Surplus Perdagangan Januari 2026 Capai US$0,95 Miliar

Neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar US$0,95 miliar.

Surplus ini ditopang oleh kinerja surplus nonmigas sebesar US$3,23 miliar, meskipun sektor migas defisit US$2,27 miliar.

Capaian itu sekaligus memperpanjang tren surplus perdagangan Indonesia menjadi 69 bulan berturut – turut sejak Mei 2020.

“Surplus pada Januari 2026 memperpanjang tren surplus Indonesia menjadi 69 bulan berturut – turut sejak Mei 2020. Konsistensi surplus mencerminkan daya tahan sektor perdagangan nasional di tengah ketidakpastian global,” kata Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso.

Berdasarkan negara mitra dagang, surplus terbesar pada Januari 2026 berasal dari Amerika Serikat (AS) sebesar US$1,55 miliar, diikuti India US$1,07 miliar dan Filipina US$0,69 miliar.

Sementara itu, defisit perdagangan terbesar tercatat dengan Tiongkok sebesar US$2,47 miliar, Australia US$0,96 miliar dan Prancis US$0,47 miliar.

Pada Januari 2026, total ekspor Indonesia tercatat sebesar US$22,16 miliar, naik 3,39% dibandingkan dengan Januari 2025.

Peningkatan ini terutama didorong pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 4,38% (YoY) menjadi US$21,26 miliar dari US$20,37 miliar.

Struktur ekspor Indonesia masih didominasi sektor industri pengolahan dengan kontribusi 83,53% terhadap total ekspor.

Sektor pertambangan dan lainnya berkontribusi 10,48%, migas 4,03% dan pertanian 1,97% (YoY).

Naiknya ekspor nonmigas pada Januari 2026 didorong pertumbuhan pada ekspor sektor industri pengolahan sebesar 8,19%.

Sebaliknya, ekspor sektor pertanian turun 20,36% dan sektor pertambangan dan lainnya turun 14,59% (YoY).

Tiga komoditas nonmigas utama dengan kenaikan ekspor tertinggi pada Januari 2026 adalah timah dan barang daripadanya (HS 80) yang naik hingga 191,38%, lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) naik 46,05%, serta nikel dan barang daripadanya (HS 75) naik 42,04% (YoY).

“Hal ini didorong oleh peningkatan harga ketiga komoditas tersebut di pasar internasional,” ungkap Mendag.

Dia menambahkan, berdasarkan World Bank Commodity Price Data, harga timah pada Januari 2026 melonjak 67,29%, nikel naik 15,42% dan minyak kernel kelapa sawit (palm kernel oil) naik 8,36% dibandingkan Januari 2025.

Dari sisi tujuan ekspornya, Tiongkok, Amerika Serikat dan India masih menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia dengan total nilai mencapai US$9,30 miliar atau 43,77% dari total ekspor nonmigas nasional pada Januari 2026.

Sementara itu, tujuan ekspor nonmigas yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi adalah Spanyol yang naik 74,65%, Mesir 59,23% dan Pakistan 55,62% (YoY).

Secara kawasannya, ekspor ke Asia Tengah lainnya tumbuh 112,88%, Afrika Utara 36,10% dan Asia Selatan 26,55% (YoY).

Sementara itu, total impor Januari 2026 tercatat sebesar US$21,20 miliar atau naik 18,21% dibandingkan Januari 2025 yang sebesar US$17,94 miliar.

Peningkatan ini dipicu kenaikan impor nonmigas sebesar 16,71% dan migas 27,52% (YoY).

Kenaikan impor terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang, dengan pertumbuhan tertinggi pada barang modal sebesar 35,23%, diikuti bahan baku dan penolong 14,67%, serta barang konsumsi 11,81% (YoY).

Mendag mengatakan, kenaikan impor seluruh golongan barang pada Januari 2026 menunjukkan adanya peningkatan aktivitas produksi sektor industri pengolahan dan pesanan baru, serta optimisme keyakinan konsumen pada awal 2026.

“Hal ini sejalan dengan peningkatan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari 51,2 pada Desember 2025 menjadi 52,6 pada Januari 2026, serta naiknya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari 123,5 menjadi 127,0,” tuturnya.

Peningkatan impor nonmigas terbesar berasal dari kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) yang melonjak 1.288,48%, logam mulia, perhiasan dan permata (HS 71) naik 152,50%, serta garam, belerang, batu dan semen (HS 25) naik 113,81% (YoY).

Berdasarkan negara asalnya, impor nonmigas didominasi Tiongkok, Australia dan Jepang dengan kontribusi gabungan 54,92% terhadap total impor nonmigas.

Sementara itu, kenaikan impor tertinggi tercatat berasal dari Prancis sebesar 444,56%, Zimbabwe 248,85% dan Argentina 201,71% (YoY).

“Secara keseluruhan, kinerja perdagangan Januari 2026 menunjukkan fondasi yang kuat di awal tahun. Kondisi ini ditopang oleh konsistensi surplus neraca perdagangan, penguatan ekspor industri pengolahan, serta peningkatan pada aktivitas produksi dan kepercayaan konsumen domestik,” jelas Mendag. I

Kirim Komentar