Arah Baru Strategi Industri Indonesia Tahun 2027

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat berbagai program strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan sektor manufaktur, sekaligus meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional.

Guna mengoptimalkan pelaksanaan agenda pembangunan industri pada tahun 2027, Kemenperin mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp1,72 triliun, terutama untuk program yang berdampak langsung terhadap produktivitas, daya saing, hilirisasi, penguatan Industri Kecil dan Menengah (IKM), pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) industri, serta transformasi industri nasional.

Maka dari itu, Kemenperin melakukan Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR dalam rangka pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga Tahun 2027.

“Saya menghadiri Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR tidak hanya untuk membahas Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L) Tahun 2027, melainkan juga program – program yang didanai melalui Dana Alokasi Khusus atau DAK,” kata Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza.

Rapat kali ini tidak hanya antara DPR dengan Kemenperin, tetapi juga diselenggarakan bersama dengan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.

Menurut Wamenperin Riza, pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan arah kebijakan dan kebutuhan pendanaan sektor industri, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah dan DPR dalam mendorong pembangunan industri yang berdampak nyata bagi masyarakat.

“Kami menyampaikan bahwa kinerja industri pengolahan nonmigas terus menunjukkan arah yang positif,” jelasnya.

Instagram @faisolrizaid menjelaskan, pada Triwulan II/2026, sektor Industri Pengolahan Nonmigas (IPNM) tumbuh 5,32% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%.

IPNM juga menjadi sumber pertumbuhan terbesar bagi perekonomian nasional dengan kontribusi sebesar 0,97 poin persentase dan kontribusi IPNM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 16,83% atau senilai Rp1.102,88 triliun.

“Realisasi investasi sebesar Rp199,48 triliun dan mampu menyerap sebanyak 19,99 juta tenaga kerja. Bahkan, nilai tambah manufaktur Indonesia juga meningkat ke peringkat 12 dunia dan tetap menduduki posisi pertama di Asia Tenggara,” ungkap Wamenperin Riza.

Baca Juga:  Sektor Horeka dan DTW Denpasar Komitmen Wujudkan Pengolahan Sampah Mandiri

Guna menjaga momentum tersebut, lanjutnya, program kerja utama tahun 2027 difokuskan pada pembangunan SDM industri, penguatan IKM sebagai rantai pasok, hilirisasi berbasis sumber daya alam, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, akselerasi ekspor dan transformasi industri hijau.

Wamenperin Riza menambahkan, dari pagu anggaran tahun 2027 sebesar Rp2,01 triliun, Kemenperin mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp1,72 triliun untuk memperkuat program prioritas.

Program ini, katanya, antara lain penumbuhan wirausaha industri baru, pendidikan dan pelatihan vokasi sektor industri prioritas, restrukturisasi mesin dan peralatan industri padat karta, serta IKM dan pengembangan sentra IKM melalui mekanisme DAK.

“Kami menyampaikan terima kasih atas dukungan dan persetujuan Komisi VII DPR terhadap usulan tersebut untuk diproses lenbih lanjut,” jelas Wamenperin Riza.

Dia menegaskan bahwa berbagai masukan dari pimpinan dan anggota DPR menjadi perhatian penting bagi Kemenperin dan akan ditindaklanjuti dengan sebaik – baiknya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, industri manufaktur menunjukkan kinerja yang positif dan tetap menjadi salah satu motor utama perekonomian nasional.

Oleh karena itu, lanjutnya, momentum ini harus terus dijaga melalui kebijakan dan program yang mampu memperkuat struktur industri, meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, serta menciptakan nilai tambah yang semakin tinggi di dalam negeri.

Kemenperin menetapkan bahwa sejumlah program kerja utama pada tahun 2027 yang difokuskan untuk memperkuat fondasi industri nasional.

Salah satu prioritas terbesar adalah pembangunan SDM industri dengan pagu Rp106,94 miliar, antara lain melalui pendidikan dan pelatihan industry, serta penyediaan sarana, prasarana dan infrastruktur kompetensi.

Program berikutnya adalah penguatan IKM sebagai rantai pasok dengan pagu Rp59,96 miliar, yang mencakup penumbuhan wirausaha baru IKM, fasilitasi pemberdayaan IKM dan penguatan sentra IKM.

Baca Juga:  Capaian Menggembirakan Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Tahun 2025 Capai US$41,05 miliar

Kemenperin juga mengalokasikan Rp42,27 miliar untuk hilirisasi industri berbasis sumber daya alam dan pengembangan industri prioritas.

Selanjutnya, peningkatan produktivitas industri melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi mendapat alokasi Rp8,76 miliar, termasuk untuk restrukturisasi mesin dan peralatan industri, serta penerapan teknologi industri 4.0 pada sektor prioritas.

Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan pengembangan industri halal memperoleh pagu Rp10,07 miliar, akselerasi ekspor produk dan jasa industri Rp7,29 miliar, akselerasi industri hijau Rp5,95 miliar, sedangkan aglomerasi industri melalui kawasan industri sebesar Rp1,55 miliar. I

 

 

Kirim Komentar