Trotoar di Wirobrajan Yogyakarta Miliki Bapak Asuh

Trotoar bersih tidak bisa hanya mengandalkan petugas atau kerja bakti setiap Jumat.

Warga, pemilik toko, sekolah hingga pemilik rumah yang berada di sepanjang trotoar perlu ikut merawat ruang publik yang setiap hari digunakan pejalan kaki.

Semangat gotong royong inilah yang diwujudkan Kemantren Wirobrajan melalui Gerakan Bapak Asuh Trotoar yang diluncurkan di Kantor Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengapresiasi gerakan yang melibatkan 337 Bapak Asuh Trotoar dari tiga kelurahan di wilayah Kemantren Wirobrajan tersebut.

Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta berharap gerakan serupa diterapkan di seluruh kemantren di Kota Yogyakarta dengan pembagian tanggung jawab yang jelas, perawatan trotoar diharapkan tidak hanya mengandalkan kerja bakti mingguan, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat.

“Kalau semua kemantren melakukan hal seperti ini, trotoar-trotoar bersih semua. Tidak hanya tiap Jumat, tetapi dirawat oleh masing-masing yang ada di belakang trotoar,” ujar Hasto.

Menurutnya, Gerakan Bapak Asuh Trotoar menjadi inovasi gotong royong, karena setiap peserta mendapatkan Surat Keputusan (SK) yang memperjelas tanggung jawab pemeliharaan trotoar di depan bangunan masing – masing.

“Saya kira ide yang sangat cemerlang Bu Mantri Wirobrajan. Saya ingin mengekstrapolasi, artinya menyebarluaskan ide ini dan kemudian saya berharap kemantren lain juga mengikuti,” jelasnya.

Hasto menegaskan, persoalan kebersihan trotoar tidak selalu membutuhkan penanganan besar.

Sampah yang dibuang ke pot tanaman, rumput liar yang tumbuh di sela – sela trotoar hingga lingkungan yang tidak terawat dapat ditangani melalui kepedulian sederhana dari orang – orang yang beraktivitas di sekitarnya.

“Yang utamanya kotor. Sebetulnya kalau ada PKL, tetapi PKL itu memang masih sedikit menggunakan jalan, asal bersih juga masih bisa ditoleransi. Kalau kotor itu kadang – kadang pot isinya sampah,” ungkapnya.

Baca Juga:  Pemkot Yogyakarta Perkuat Regulasi Pengawasan Kawasan Tanpa Rokok

Dia menjelaskan, kegiatan kerja bakti ASN Pemerintah Kota Yogyakarta yang dilaksanakan setiap Jumat tetap berjalan.

Namun, perawatan trotoar melalui gerakan ini memiliki pola berbeda, karena diserahkan kepada warga atau pelaku usaha yang bertanggung jawab atas area di depan bangunannya.

“Kalau PNS seminggu sekali, tapi kalau Bapak Asuh di trotoar ini kan terserah mereka, karena mereka ingin yang di depannya itu selalu bersih. Jadi, mestinya mereka juga tidak seminggu sekali,” ungkap Hasrto.

Bagi Wali Kota, keberadaan Bapak Asuh menjadi faktor penting agar gerakan tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Pemerintah berperan mendorong dan memfasilitasi, sedangkan masyarakat menjadi pelaku utama dalam menjaga fasilitas publik.

Dia juga menekankan bahwa semangat gotong royong perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar ajakan.

Hasto mengapresiasi keterlibatan sekolah, toko dan warga yang selama ini telah membersihkan trotoar secara mandiri.

“Kalau tidak ada Bapak Asuhnya, jelas program ini tidak jalan, yang memaknai adalah warga masyarakat itu sendiri,” tegasnya.

Mantri Pamong Praja Kemantren Wirobrajan Rahmi Anggraini menambahkan, gerakan ini berangkat dari kebutuhan menjaga trotoar sebagai fasilitas publik yang mendukung mobilitas masyarakat.

Trotoar yang bersih dan terawat juga memberikan kenyamanan bagi pelanggan, tamu, siswa maupun masyarakat yang melintas.

“Trotoar bukan sekadar pelengkap jalan, melainkan ruang publik yang harus memberikan rasa aman, bersih, nyaman, tertib dan aksesibel bagi seluruh lapisan masyarakat,” tutur Rahmi.

Melalui gerakan ini, pemilik rumah, tempat usaha, tempat ibadah, dan institusi pendidikan yang berada di sepanjang jalan protokol di wilayah Wirobrajan diajak mengambil bagian dalam perawatan trotoar di depan bangunan masing – masing.

Setiap Bapak Asuh Trotoar diharapkan meluangkan waktu sekitar 15 menit secara rutinuntuk mengambil sampah liar, mencabut rumput atau tanaman liar dan memastikan trotoar tetap nyaman dilalui pejalan kaki.

Baca Juga:  Revitalisasi Madrasah Perkuat Infrastruktur Pendidikan Keagamaan

Rahmi menyebutkan, pihaknya telah menyurati pemilik bangunan di sepanjang jalan protokol untuk mengajak mereka terlibat.

Respons yang diterima sebagian besar positif dan menunjukkan dukungan terhadap gerakan tersebut.

“Peluncuran hari ini kami harapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi titik awal dari sebuah gerakan nyata, berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ungkapnya. I

 

Kirim Komentar