Ada Tiga Kendala Utama Pemadaman Karhutla Bromo

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menjelaskan, tiga faktor utama yang memicu sulitnya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) hingga memasuki hari ke-10.

Meski dihadapkan pada medan ekstrem, katanya, BNPB optimistis penanganan di dua titik utama dapat dituntaskan pada Jumat mendatang.

Usai melihat kondisi lapangan pascakebakaran di Probolinggo, Jawa Timur, Kepala BNPB menjelaskan kendala pertama terletak pada topografi medan yang sangat berat.

Titik api berada di ketinggian dengan sudut kemiringan curam hingga 80 derajat, sehingga tidak memungkinkan bagi tim darat untuk menjangkau lokasi demi keselamatan jiwa para personel.

Kendala kedua adalah keterbatasan sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Saat ini, pengisian air untuk armada pemadaman hanya mengandalkan pasokan dari Ranu Pani.

Adapun kendala ketiga berhubungan dengan kondisi cuaca yang belum memungkinkan untuk segera memicu hujan buatan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Kendati demikian, berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), potensi pertumbuhan awan hujan diproyeksikan terjadi pada pertengahan Agustus 2026.

“Berdasarkan penjelasan BMKG, terdapat potensi awan hujan pada 14 – 16 Agustus. Jika potensi tersebut dikonfirmasi, BNPB akan segera menggelar Operasi Modifikasi Cuaca agar hujan dapat diturunkan secara optimal di area terdampak,” ujar Suharyanto.

Hingga saat ini, total luas lahan yang terdampak kebakaran di kawasan TNBTS mencakup 889 hektare, yang tersebar di empat wilayah administratif, yaitu Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Malang dan Pasuruan.

Guna memastikan percepatan pemadaman, BNPB bersama Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tingkat provinsi dan kabupaten/kota berkomitmen menyelesaikan pemadaman di Bromo sesuai target pada Jumat mendatang.

Baca Juga:  Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air pada 18 Januari 2026

Keberhasilan penanganan di Bromo akan memungkinkan redistribusi armada helikopter water bombing ke wilayah rawan bencana lainnya di Indonesia.

“Saat ini, ada 3 unit helikopter water bombing yang disiagakan. Begitu dua titik di Bromo ini berhasil dipadamkan dengan target hari Jumat, 2 unit armada akan segera kita geser untuk mendukung operasi pemadaman di daerah lain yang juga membutuhkan dukungan udara,” jelas Suharyanto. I

 

Kirim Komentar