Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Politeknik Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung mendorong sinergi untuk membidik pasar smart textile sebesar US$255 miliar.
Menurut Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza, sebagai pionir pendidikan vokasi tekstil di Indonesia, Politeknik STTT Bandung memiliki peran strategis dalam menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, adaptif dan berdaya saing, sekaligus menjadi pusat riset dan inovasi bagi kemajuan industri tekstil nasional.
“Saya mengunjungi Politeknik STTT Bandung, salah satu perguruan tinggi vokasi di bawah Kementerian Perindustrian, untuk memberikan Stadium General bertema Memperkuat Sinergi antara Pemerintah, Dunia Industri dan Perguruan Tinggi Vokasi Guna Mendukung Peningkatan Daya Saing Industri Tekstil Nasional,” katanya.
Wamenperin Riza menjelaskan bahwa di tengah dinamika perdagangan global, industri tekstil nasional tetap menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan 3,55% pada tahun 2025 dan nilai ekspor sekitar US$12 miliar.
Ke depan, dia menambahkan, peluang semakin terbuka melalui pengembangan technical textile dan smart textile yang memiliki potensi pasar global mencapai US$215 sampai dengan US$255 miliar per tahun.
“Oleh karena itu, penguatan sinergi antara pemerintah, dunia industri, lembaga riset dan perguruan tinggi vokasi menjadi kunci untuk memperkuat resiliensi, serta meningkatkan daya saing industri tekstil Indonesia,” ungkapnya.
Kemenperin terus mendorong transformasi industri melalui penguatan riset, inovasi, peningkatan kompetensi SDM, pengembangan teknologi tekstil dan dukungan regulasi dan pembiayaan yang semakin kompetitif.
“Dengan kolaborasi yang kuat dan kebijakan yang berkelanjutan, saya optimistis industri tekstil Indonesia akan semakin tangguh, inovatif, berdaya saing global dan terus menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur Wamenperin Riza. I







