Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pemutakhiran perkembangan penanganan kejadian bencana yang terjadi di wilayah Indonesia pada 27 – 28 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB.
Pada periode tersebut tercatat kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir dan cuaca ekstrem menjadi fokus utama penanganan kali ini.
Kejadian pertama yakni kebakaran lahan terjadi pada Selasa (27/10) pukul 17.00 WIB di area lereng Gunung Rajabasa, Desa Way Muli Induk, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Sumber utama kebakaran masih dalam penyelidikan petugas yang berwenang.
Akibat kejadian tersebut, vegetasi di area lereng bukit Gunung Rajabasa seluas kurang lebih 3 hektare terbakar.
Meskipun demikian, tidak ada korban jiwa maupun bangunan yang terdampak.
Menanggapi kejadian itu, Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Benana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan bersama Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Lampung Selatan, dengan dukungan anggota Desa Tangguh Bencana Way Muli Induk dan masyarakat setempat, bergotong royong memadamkan api hingga tuntas.
Pemerintah setempat menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan berdasarkan Keputusan Bupati Lampung Selatan Nomor B/315.1/VI.01/HK/2026 tentang Penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan Serta Kebakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2026, yang berlaku sejak Sabtu (1/8) sampai dengan Senin (30/11).
Adapun kondisi terkini pada Selasa (27/10), api sudah berhasil dipadamkan dan situasi di lokasi telah aman, serta kondusif.
Selanjutnya, kebakaran terjadi pada Selasa (27/10) pukul 11.07 Wita di lahan kosong milik warga Desa Rumaju, Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan.
Api dengan cepat merambat karena kondisi lahan di sekitarnya kering dan angin bertiup cukup kencang.
Akibatnya, sekitar 1,5 hektare lahan terbakar, tetapi tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
BPBD Kabupaten Luwu bersama petugas gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan agar api tidak merambat lebih luas.
Di sisi lain, Kabupaten Luwu berstatus siaga darurat bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan berdasarkan Keputusan Bupati Luwu Nomor 396//VIII/2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Luwu, yang berlaku sejak Sabtu (1/8) sampai dengan Kamis (29/10).
Guna memperkuat penanganan, kebutuhan mendesak di lapangan meliputi pompa punggung, pompa jinjing, tangki air portabel, garu cangkul api, gepyok pemukul api (fire flapper), kapak pemadam, pakaian pelindung beserta sepatu bot, serta helm, kacamata, dan masker.
Adapun kondisi terkini pada Selasa (27/10), api telah padam pada pukul 13.07 Wita.
Berikutnya, kebakaran lahan terjadi pada Selasa (27/10) di dua lokasi di Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu di Kawasan Islamic Centre, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Takkalala, Kecamatan Wara Selatan dan di Jalan Cendana, Kelurahan To’bulung, Kecamatan Bara.
Terdata seluas 1,25 hektare lahan terbakar dan masih dalam pendataan petugas. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Menanggapi hal tersebut, BPBD Kota Palopo berkoordinasi dengan unsur terkait dan melakukan pemadaman dan pendinginan.
Adapun kondisi terkini pada Selasa (27/10), api berhasil dipadamkan di kedua wilayah.
Kebakaran hutan dan lahan juga terjadi pada Sabtu (24/10) pukul 01.00 WITA di Desa Lembang Rangri dan Desa Lembang Ratte, Kecamatan Baruppu, Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan.
Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Akibatnya, sekitar 7 hektare lahan terbakar, tetapi tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Menanggapi hal tersebut, pemadaman dilakukan oleh Dinas Pemadam Kebakaran, BPBD dan masyarakat sekitar, disertai asesmen di lokasi kejadian.
Adapun kondisi terkini pada Selasa (27/10), api berhasil dipadamkan pada pukul 17.30 Wita.
Tidak hanya karhutla. Banjir juga melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Banjir melanda Desa Sei Silau Tua dan Desa Bangun Sari, Kecamatan Setia Janji, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatra Utara pada Selasa (27/10).
Banjir disebabkan naiknya debit air Sungai Silau Tua yang meluap ke permukiman warga, akibat tingginya curah hujan di hulu sungai selama satu malam penuh.
Pada Desa Sei Silau Tua, air mulai naik pada pukul 08.00 WIB dengan ketinggian rata – rata sekitar 30 sentimeter (cm) sampai 60 cm dari permukaan tanah.
Selanjutnya, di Desa Bangun Sari, air mulai naik pada pukul 09.20 WIB dengan ketinggian rata – rata sekitar 40 cm sampai dengan 80 cm dari permukaan tanah.
Akibatnya, kurang lebih 405 Kepala Keluarga (KK) terdampak, dengan kerugian material berupa kurang lebih 405 unit rumah terdampak.
Menyikapi hal tersebut, BPBD Kabupaten Asahan berkoordinasi dengan instansi terkait serta melakukan asesmen. Adapun kondisi terkini pada Selasa (27/10), banjir belum surut.
