Bapanas Dorong Penumbuhan Bank Pangan di Daerah

Susut dan sisa pangan atau Food Loss and Waste (FLW) merupakan salah satu tantangan terbesar sistem pangan di Indonesia saat ini.

Untuk itu, upaya penyelamatan pangan harus dilakukan secara bersama-sama, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, komunitas hingga masyarakat.

Kesadaran itulah yang mulai diperkuat di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, melalui Sosialisasi Gerakan Selamatkan Pangan (GSP).

Direktur Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nita Yulianis yang hadir secara daring mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Tabalong dalam membangun kepedulian terhadap pengurangan sisa pangan.

Menurutnya, inisiatif daerah menjadi bagian penting dalam memperluas upaya penyelamatan pangan agar tidak berhenti sebatas kampanye, tetapi juga menjadi aksi nyata di masyarakat.

“Upaya penyelamatan pangan harus dimulai dari kesadaran bersama bahwa pangan yang tersedia harus sebesar besarnya dimanfaatkan sebagai pangan dan tidak boleh terbuang sia – sia,” ujarnya.

Langkah utama adalah mencegah terjadinya sisa pangan, selanjutnya untuk pangan berlebih yang layak dan aman dikonsumsi dapat dilakukan redistribusi pangan.

Selebihnya, dapat dimanfaatkan untuk keperluan non pangan seperti pakan, pupuk ataupun sumber energi, sehingga hanya tersisa sedikit saja yang ke TPA.

“Jadi, kami mengapresiasi komitmen daerah melalui kegiatan sosialisasi ini,” tegas Nita.

Dia menjelaskan, upaya penyelamatan pangan bukan hanya soal mengurangi timbunan sampah makanan, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan, kepedulian sosial hingga upaya menjaga lingkungan.

Oleh karena itu, lanjutnya, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah perlu terus diperkuat agar gerakan ini berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Bapanas juga mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabalong untuk segera menerbitkan kebijakan daerah terkait penyelamatan pangan sebagai pijakan bersama dalam menjalankan upaya pencegahan dan pengurangan sisa pangan.

Melalui kebijakan daerah, kata Nita, pemerintah dapat menjadi penggerak utama dalam membangun budaya dan aksi selamatkan pangan di masyarakat.

“Kami berharap Pemkab Tabalong dapat segera menerbitkan Surat Edaran atau Instruksi Kepala Daerah agar upaya pengurangan sisa pangan memiliki dasar yang kuat dan bisa dijalankan oleh seluruh pihak,” ujarnya.

Menurut Nita, daerah juga perlu mulai mendorong tumbuhnya bank pangan maupun penggiat selamatkan pangan sebagai mitra redistribusi pangan berlebih.

“Kehadiran bank pangan dinilai penting untuk menjembatani penyaluran pangan yang masih layak konsumsi kepada masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Tabalong mewakili Bupati Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan Hamidah Munawarah menyampaikan apresiasi kepada Bapanas atas dukungan terhadap inisiasi penyelamatan pangan di Kabupaten Tabalong.

Menurutnya, dukungan tersebut menjadi penguat bagi pemerintah daerah dalam membangun gerakan bersama penyelamatan pangan di tengah masyarakat.

Food loss dan food waste menjadi perhatian penting karena berdampak pada ketahanan pangan, lingkungan, ekonomi hingga kondisi sosial masyarakat,” ungkap Hamidah.

Oleh karena itu, dia menilai, melalui sosialisasi ini kami ingin membangun pemahaman bersama, sekaligus memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan lintas sektor dalam mencegah pemborosan pangan dan mendistribusikan pangan berlebih kepada masyarakat yang membutuhkan.

Hamidah juga menyambut baik komitmen pelaku usaha, hotel, restoran dan ritel yang mulai terlibat dalam redistribusi pangan berlebih yang masih layak konsumsi.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk kepedulian sosial yang tidak hanya membantu masyarakat yang membutuhkan, tetapi juga menjadi upaya nyata mengurangi pemborosan pangan dan dampak lingkungan akibat sisa pangan.

Dia berharap edukasi dan sosialisasi Stop Boros Pangan tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari – hari, baik di lingkungan kerja, sekolah maupun rumah tangga.

“Dengan semakin banyak pihak yang terlibat, upaya penyelamatan pangan diharapkan tumbuh menjadi budaya bersama dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan,” katanya.

Melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, komunitas dan masyarakat, Gerakan Selamatkan Pangan diharapkan tidak hanya menjadi kampanye sesaat, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang mampu membangun budaya lebih bijak dalam memanfaatkan pangan.

Dari langkah sederhana, yaitu dengan bijak memanfaatkan pangan dan menghabiskan makanan yang ada di piring, maka upaya menjaga ketahanan pangan dan kepedulian sosial dapat dimulai. I

Kirim Komentar