Pemerintah Indonesia dan Inggris menindaklanjuti penguatan kerja sama di bidang konservasi alam, perlindungan keanekaragaman hayati dan pembiayaan berkelanjutan bagi kawasan lindung.
Hal tersebut ditandai dengan pertemuan bilateral antara Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dengan Perwakilan Khusus Inggris Bidang Alam Ruth Davis dalam rangkaian London Climate Action Week di London, Inggris, awal pekan ini.
Menhut mengatakan, kedua pihak membahas perkembangan implementasi Satuan Tugas (Satgas) Konservasi Bentang Alam dan Spesies Ikonik yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026.
Satgas tersebut memiliki mandat untuk memperkuat konservasi, memobilisasi pembiayaan inovatif, mendukung pencapaian target FOLU Net Sink 2030 dan membangun model pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan.
Menhut Raja mengapresiasi dukungan pemerintah Inggris terhadap agenda konservasi Indonesia, termasuk dukungan awal sebesar 2 juta poundsterling yang telah diumumkan pada April 2026.
“Indonesia telah memiliki landasan hukum yang kuat dan dukungan politik pada tingkat tertinggi untuk memperkuat konservasi alam. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan mandat tersebut menjadi reformasi kebijakan, proyek percontohan yang dapat direplikasi, serta hasil konservasi yang terukur bagi masyarakat maupun lingkungan,” jelasnya.
Menhut menegaskan pengembangan pembiayaan inovatif untuk konservasi merupakan pelengkap pembiayaan pemerintah dan bukan bentuk privatisasi taman nasional.
Seluruh pendekatan yang dikembangkan akan tetap menjunjung tinggi prinsip transparansi, akuntabilitas, integritas ekologis dan manfaat yang adil dan inklusif bagi masyarakat sekitar kawasan.
Dalam kesempatan tersebut, kedua pihak juga bertukar pandangan mengenai pengembangan Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) sebagai salah satu model konservasi bentang alam yang mengintegrasikan perlindungan spesies kunci, penguatan ekonomi masyarakat dan mobilisasi investasi jangka panjang untuk konservasi.
Dia menjelaskan, Indonesia saat ini memiliki 57 taman nasional dengan luas hampir 18 juta hektare yang menjadi rumah bagi berbagai spesies ikonik dunia dan ekosistem penting.
“Pemerintah Indonesia tengah mengembangkan pendekatan pembiayaan yang disesuaikan dengan karakteristik masing – masing kawasan, termasuk melalui skema blended finance, filantropi dan pembiayaan publik, guna menutup kesenjangan pendanaan konservasi yang masih cukup besar,” ungkap Menhut.
Selain itu, dia menambahkan, pertemuan bilateral ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam menghadapi tantangan global terkait dengan hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim.
“Indonesia dan Inggris sepakat untuk terus memperkuat dialog serta menjajaki berbagai peluang kerja sama konkret guna mendukung pengelolaan kawasan lindung yang efektif, inklusif dan berkelanjutan,” tutur Menhut Raja. I




