Bapanas Tanggung Biaya Pengiriman Pasokan ke Daerah Defisit Produksi Cabai

Komoditas cabai dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi pendorong utama pada inflasi umum di September tahun 2026.

Cabai rawit memiliki andil paling tinggi dengan 0,08% dan cabai merah menyumbang andil 0,06% terhadap inflasi umum secara bulanan.

Namun, pemerintah memastikan produksi cabai di Oktober 2026 masih mencukupi, tetapi aspek pemerataan distribusi pasokan masih perlu diatasi secara kolaboratif.

Dalam hal ini, Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah menyiapkan skema agar pasokan cabai dari daerah sentra produsen dapat lebih lancar mengguyur daerah yang mengalami defisit, termasuk ke daerah yang bukan sentra produsen.

“Bagi yang di daerahnya bukan daerah sentra produksi, kekurangan cabai, karena cabai saat ini, produksi yang paling tinggi salah satunya ada di Aceh, Bapanas bisa membantu subsidi untuk membantu pengiriman,” ujar Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan dalam Rapat Koordinasi dengan Satgas Pangan Polri dan pemerintah.

Sebagai bentuk konkretnya, dalam waktu dekat ini Bapanas sedang mengupayakan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) cabai rawit merah dari Probolinggo, Jawa Timur untuk dikirimkan ke Sulawesi Utara dan Maluku Utara bersama dengan Champion Cabai binaan Kementerian Pertanian (Kementan).

Maka dari itu, Deputi Bapanas Hermawan mendorong pemerintah daerah agar terus proaktif untuk mengatasi fluktuasi cabai yang terjadi di wilayahnya.

Langkah mitigasi penting untuk segera dilaksanakan, sehingga inflasi cabai-cabaian dapat semakin mereda.

“Silakan membuat surat ke Bapanas agar kita bisa membantu memitigasi terkait masalah cabai, karena kemarin inflasi yang paling terbesar, nomor satu itu adalah cabai rawit. Kemudian, cabai merah. Jadi cabai – cabaian ini seluruhnya, inflasinya sangat tinggi, harus segera kita redam,” tuturnya.

Dalam pantauan harga cabai rawit di tingkat konsumen oleh Bapanas, per 14 Oktober rerata harga secara nasional berada di Rp 93.629 per kilogram (kg).

Baca Juga:  Pasokan Pangan saat Lebaran 2026 Stabil dan Terkendali

Terpantau untuk Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur masih mencatatkan rentang harga cabai rawit yang cukup stabil di kisaran Rp57.000 per kg sampai dengan Rp65.000 per kg.

Sementara itu, untuk rerata harga cabai merah keriting di tingkat konsumen, Bapanas mencatat rerata harga secara nasional berada di Rp79.913 per kg.

Sebagian besar regional Jawa, Bali dan Nusa Tenggara tercatat berada di rentang harga cukup stabil mulai Rp50.000 sampai Rp64.000 per kg.

Daerah yang perlu dilakukan intervensi penekan harga cabai antara lain tersebar di sebagian regional Sumatra dan juga regional Kalimantan, Sulawesi, Maluku sampai dengan Papua.

Faktor geografis menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah, sehingga upaya pemerataan distribusi pasokan dari sentra produsen cabai perlu mempertimbangkan aspek jarak antardaerah.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat (STO) Kementan Sudi Mardianto memastikan sebaran 26 kabupaten penghasil cabai rawit dan cabai besar di Oktober 2026 dapat menyokong kerja sama antardaerah.

Dalam data Kementan, sebarannya tidak hanya regional Jawa, tapi juga ada di Sumatra sampai Sulawesi.

“Bahwa dari 26 kabupaten ini ini menyumbang sekitar 65% dari total produksi cabai nasional. Artinya, posisi kabupaten – kabupaten yang keberadaan Champion Cabai ini berada, ini adalah salah satu solusi untuk bagaimana kita dapat mengendalikan kondisi harga cabai di beberapa provinsi yang mengalami lonjakan cukup tinggi,” ungkap Sudi dalam Rapat Pengendalian Inflasi di Kementerian Dalam Negeri.

Direktur Kementan Sudi mengungkapkan bahwa produksi cabai rawit dan cabai besar selama Oktober ini berada di level yang memadai untuk menunjang kebutuhan konsumsi nasional.

Namun, lanjutnya, surplus yang ada perlu didukung pemerataan pasokan yang salah satunya harus menyasar ke daerah – daerah yang defisit.

Baca Juga:  Kementan dan Bapanas Jalankan Program Fasilitasi Distribusi Pangan Redam Harga Cabai

“Jadi untuk cabai, posisi produksi pada bulan Oktober untuk cabai rawit sekitar 133.000 ton. Kemudian, untuk cabai besarnya sekitar 115.000 ton dan posisi produksi ini apabila dibandingkan dengan tingkat konsumsinya yang berkisar 70.000 ton, itu sebetulnya kita secara agregat masih mengalami surplus, tapi memang sebaran produksinya yang lebih banyak daerah yang masih mengalami defisit,” jelas Sudi.

Adapun dalam data Kementan, kabupaten penghasil cabai rawit di Oktober ini antara lain Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat dengan 24.400 ton, Malang dan Situbondo, Jawa Timur masing – masing 10.800 ton dan 7.600 ribu ton, Aceh Tengah, serta Aceh 6.000 ton.

Sementara itu, untuk kabupaten penghasil cabai besar antara lain Kerinci, Jambi dengan 20.200 ton, Aceh Tengah, Aceh 18.100 ton, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 4.800 ton, dan juga Garut, Jawa Barat 3.600 ton, serta Simalungun Sumatera Utara 3.000 ton.

Kementan juga mengupayakan produksi cabai nasional kuat menjelang akhir tahun dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan di awal tahun 2027.

“Ini penting untuk menjaga kestabilan harga cabai nasional saat permintaan konsumsi cenderung naik pada momentum akhir tahun dan HBKN,” kata Sudi.

Selama dua bulan terakhir, September – Oktober 2026 juga dorongan pertanaman untuk di wilayah champion yang diupayakan agar di hari Natal dan Tahun Baru, khususnya dan menjelang Ramadan di tahun 2027, gejolak harga cabai tidak terlalu tinggi.

Ini di dua bulan yang pertama di September – Oktober 2026 untuk cabai rawit ada sekitar 1.023 hektare tanaman baru, kemudian untuk cabai besar ada 1.070 hektare. I

 

Kirim Komentar