Dinkes Bandung Luncurkan Si Geulis

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung meluncurkan Si Geulis untuk mengintegrasikan data obat, memantau stok dan membantu perencanaan kebutuhan obat secara akurat.

Sistem Integrasi, Digitalisasi, Perencanaan, Pengelolaan dan Pengawasan Obat (Si Geulis) diluncurkan di Aula Bawah Dinas Kesehatan Kota Bandung.

Aplikasi ini menjawab persoalan data obat yang tersebar, rekapitulasi yang memakan waktu dan pemanfaatan data yang belum optimal dalam pengambilan keputusan.

Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Bandung sekaligus Project Leader Si Geulis Detty Kurnia mengatakan, aplikasi tersebut mengintegrasikan proses pengelolaan obat secara menyeluruh.

“Si Geulis diharapkan tidak hanya mengubah pencatatan manual menjadi digital, tetapi juga mendorong perubahan budaya kerja. Dari data yang tersebar menjadi terintegrasi, dari reaktif menjadi preventif, dari asumsi menjadi berbasis data dan dari bekerja secara parsial menjadi kolaboratif,” ujarnya.

Si Geulis mencakup perencanaan kebutuhan obat, pemantauan stok dan transaksi, pengendalian obat kedaluwarsa, serta pengawasan obat sensitif, termasuk psikotropika.

Aplikasi ini juga menyediakan dasbor untuk membantu pemantauan, evaluasi dan pengambilan keputusan berdasarkan informasi yang terintegrasi.

Pengembangan sistem telah melalui identifikasi kebutuhan, penyusunan program, uji coba, penyempurnaan aplikasi, sosialisasi, dan pendampingan pengguna.

Dinas Kesehatan Kota Bandung melibatkan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), pengelola obat, tenaga teknologi informasi, apotek, pedagang besar farmasi (PBF), perguruan tinggi, dan organisasi profesi.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bandung Ira Dewi Jani, yang mewakili Kepala Dinas Kesehatan menegaskan, pengelolaan obat berperan penting dalam menjaga mutu pelayanan kesehatan masyarakat.

Menurut Ira, teknologi diperlukan untuk membantu mengatasi tantangan perencanaan kebutuhan, pengelolaan stok, pelaporan, pengendalian obat kedaluwarsa, dan pengawasan obat khusus.

“Si Geulis bisa menjadi instrumen untuk mengintegrasikan data dan proses pengelolaan obat sehingga informasi dapat diperoleh secara lebih cepat, akurat dan mudah dikelola,” ungkapnya.

Baca Juga:  Masyarakat Jabar Diimbau Waspadai Penularan Campak Saat Mudik Idulfitri

Data stok, penyakit dan epidemiologi diharapkan membantu petugas memperkirakan kebutuhan obat secara lebih tepat, sehingga ketersediaannya sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan.

Sistem terintegrasi juga diharapkan mempercepat deteksi ketidaksesuaian stok, risiko obat kedaluwarsa, keterlambatan pelaporan dan persoalan lain yang membutuhkan tindak lanjut.

Ira menekankan, keberhasilan Si Geulis bergantung pada kualitas data, kesiapan sumber daya manusia, kepatuhan pengguna, komitmen pimpinan dan keterlibatan para pemangku kepentingan.

“Harapan kami Si Geulis dapat menjadi bagian dari budaya kerja di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Bandung, yaitu budaya kerja yang berbasis data terintegrasi, kolaboratif, adaptif terhadap teknologi serta berorientasi kepada hasil dan pelayanan masyarakat,” ujar Ira. I

 

Kirim Komentar