Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong penguatan program penanggulangan bencana yang lebih tepat sasaran melalui Rapat Koordinasi Teknis Penanggulangan Bencana (Rakortek PB) di Kota Bogor, Jawa Barat.
Rakortek PB 2026 yang berlangsung pada 10 – 13 Agustus 2026 menjadi forum strategis untuk memperkuat sinkronisasi program penanggulangan bencana antara pemerintah pusat dan daerah.
Forum tersebut diikuti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badna Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) provinsi se-Indonesia, serta unit kerja BNPB.
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta yang dilanjutkan dengan sesi best practice dan diskusi.
Salah satu agenda utama pada hari pertama adalah pembahasan mengenai penanganan bencana Siklon Senyar di wilayah Provinsi Aceh, Provinsi Sumatra Barat dan Provinsi Sumatra Utara.
Selain membahas pengalaman penanganan bencana siklon, forum tersebut juga mengangkat tema upaya peningkatan kapasitas daerah dalam rangka penanganan bencana yang adaptif, inklusif dan berkelanjutan.
Pembahasan ini menjadi penting untuk mendorong pembelajaran antardaerah, sekaligus mengidentifikasi praktik baik yang dapat direplikasi sesuai karakteristik risiko masing – masing wilayah.
Sesi best practice menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Prof. Muhammad Diharmasyah, IPU Dody Ruswandi, Mayjen TNI (Purn) Fajar Setiawan dan Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur Gatot Soebroto.
Diskusi dimoderatori oleh Direktur Peringatan Dini BNPB Berton Suar Pelita Panjaitan.
Pembelajaran dari berbagai daerah tersebut menjadi bagian penting dalam Rakortek PB untuk melihat praktik penanggulangan bencana yang telah dilakukan, sekaligus mengidentifikasi pendekatan yang dapat dikembangkan sesuai karakteristik risiko masing – masing daerah.
“Setiap daerah memiliki karakteristik risiko dan kapasitas yang berbeda. Karena itu, pengalaman penanganan bencana di suatu daerah dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain, sekaligus menjadi dasar untuk memperkuat perencanaan dan program penanggulangan bencana,” tuturnya.
Melalui sesi berbagi pengalaman tersebut, peserta diharapkan memperoleh pembelajaran mengenai penanganan bencana, khususnya dalam menghadapi kejadian dengan dampak luas dan kompleks.
Pengalaman penanganan bencana di sejumlah wilayah juga dapat menjadi referensi bagi daerah lain dalam memperkuat kesiapsiagaan dan kapasitas menghadapi ancaman bencana. I







