Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menjaga ketahanan pangan nasional menghadapi potensi musim kemarau dan fenomena El Nino.
Kesiapan tersebut didukung oleh kondisi produksi yang masih terjaga serta ketersediaan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) yang dinilai memadai.
Upaya tersebut menjadi penting di tengah mulai munculnya dampak El Nino di Papua Nugini sebagaimana dilaporkan sejumlah lembaga internasional.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia akan berlangsung pada Juli hingga September 2026 dengan peluang terjadinya El Nino.
Sekretaris Utama (Sestama) Badan Pangan Nasional Sarwo Edhy mengatakan, pemerintah telah melakukan langkah – langkah antisipatif sejak dini.
Kesiapan stok pangan Indonesia berada di status yang cukup kuat. Pemerintah telah memperkuat stok CPP, terutama stok beras, termasuk pula stok Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) yang dikelola masing – masing pemerintah daerah.
“Memang ada prediksi El Nino dan musim kering, sehingga kita sudah antisipasi daerah yang defisit itu untuk persiapan, baik dari produksi maupun stok. Pemerintah mempunyai CPP dan CPPD, yang dikelola di pemerintah pusat dan di 38 provinsi dan 514 kabupaten kota,” jelasnya.
Sestama Sarwo menambahkan, efek El Nino belum begitu kuat dirasakan di Indonesia, apalagi progres pertanaman pangan masih bertumbuh baik.
Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog, lanjutnya, juga semakin tinggi dari hasil penyerapan panen petani lokal.
“Terkait dengan cuaca selama ini masih cukup normal, sehingga belum berpengaruh terhadap pertanaman. Jadi, peningkatan produksi tetap dapat tercapai. Kita selalu koordinasi dengan BMKG kaitan dengan perubahan cuaca dan kita juga sudah sosialisasi ke para petani untuk melakukan pola tanam sesuai dengan anjuran dari pemerintah,” tuturnya.
Sampai Juni 2026, berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan yang diolah Bapanas menunjukkan total produksi beras selama setengah tahun ini dapat mencapai 19,2 juta ton.
“Ini masih melebihi total kebutuhan konsumsi beras nasional Januari-Juni yang diperkirakan berada di angka 15,4 juta ton,” ungkap Sarwo.
Proyeksi surplus produksi terhadap konsumsi beras sebanyak 3,7 juta ton tersebut pun sebagian besar telah dikonversi menjadi stok CBP melalui serapan Bulog.
Dari awal tahun sampai 26 Juni, Bulog telah melaksanakan penyerapan setara beras sebanyak 3,2 juta ton.
Selanjutnya, realisasi penyaluran CBP ke masyarakat pun sampai 26 Juni telah menyentuh angka total 1,07 juta ton melalui berbagai program.
Sementara itu, total stok beras pemerintah yang disimpan Bulog masih ada di angka yang cukup besar, yakni 5,17 juta ton.
Bahkan, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian (Mentan) optimis stok beras Indonesia mencukupi sampai Mei 2027.
Indonesia sudah bersiap jauh – jauh hari untuk menghadapi El Nino di tahun ini. “Kami memang sudah siapkan jauh hari sebelumnya menghadapi El Nino. Dulu pengalaman kita tahun 2023. Alhamdulillah kita lolos,” ungkapnya.
Stok beras nasional tertinggi sepanjang sejarah, kata Amran, dan kondisi aman. “Katakanlah sampai Desember, bahkan beras kita sudah sampai Mei pun cukup. Jadi, tidak masalah.”
Optimisme tersebut selaras dengan Proyeksi Neraca Pangan untuk beras yang sudah diperbarui awal Juni 2026.
Neraca akhir tahun beras Indonesia diestimasikan masih akan terdapat stok 16,24 juta ton.
“Ini berasal dari stok awal tahun 2026 di 12,54 juta ton ditambah proyeksi produksi setahun 34,76 juta ton lalu dikurangi kebutuhan konsumsi setahun 31,1 juta ton,” jelasnya.
Dengan proyeksi neraca akhir tahun beras sebesar 16,24 juta ton tersebut dinilai masih mampu untuk penuhi kebutuhan konsumsi nasional sekitar lima bulan lamanya di tahun 2027.
Namun, Amran menegaskan tidak hanya itu, karena pada Maret dan April 2027, stok beras nasional akan semakin meningkat, karena telah memasuki musim panen raya. I





