba – Bongkar – Berangkat (TBB) juga masih dilaksanakan untuk mempercepat proses bongkar muat kapal dan pergerakan kendaraan.

“Untuk mempercepat proses bongkar muat kami terapkan skema TBB, skema ini juga mempersingkat waktu sandar kapal dan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas layanan, sekaligus mempercepat pergerakan kendaraan secara bertahap,” ungkapnya.

Setiap kapal yang tiba di Pelabuhan Gilimanuk dari Pelabuhan Ketapang maupun sebaliknya, langsung bongkar dan berangkat lagi untuk mengangkut muatan.

Ditjen Perhubungan Darat juga berkoordinasi dengan Ditjen Perhubungan Laut, Kepolisian Daerah Jawa Timur, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan PT Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry untuk menambah operasional dua kapal pada lintasan Pelabuhan Tanjung Wangi tujuan Pelabuhan Lembar dan Pelabuhan Jangkar.

Kemudian, Dirjen Aan mengatakan, Ditjen Perhubungan Darat juga melakukan pemisahan antrean kendaraan berdasarkan berat muatan.

Kendaraan dengan berat tertentu diarahkan ke dermaga yang mendukung berat muatan kendaraan tersebut.

“Kami juga menerapkan pemisahan antrean kendaraan berdasarkan berat muatan melalui stikerisasi. Kendaraan dengan berat ≤35 ton diarahkan ke dermaga dengan daya dukung ≤35 ton dan dengan berat >35 ton diarahkan ke LCM atau dermaga dengan daya dukung minimal 50 ton,” ungkapnya.

Selain itu, langkah penanganan lainnya juga telah disiapkan Ditjen Hubdat bersama stakeholders untuk mengurai kepadatan di antaranya proses revitalisasi dermaga II Ketapang akan dipercepat, menyiapkan bufferzone alternative dan akan mengaktifkan Pelabuhan Jangkar khusus untuk kendaraan logistik tujuan Pelabuhan Lembar, serta kendaraan kecil tujuan Pelabuhan Celukan Bawang.

Sebelumnya, pada hari Jumat (4/9) dilaporkan terdapat antrean di luar Pelabuhan Ketapang sepanjang kurang lebih 12 km yang didominasi oleh kendaraan angkutan barang.

Adapun kepadatan ini terjadi dikarenakan adanya peningkatan volume kendaraan logistik dan kapasitas angkut berkurang akibat adanya pengerjaan peningkatan kapasitas Dermaga MB II dari 35 ton menjadi 50 ton di lintasan penyeberangan Ketapang – Gilimanuk.

Faktor lainnya karena jumlah kapal yang beroperasi berkurang dari 28 unit menjadi 23 unit (di Dermaga MB sebanyak 14 unit kapal dan Dermaga LMC sembilan kapal).

Lalu pada trayek Tanjung Wangi (Banyuwangi) – Gili Mas (Lombok Barat) hanya dioperasikan oleh dua unit kapal dari kondisi normal empat unit dan masih adanya kerusakan pada Dermaga Bulusan sebagai dermaga penyangga, sehingga belum dapat dioperasikan secara maksimal.

Dirjen Perhubungan Darat turut mengimbau pengguna jasa penyeberangan diharapkan tetap mengikuti arahan petugas di lapangan demi menjaga kelancaran, ketertiban dan keselamatan selama proses antrean dan penyeberangan.

“Kami memahami kondisi saat ini adanya kepadatan, sehingga masyarakat sebagai pengguna layanan penyeberangan harus menunggu lebih lama dan kami berharap masyarakat tetap mengikuti pengaturan antrean yang berlaku.

Dia juga mengimbau bagi para pengguna jasa penyeberangan untuk selalu ikuti arahan petugas, kerja sama masyarakat sangat dibutuhkan untuk kelancaran dan keselamatan penyeberangan. I

Kirim Komentar