Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon mematangkan strategis industri di tengah keterbatasan ruang kota dengan membuat perencanaan yang rinci agar struktur industri daerah dapat tumbuh secara berkelanjutan dan saling terhubung.
Maka dari itu, Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati mengadakan audiensi dengan Wakil Menteri Pariwisata (Wamenperin) Faisol Riza guna membahas pengembangan industri di Kota Cirebon yang ada di Provinsi Jawa Barat ini.
“Saya menerima audiensi dari Wakil Wali Kota Cirebon untuk membahas pengembangan industri di Kota Cirebon yang secara geografis memiliki wilayah perkotaan dengan keterbatasan ruang, terdiri dari lima kecamatan dan 22 kelurahan,” ujar Wamenperin Riza di Jakarta.
Dalam peremuan tersebut disampaikan struktur industri Kota Cirebon yang terdiri dari 17 industri besar, 35 industri kecil menengah dan 2.312 industri mikro, dengan industri besar didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) di sektor tangki, alat olahraga, sepatu dan alat komunikasi.
Di sisi lain, Wamenperin Riza menambahkan, ada sektor makanan, kerajinan dan perikanan yang terus berkembang, serta telah didukung oleh Mall UMKM, meskipun keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan.
“Kota Cirebon siap memperkuat strktur industru terintegrasi dengan semua lini, termasuk dengan Kementerian Perindustrian,” ungkapnya.
Diskusi ini, kata Wamenperin Riza, memperlihatkan peluang besar untuk mengarahkan pengembangan industri melalui penguaran perencanaan, peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) industri, pemanfaatan fasilitas, dan penguatan kemitraan dnegan industri besar.
“Dengan kolaborasi yang semakin solid dan arah pengembangan yang jelas. Saya optimistis industri di Kota Cirebon dapat tumbuh lebih berdaya saing dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Berdasarkan data Dashboard Sistem Informasi Industri Nasional (SIINAS) tahun 2025, pertumbuhan sektor industri di Kota Cirebon menunjukkan angka yang signifikan.
Tercatat sebanyak 2.312 unit Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang aktif beroperasi, didukung oleh 35 industri skala menengah dan 17 industri skala besar.
Angka tersebut mencerminkan dominasi sektor IKM sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan di wilayah Cirebon.
Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati menuturkan, pemerintah daerah telah menjalankan berbagai langkah konkret, mulai dari pemutakhiran data, pembinaan berkelanjutan, hingga pengawasan izin usaha.
Selain itu, peningkatan kompetensi dilakukan melalui penciptaan wirausaha baru lewat program Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) serta kolaborasi pelatihan bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat.
“Kami tidak ingin pelaku IKM berjalan sendirian. Pemkot Cirebon hadir melalui penyediaan ruang pamer strategis di Mall UKM untuk memastikan produk unggulan lokal kita bisa naik kelas. Kami juga aktif memfasilitasi promosi melalui kemitraan dan pameran, baik di tingkat lokal maupun nasional, hingga memberikan sosialisasi ekspor melalui skema imbal dagang,” tuturnya dalam laman cirebonkota.go.id.
Namun demikian, Siti farida menekankan bahwa tantangan di era digital memerlukan intervensi yang lebih dalam dari pemerintah pusat.
Dia berharap Kementerian Perindustrian dapat membawa program-program fasilitasi langsung ke Kota Cirebon, terutama yang berkaitan dengan aspek legalitas dan perlindungan hak kekayaan intelektual bagi para perajin dan pengusaha lokal. I






