Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto memimpin langsung Rapat Koordinasi Evaluasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) di Palangka Raya, Jumat (11/9/2026).
Dalam rapat tersebut, BNPB menegaskan penguatan operasi gabungan antara Satgas Darat dan Satgas Udara serta kesiapan penuh alutsista untuk menangani karhutla secara cepat dan terukur.
Kepala BNPB memberikan apresiasi kepada seluruh jajaran Forkopimda Kalimantan Tengah, terutama bagi Satgas Darat yang terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA) hingga relawan mahasiswa.
Satgas Darat dinilai menjadi tulang punggung utama penanganan karhutla yang secara konsisten mampu memadamkan hingga lebih dari 100 hektare lahan terbakar setiap harinya.
Berdasarkan data perkembangan penanganan karhutla per Kamis (10/9), telah teridentifikasi firespot sebanyak 90 titik dengan estimasi luas lahan mencapai 212,3 hektare.
Melalui pengerahan Satgas Darat, lahan seluas 141,1 hektare yang terbakar telah berhasil dikendalikan.
Sisanya, masih ada 71,2 hektare lahan yang terbakar dan menjadi prioritas utama penanganan.
“Sinergi dan kinerja Satgas Darat di Kalimantan Sangat luar biasa. Di Kalimantan Tengah sendiri, per hari ini Satgas berhasil memadamkan 71,2 hektare sisa lahan terbakar. Kerja keras jajaran TNI-Polri dan seluruh relawan di lapangan merupakan kunci utama pengendalian karhutla,” ujar Suharyanto.
Guna mengoptimalkan penanganan di titik – titik kritis, BNPB memberikan instruksi tegas agar pergeseran armada helikopter pemadam water bombing segera direalisasikan ke wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi, seperti Kabupaten Kapuas, dengan 16 titik dengan estimasi lahan yang terbakar mencapai 58 hektare.
Kemudian, Kabupaten Sampit (Kotawaringin Timur) dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 55,6 hektare dengan 16 titik firespot dan Kabupaten Seruyan, dengan 13 titik firespot atau 21,89 hektare lahan yang terbakar sesuai rekomendasi Gubernur Kalimantan Tengah.
Suharyanto juga menekankan bahwa pengoperasian helikopter water bombing harus diintegrasikan secara presisi dengan pergerakan Satgas Darat.
Helikopter difokuskan untuk memblokir titik api skala besar atau area yang sulit dijangkau akses darat, sehingga operasi berbiaya tinggi tersebut memberikan dampak maksimal di lapangan.
BNPB memastikan dukungan peralatan pemadaman darat dan tambahan personel dari Mabes TNI maupun instansi terkait akan terus disalurkan untuk memperkuat daerah.
Seluruh unsur Satgas diminta mempertahankan komitmen dan sinergi hingga memasuki puncak musim hujan alami. I







