BNPB Pastikan Penanganan Pascabencana Tanah Bergerak di Kabupaten Tegal Berjalan Optimal

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan penanganan bencana tanah bergerak di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah tetap berjalan dengan optimal.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan hal tersebut saat berdialog dengan warga terdampak di pos pengungsian Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal.

Kehadirannya sebagai bentuk tindak lanjut arahan Presiden untuk tetap memberikan langkah penanganan bencana dengan baik, terutama di masa sejumlah umat islam sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadan.

Pada kesempatan ini, Kepala BNPB juga menegaskan bahwa warga yang rumahnya rusak akan dibuatkan hunian sementara (huntara) hingga hunian tetap (huntap).

“Diibangun huntara sebanyak 900 unit, sementara telah disiapkan lahan untuk 500 unit,” ujar Suharyanto.

Untuk mempercepat pembangunan huntara di tengah keterbatasan lahan, Kepala BNPB mengusulkan kepada pemerintah daerah opsi agar warga dapat menentukan secara mandiri lokasi huntara sesuai dengan kemauan warga.

“Huntara bisa dibangun mandiri, satu per satu per warga, sehingga Kepala Desa diharapkan dapat menyiapkan lahannya,” jelasnya.

Warga juga diberikan kebebasan untuk memilih tinggal di pengungsian, tinggal bersama di rumah kerabat atau mengontrak.

“Akan diberikan dana tunggu hunian sebesar 600.000 per bulan per kepala keluarga bagi warga yang memilih tidak menempati pos pengungsian hingga huntara selesai dibangun,” tutur Suharyanto.

Selain huntara, pemerintah juga sedang menyiapkan pembangunan huntap. Seperti halnya huntara, warga dapat memilih lokasi huntap terpusat atau mandiri, yang penting lokasinya terbebas dari risiko bencana dan sesuai dengan kriteria yang ditentukan pemerintah.

“Huntap akan segera dibangun, bisa bersifat terpusat san mandiri. Jika ada warga yang ingin dibangunkan di luar Kabupaten Tegal pun tetap diizinkan,” katanya.

Sebagai langkah dan antisipasi ke depannya, Kepala BNPB mengatakan akan bekerjasama lintas instansi untuk merelokasi warga yang ada di wilayah risiko bencana tanah bergerak.

Baca Juga:  Banjir Masih Mendominasi Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana pada 5 April 2025

“Salah satu solusinya harus relokasi, cari tempat baru yanh aman dan relokasi. Tempat yang sudah terjadi bencana tanah bergerak dilakukan reboisasi dan tidak bisa ditempati manusia lagi,” ungkapnya.

Selanjutnya BNPB kembali memberikan sejumlah bantuan permakanan dan peralatan yang dapat dimanfaatkan bagi para pengungsi dan juga pemerintah daerah setempat dalam melakukan upaya penanganan darurat bencana tanah bergerak. B

Kirim Komentar