Industri drone atau nirawak nasional harus diperkuat agar Indonesia mampu menjadi produsen, sekaligus pemain global.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan hal tersebut saat membuka Indonesia Drone Summit 2026, bahkan dijelaskan bahwa saat ini ada sedikitnya 30 produsen drone nasional yang telah mampu memenuhi kebutuhan sektor sipil maupun militer.
“Kita harus terus mengembangkan teknologi, sangat penting dalam pengembangan industri drone, karena drone memberikan efisiensi yang tinggi,” jelasnya dalam acara tersebut di Jakarta.
Wamenperin Riza menjelaskan bahwa Indonesia harus memperkuat industri drone nasional, agar tidak hanya menjadi pasar, tetapi mampu menjadi produsen dan pemain skala internasional.
“Potensi pasar domestik juga besar, pengadaan drone pemerintah pada tahun 2026 mencapai Rp263,74 miliar dan 83% atau Rp218,8 miliar telah dipenuhi oleh produk dalam negeri, dengan menyerap tenaga kerja sekitar 853 tenaga kerja lokal,” ujarnya.
Namun, Wamenperin Riza menambahkan, tantangan masih terlihat dari perdagangan atau impor drone pada Januari – Juli 2026 yang mencapai US$30,71 juta, setara ekspor baru US$2,15 juta.
“Kesenjangan tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat subtitusi impor, Tingkat Komponen Dalam Negeri atau YKDN, inovasi dan ekspor, apalagi pengembangan drone sudah masuk prioritas industri nasional,” tuturnya.
Pengembangan industri ini, kata Wamenperin Riza, mulai dari drone sipil dan militer tempur hingga drone otonom energi terbarukan, drone penumpang, serta teknologi drone tempur.
Saat ini, teknologi pesawat nirawak ini banyak diadopsi untuk survei udara, pemetaan wilayah, logistik hingga transformasi pertanian modern (smart farming), sehingga Kemenperin turut aktif memberikan pendampingan teknologi dan memfasilitasi Industri Kecil Menengah (IKM) drone agar mampu meraih sertifikasi internasional. I






