BNPB Koordinasikan Percepat Penanganan Pascabanjir Pasuruan

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto melakukan serangkaian kegiatan di wilayah Provinsi Jawa Timur pada Jumat (27/3).

Tiba di Kota Surabaya, Kepala BNPB yang didampingi Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB dan Direktur Penanganan Darurat Wilayah 1 BNPB, langsung menuju Kabupaten Pasuruan yang sedang dilanda banjir sejak Selasa (24/3).

Pada kesempatan ini, Suharyanto berdiskusi dengan Wakil Bupati Pasuruan beserta perwakilan Forkopimda membahas perkembangan dan kendala dalam penanganan bencana kali ini.

“BNPB akan melakukan langkah – langkah penanganan darurat yang menjadi kewenangan BNPB, selain itu BNPB juga akan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait lainnya,” ujarnya di Kantor Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan.

Salah satu penyebab banjir selain hujan dengan intensitas tinggi adalah karena adanya pendangkalan pada sungai di wilayah Kabupaten Pasuruan.

“Daerah ini setiap tahun ketika musim hujan selalu terjadi banjir serupa, karena wilayah ini relatif lebih rendah dari permukaan sungai. Badan sungainya sudah relatif menyempit dan dangkal,” ungkap Suharyanto.

Menurutnya, pemerintah setempat dan kementerian PU sudah melakukan normalisasi sungai, sehingga segera dilakukan penanganan terpadu lintas lembaga mulai jangka pendek, menengah dan panjang.

“Untuk jangka pendek dipastikan tertangani, kebutuhan dasar masyarakat terdampak terpenuhi,” tuturnya.

Lebih lanjut, jangka menengah dengan normalisasi sungai harus terus dilakukan supaya ketika musim hujan dampak banjirnya tahun ketahun tidak meningkat lagi.

“Jangka panjang, permasalahan ini akan kami bawa ke tingkat pusat dan berkoordinasi utk menentukan langkah – langkah lanjutan,” ungkap Suharyanto.

Usai berdiskusi dengan Forkopimda, Kepala BNPB meninjau shelter yang digunakan sebagai dapur umum dan menyapa sejumlah petugas yang sedang memasak makanan bagi penyintas.

Sebanyak 1.500 bungkus nasi dan lauk diproduksi di lokasi ini. Selain itu, dirinya memeriksa ketersediaan logistik yang ada pada shelter tersebut.

Baca Juga:  Laporan Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Indonesia pada 1 September 2025

“Bagus ada shelter, jadi sudah siap kalau ada bencana. Kesiapan ini menjadi hal yang patut mendapatkan apresiasi,” katanya.

Selanjutnya, Kepala BNPB menyempatkan diri meninjau langsung lokasi terdampak banjir di Dusun Balongrejo, Desa Kedungringin, Kecamatan Beji yang masih terputus akibat akses jalan yang terendam banjir.

Pada lokasi ini masih terlihat rumah warga dan lahan pertanian yang terendam banjir dengan ketinggian bervariasi antara 10 sentimeter (cm) hingga 40 cm.

Kemudian, Suharyanto menemui para penyintas dan melakukan dialog, untuk mendengarkan dan memberikan solusi, serta motivasi kepada para penyintas bencana banjir tersebut.

“Kehadiran kami di sini bukan yang pertama, awal banjir kami sudah menempatkan Direktur untuk menangani wilayah Pasuruan,” ujarnya.

Hadirnya BNPB pada kesempatan pertama merupakan perintah langsung Presiden Prabowo Subianto agar segera melakukan penanganan secara cepat dan tepat.

Semua warga negara dari Sabang sampai Merauke yang terkena bencana mempunyai hak yang sama untuk ditangani secara maksimal oleh pemerintah.

Pada akhir dialog, Kepala BNPB memberikan langsung bantuan permakanan untuk para penyintas, termasuk anak – anak.

Potensi Ancaman Hidrometeorologi di Jawa Timur, BNPB dan Pemprov Jawa Timur Siapkan Sejumlah Langkah Antisipasi

Rangkaian kegiatan ditutup dengan melakukan Rapat Koordinasi Penanganan Dampak Hidrometeorologi dan Potensi Bencana Musim Kemarau yang digelar di Gedung Negara Grahadi, Kota Surabaya, Jawa Timur pada Jumat (27/3) waktu setempat, dengan dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan lembaga terkait lainnya.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memimpin rapat koordinasi ini mengatakan, meskipun di sejumlah wilayah yang ada di Jawa Timur masih dilanda banjir, akan menginstruksikan kepada pemerintah daerah untuk mengantisipasi potensi kekeringan yang mungkin terjadi pada tahun 2026.

Baca Juga:  Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana pada 12 Agustus 2025

“Hari ini kita masih melihat banjir di beberapa titik, saat yang sama pun kita harus bersiap, informasi dari BMKG bulan April ini telah mulai kekeringan. Nanti akan terus meningkat prediksi puncaknya Agustus, prediksi puncaknya,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BNPB menyatakan, pentingnya mitigasi dalam setiap potensi bencana, menjadi kunci keberhasilan mengurangi dampak bencana.

“Kami sudah rapat dengan Gubernur Jawa Timur ini rapatnya adalah menghadapi bencana hidrometeorologi kering, kebakaran dan kemarau panjang. Kenapa sudah dibicarakan saat ini, karena prediksi BMKG tidak lama lagi memasuki musim kemarau,” jelasnya.

Semua pihak sepakat bahwa untuk mengatasi kekeringan tidak bisa diatasi salah satu institusi dan harus berkolaborasi dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten kota sampai pemerintah pusat.

Kepala BNPB menyebutkan, langkah yang akan dilakukan meliputi, apel gelar pasukan dan peralatan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga melakukan operasi pemadaman dengan helikopter waterbombing.

“Penguatan satgas darat. segera adakan apel personel dan peralatan. Bantuan sumur dan mengalirkan air dari sumber air yang jauh. Jika diperlukan OMC untuk mengisi embung, kolam – kolam renang yang bisa dijadikan sumber air dari kolam renang,” ungkapnya.

Selanjutnya BNPB akan menyiagakan helikopter water bombing jika eskalasi cuaca meningkat disiapkan pesawat dan heli dari Lanud Madiun dan Juanda. I

Kirim Komentar