Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memperpanjang operasi pencarian dan pertolongan korban longsor di Desa Psirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat.
Operasi SAR diperpanjang selama tujuh hari ke depan hingga 6 Februari 2026, menyesuaikan masa tanggap darurat yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, dengan target menemukan sisa 20 korban yang diduga masih tertimbun longsor.
Menurut Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, perpanjangan operasi dilakukan setelah asesmen bersama seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan bencana, mulai dari Search Management Center (SMC), Incident Commander, Sekretaris Daerah Kabupaten Bandung Barat, Tim Disaster Victim Identification (DVI) hingga personel SAR di lapangan.
“Berdasarkan hasil asesmen dan informasi dari seluruh unsur, kami memutuskan operasi pencarian dan pertolongan tetap dilanjutkan dengan pelibatan maksimal semua kekuatan,” jelasnya.
Syafii menambahkan, hingga hari ketujuh pelaksanaan operasi, Tim SAR telah mengevakuasi 60 bodypack korban.
Namun, lanjutnya, masih terdapat 20 korban yang menjadi target pencarian dan diduga tertimbun material longsoran di sejumlah titik.
“Mudah – mudahan sebelum masa tanggap darurat 14 hari yang dideklarasikan pemerintah daerah berakhir, seluruh korban bisa ditemukan,” tuturnya.
Guna mendukung pencarian lanjutan, Basarnas mengerahkan unsur udara dan darat secara maksimal.
Dari udara, dikerahkan lima helikopter, satu pesawat sayap tetap (fix wing) dan 22 unit drone untuk pemantauan area dan pemetaan lokasi pencarian.
Sementara itu, dari unsur darat, lebih dari 3.000 personel SAR gabungan diturunkan, khususnya dari TNI dan Polri.
“Selain itu, 22 unit anjing pelacak atau K-9 dilibatkan untuk membantu mendeteksi keberadaan korban yang tertimbun,” ungkap Syafii.
Operasi SAR juga didukung oleh 17 unit alat berat gabungan dari Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, dan TNI – Polri.
Alat berat tersebut digunakan untuk membuka akses, menyingkirkan material longsor dan mempercepat pencarian di titik – titik prioritas.
Basarnas menegaskan, evaluasi akan terus dilakukan selama masa perpanjangan operasi dengan mempertimbangkan keselamatan personel, kondisi cuaca dan dinamika lapangan. I






