TOD Kunci Bangun Kota Produktif, Sehat dan Berkelanjutan

Transit Oriented Development (TOD) merupakan kunci dalam mewujudkan kota yang produktif, sehat dan berkelanjutan.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (Menko AHY), di tengah laju urbanisasi yang terus meningkat, pengembangan kawasan berbasis TOD menjadi pendekatan yang mampu mengintegrasikan sistem transportasi, tata guna lahan, aktivitas ekonomi, ruang publik, dan berbagai layanan dasar untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Berdasarkan proyeksi urbanisasi, sebagian besar penduduk Indonesia akan tinggal di kawasan perkotaan dalam beberapa dekade mendatang,” ujarnya saat Groundbreaking Stasiun Ekstensi di Kawasan Summarecon, Kota Bekasi.

Kondisi tersebut, dijelaskan Menko AHY, menuntut kota – kota di Indonesia untuk berkembang secara lebih terencana agar mampu mengakomodasi pertumbuhan penduduk, sekaligus menjaga daya dukung lingkungan.

Oleh karena itu, dia menilai, pengembangan kawasan tidak cukup hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga harus mampu menghadirkan sistem perkotaan yang terhubung, efisien dan berkelanjutan.

Dalam konsep TOD, kata Menko AHY, kawasan dirancang agar masyarakat dapat tinggal, bekerja, belajar, mengakses layanan kesehatan, berbelanja hingga menikmati ruang publik dalam satu kawasan yang terintegrasi dengan transportasi massal.

Pendekatan tersebut, lanjutnya, diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi, menekan kemacetan dan emisi karbon, sekaligus meningkatkan efisiensi mobilitas masyarakat.

“Di sinilah konsep Transit Oriented Development menjadi sangat penting. Pada dasarnya, TOD merupakan upaya mengintegrasikan berbagai kebutuhan masyarakat ke dalam satu kawasan yang saling terhubung dan saling mendukung. Masyarakat dapat tinggal, bekerja, berbelanja, mengakses pendidikan, layanan kesehatan hingga berbagai fasilitas publik dalam kawasan yang terintegrasi,” ungkapnya.

Selain memperkuat konektivitas transportasi, pengembangan TOD juga menempatkan tata guna lahan sebagai fondasi utama pembangunan kawasan.

Penataan ruang yang terencana menjadi prasyarat untuk memastikan pembangunan berlangsung selaras dengan kebutuhan masyarakat, mendukung pertumbuhan ekonomi, serta menjaga keberlanjutan lingkungan.

Konsep tersebut juga mendorong penyediaan jalur pejalan kaki, ruang terbuka, mobilitas aktif dan kawasan yang lebih ramah terhadap masyarakat.

Menurut Menko AHY, keberhasilan TOD tidak hanya diukur dari hadirnya infrastruktur transportasi, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat melalui peningkatan produktivitas, efisiensi waktu, kualitas lingkungan dan kesejahteraan keluarga.

“Tadi saya juga menitipkan pesan bahwa yang paling penting bukan hanya membangun fisiknya, melainkan memastikan dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat. Dampaknya apa? Seharusnya masyarakat dapat hidup lebih nyaman, lebih produktif dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” tuturnya.

Materi pengembangan TOD juga menekankan bahwa keberhasilan pembangunan kawasan memerlukan sinergi lintas sektor.

Pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, swasta, akademisi, komunitas, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam mewujudkan kawasan perkotaan yang inklusif, serta berdaya saing.

Kolaborasi tersebut menjadi faktor penting untuk mengatasi berbagai tantangan implementasi, mulai dari sinkronisasi tata ruang, pengadaan lahan, pembiayaan infrastruktur hingga perubahan perilaku masyarakat menuju penggunaan transportasi publik.

“Tadi kami semua menyepakati bahwa pembangunan dan pengembangan kawasan TOD ini memang harus melalui sebuah sinergi dan kolaborasi yang baik antarsemua stakeholder. Tujuannya sama, kita ingin menghadirkan kota yang semakin terintegrasi satu sama lain melalui moda transportasi dan pusat – pusat yang menghubungkan satu sama lain,” jelasnya.

Menko AHY berharap pengembangan TOD Bekasi dapat menjadi praktik baik (best practice) yang dapat direplikasi di berbagai kota di Indonesia.

“Dengan perencanaan tata ruang yang baik, konektivitas antarmoda yang terintegrasi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, kawasan TOD diharapkan mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi, sekaligus menghadirkan kota yang lebih produktif, sehat, inklusif, serta berkelanjutan,” ungkapnya.

Acara Groundbreaking Stasiun Bekasi Ekstensi turut dihadiri Wakil Menteri Perhubungan Suntana, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Allan Tandiono, dan Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan.

Selain itu, hadir Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe, Direktur Operasi, Prasarana dan Keselamatan Wilayah I PT KAI Awan Hermawan Purwadinata, dan Direktur PT Summarecon Agung Tbk. Adrianto Pitojo Adhi.

Menko AHY didampingi Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Odo R.M. Manuhutu, Deputi Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan Wilayah, Agraria dan Tata Ruang Ronny Hutahayan, serta Staf Khusus Menko Jovan Latuconsina, Sigit Raditya dan Herzaky Mahendra Putra. I

Kirim Komentar