Pada hari yang sama, banjir terjadi pada Selasa (27/10) pukul 06.15 WIB di Desa Punden Rejo, Kecamatan Tanjung Morawa, dan Desa Lama, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang,
Provinsi Sumatra Utara. Hujan deras menyebabkan air sungai Sei Putih dan Sei Belawan naik dan meluap, ditambah tanggul jebol di Dusun II, sehingga banjir mencapai ketinggian sekitar 40 cm hingga 50 cm.
Berdasarkan pendataan, sekitar 146 kepala keluarga atau 573 jiwa terdampak, dengan rincian sekitar 88 kepala keluarga atau 358 jiwa di Desa Punden Rejo dan 58 kepala keluarga atau 215 jiwa di Desa Lama.
Selain itu, kerugian material sebanyak 146 unit rumah terdampak berdasarkan pendataan.
Menanggapi kejadian itu, BPBD Kabupaten Deli Serdang melakukan asesmen dan peninjauan di titik lokasi banjir serta berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan setempat untuk membuka dapur umum, sedangkan sembako tanggap darurat akan disediakan oleh pemerintah Kecamatan Tanjung Morawa dan Dinas Sosial.
Tidak hanya itu, BPBD Kabupaten Deli Serdang juga berkoordinasi dengan penjaga pintu air Bendungan Perdamean dan Kepala Bidang Perairan SDMBK untuk menindaklanjuti tanggul jebol di Dusun II, Desa Punden Rejo.
Adapun kondisi terkini pada Selasa (27/10), banjir berangsur surut dengan tinggi muka air sekitar 10 cm sampai dengan 15 cm dan warga telah kembali ke rumah masing – masing.
Selain itu, angin puting beliung disertai hujan lebat akibat cuaca ekstrem melanda sejumlah desa di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu Desa Sungai Alat di Kecamatan Astambul dan Desa Sungai Rangas Hambuku, Desa Sungai Rangas Ulu, Desa Sungai Batang Ilir, serta Desa Penggalaman di Kecamatan Martapura Barat.
Akibatnya, sejumlah rumah warga mengalami kerusakan dan pohon tumbang. Tercatat kurang lebih 35 KK terdampak.
Rincian tersebut adalah Desa Sungai Alat sebanyak 3 KK atau 10 jiwa; Desa Sungai Rangas Hambuku sekitar 4 KK atau 13 jiwa, Desa Sungai Rangas Ulu sekitar 13 KK, Desa Sungai Batang Ilir sekitar 7 KK, dan Desa Penggalaman sekitar 8 KK.
Selain itu, kerugian material berupa sekitar 24 unit rumah dan 1 unit fasilitas pendidikan terdampak.
Menyikapi hal tersebut, BPBD Kabupaten Banjar melakukan asesmen, berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan melakukan pendataan awal terhadap rumah warga yang terdampak.
Selain itu, BPBD Kabupaten Banjar menyiapkan dan akan menyalurkan bantuan logistik sesuai ketentuan yang berlaku.
Adapun kondisi terkini pada Selasa (27/10), kejadian ini masih dalam penanganan. Data nama warga, jumlah kepala keluarga dan jiwa, tingkat kerusakan rumah dan kondisi fasilitas pendidikan masih dalam proses pendataan dan verifikasi lebih lanjut.
Kemudian, pada Sabtu (24/10) pukul 17.30 WIB, hujan deras mengguyur sebagian besar wilayah Kabupaten Labuhanbatu, Provinsi Sumatera Utara.
Luapan air setinggi satu meter menggenangi permukiman hingga sampai ke lintas jalan di Kelurahan Sirandorung dan Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Rantau Utara.
Akibatnya, kurang lebih 520 KK terdampak, dengan kerugian material berupa kurang lebih 520 unit rumah terdampak berdasarkan pendataan.
Menanggapi kejadian itu, BPBD Kabupaten Labuhanbatu berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat dan melakukan tinjauan langsung ke lokasi kejadian. Adapun kondisi terkini pada Selasa (27/10), banjir telah surut.
Berdasarkan rangkaian kejadian tersebut, masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan.
Pantau selalu informasi cuaca dan peringatan dini dari Instansi yang berwenang, jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, terutama pada musim kemarau dan segera laporkan kepada Dinas Pemadam Kebakaran atau BPBD terdekat apabila melihat api yang mulai membesar.
Bagi warga yang tinggal di dekat sungai atau kawasan rawan banjir, waspadai kenaikan debit air saat hujan deras dan jangan menerobos arus banjir.
Saat angin kencang, hindari berteduh di bawah pohon atau bangunan yang rawan roboh dan periksa kekuatan atap rumah.
Terakhir, siapkan tas siaga bencana berisi dokumen penting, obat – obatan dan perlengkapan dasar, kenali jalur serta tempat evakuasi dan ikuti arahan petugas di lapangan. I




