Pemkot Yogyakarta Bedah Rumah Tidak Layak Huni

Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta kembali melaksanakan program bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sebagai upaya mendorong masyarakat mendapatkan hunian yang bersih, nyaman dan layak.

Kali ini, program tersebut menyasar dua rumah warga di wilayah Kemantren Tegalrejo dan Kemantren Gedongtengen yang berlangsung pada akhir pekan lalu.

Dua rumah yang menjadi sasaran bedah RTLH, yakni milik Daliyah (83) yang merupakan pensiunan guru TK berada di Jalan Tompeyan TR III/168, RT 003/RW 001, Tegalrejo.
Rumah tersebut layak untuk di bedah rumah, karena kondisi rumah tersebut sudah cukup tua, dengan atap yang bocor dan beberapa bagian plafon roboh.
Sementara rumah kedua merupakan milik Sukarno Hadi Sumarno (69) yang berada di Jalan Notoyudan GT II/1033, RT 089/RW 025, Pringgokusuman, Gedongtengen.

Rumah milik Sukarno tersebut memiliki lahan yang sempit dengan kondisi atap yang sudah usang dan bocor, serta keterbatasan ruang untuk beristirahat.
Dalam kesempatan ini, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo meninjau langsung kondisi dua rumah yang menjadi sasaran program bedah RTLH.

Dia prihatin melihat kondisi rumah yang ditempati warga, terlebih terdapat warga lanjut usia yang masih bersemangat menjalankan usaha untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari.
“Saya sangat prihatin karena rumah ini tidurnya tidak layak. Kemudian berhimpitan, umbruk umbrukan. Terus bagus tetap menjalankan usaha. Meskipun sudah tua, tetap usaha buka warung kelontong kecil – kecilan. Makanya, saya terenyuh. Orang yang sudah tua tapi mau usaha itu menurut saya patut dicontoh,” jelas Hasto.

Menurutnya, keterbatasan lahan menjadi salah satu tantangan dalam penataan rumah warga.

Oleh karena itu, kata Hasto, pembangunan akan dilakukan dengan mengoptimalkan ruang yang tersedia, salah satunya melalui konsep rumah bertingkat.
“Makanya tadi ingin menyemangati, rumahnya yang kecil ini kita tingkat saja. Kita bikin tingkat,” tegasnya.
Bagian atas rumah nantinya dapat digunakan sebagai tempat tidur anak, sedangkan ruang di bagian bawah dapat dimanfaatkan untuk aktivitas memasak dan kebutuhan sehari – hari.
“Jadi, nanti yang atas bisa untuk tidur anaknya, sehingga bawahnya untuk masak. Kasihan, anaknya perempuan, masih muda. Mudah – mudahan bisa selesai,” katanya.

Baca Juga:  KEMENTERIAN PUPR SIAPKAN LAHAN RELOKASI DAN PEMBANGUNAN HUNTAP TAHAN GEMPA DI CIANJUR

Program bedah RTLH tersebut tidak hanya mengandalkan pemerintah, tetapi melibatkan berbagai unsur dan masyarakat.

Sejumlah pihak yang ikut berkolaborasi antara lain Bank Pembangunan Daerah (BPD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Paguyuban Umat Kristiani, Satpol PP, dan Dinas Pariwisata.

Hasto menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, LPMK, kepala kampung dan berbagai pihak yang turut mengambil tanggung jawab dalam pembangunan rumah tersebut.
“Saya terima kasih sudah banyak yang datang, masyarakatnya dan kepala LPMK atau tuanggono, kepala kampungnya. Dia bertanggung jawab, tidak keberatan. Jadi insyaallah bisa membangun rumah itu dalam waktu secepatnya,” ungkapnya.

Hasto juga mengajak pelaku usaha maupun masyarakat untuk turut berkontribusi melalui tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR).

Menurutnya, kontribusi tidak selalu harus berupa bantuan dana, tetapi dapat diwujudkan dalam bentuk tenaga maupun sumber daya lainnya.
“Inilah hebatnya warga, juga punya social responsibility. Jadi, yang punya CSR itu bukan hanya pengusaha, tetapi warga biasa, masyarakat saja bisa punya CSR,” tuturnya. I

 

 

Kirim Komentar