Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) menegaskan komitmennya memperkuat pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan, konektivitas wilayah dan pengembangan pariwisata sebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 yang digelar di Pendopo Gede Boyolali.
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur dan penguatan sektor pangan menjadi prioritas utama pembangunan daerah dalam beberapa tahun mendatang.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur tidak hanya terbatas pada perbaikan jalan, tetapi juga mencakup sarana dan prasarana pendidikan, kesehatan, serta pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mendukung pelayanan masyarakat secara menyeluruh.
Dia menjelaskan, tingginya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan sejumlah ruas jalan mengalami kerusakan, sehingga pemerintah daerah perlu memprioritaskan perbaikan infrastruktur yang berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, Jawa Tengah juga dihadapkan pada tantangan menjaga produktivitas pertanian guna mendukung target swasembada pangan nasional.
Dengan luas sekitar 1,5 juta hektare lahan pertanian berstatus Lahan Sawah Dilindungi (LSD), Jawa Tengah diharapkan tetap menjadi lumbung pangan nasional.
Setelah berhasil memproduksi sekitar 9,1 juta ton gabah kering pada tahun 2025 atau berkontribusi sekitar 15,6% terhadap produksi nasional, Jawa Tengah kini menargetkan peningkatan produksi hingga 11 juta ton pada tahun 2026.
“Tahun 2026 target nasional mencapai 11 juta ton. Karena itu seluruh daerah harus melakukan mitigasi sejak dini, terutama menghadapi potensi kekeringan saat musim kemarau,” jelas Luthfi.
Selain penguatan infrastruktur dan sektor pangan, Pemprov Jateng juga mendorong pengembangan kawasan berbasis kolaborasi antarwilayah.
Dalam forum tersebut, Ahmad Luthfi menegaskan posisi strategis Kota Surakarta sebagai hub atau pusat penggerak ekonomi kawasan Solo Raya.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak dapat dilakukan secara parsial. Sinergi antara Kota Surakarta dengan daerah penyangga, seperti Boyolali, Karanganyar, Sukoharjo, Sragen, Wonogiri, dan Klaten menjadi kunci untuk menciptakan pusat – pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu memberikan manfaat secara merata bagi masyarakat.
“Solo Raya harus kita bangun bersama. Wali Kota Solo sebagai hub, sedangkan kabupaten di sekitarnya menjadi pendukung untuk menumbuhkan ekonomi baru di wilayah kita,” ungkapnya.
Sejalan dengan visi tersebut, Wali Kota Surakarta Respati Ardi menuturkan, sejumlah gagasan strategis guna memperkuat integrasi kawasan Solo Raya.
Salah satunya melalui pengembangan sistem transportasi publik terintegrasi yang menghubungkan kabupaten dan kota di wilayah Solo Raya melalui layanan Batik Solo Trans (BST).
Menurut Respati, BST saat ini telah melayani mobilitas masyarakat lintas daerah, termasuk warga Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, dan Boyolali yang beraktivitas di Kota Surakarta.
Oleh karena itu, diperlukan dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk memperkuat jaringan transportasi publik yang terintegrasi agar aksesibilitas masyarakat semakin baik.
“Transportasi menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Dengan konektivitas yang baik, aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik dapat berjalan lebih optimal,” ujarnya.
Pemprov Jateng melalui Dinas Perhubungan menyatakan pengembangan layanan transportasi terintegrasi tengah dilakukan melalui penyesuaian perencanaan dan evaluasi jaringan layanan.
Pengembangan transportasi massal juga diharapkan mampu memperkuat konektivitas kawasan dan mendukung pertumbuhan ekonomi regional.
Selain transportasi, Respati juga mengajak seluruh kepala daerah di Solo Raya untuk menyusun Rencana Induk Pariwisata Solo Raya sebagai langkah bersama dalam mengembangkan potensi wisata kawasan secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Menurutnya, setiap daerah di Solo Raya memiliki karakteristik dan keunggulan wisata yang berbeda, sehingga perlu dikembangkan melalui perencanaan bersama agar mampu menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas.
“Kami mengajak seluruh kepala daerah di Solo Raya untuk bersama – sama menyusun rencana induk pariwisata Solo Raya. Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, dan Wonogiri memiliki potensi yang luar biasa dan dapat saling melengkapi,” tutur Respati.
Dia menambahkan, pengembangan pariwisata berbasis kawasan akan memperkuat daya tarik Solo Raya sebagai destinasi unggulan di Jawa Tengah.
Kota Surakarta siap mengambil peran sebagai penghubung melalui penguatan identitas sebagai kota budaya, sekaligus pengembangan konsep wellness city yang mengedepankan wisata kesehatan dan olahraga.
Gagasan tersebut sejalan dengan arah pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang menjadikan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah sebagai salah satu fokus pembangunan tahun 2027.
Melalui penguatan infrastruktur, ketahanan pangan, konektivitas transportasi, pengembangan pariwisata dan kolaborasi antarwilayah, Pemprov Jateng optimistis Solo Raya dapat berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru, yang mampu mendorong pemerataan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah selatan Jateng. I


