Indonesia – Malaysia Bahas Kerja Sama Logistik dan IKM

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Malaysian Chinese Association (MCA) Malaysia menjajaki peluang kerja sama strategis di sektor industri, khususnya pada pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM), investasi, teknologi industri dan transformasi digital.

“Saya menerima audiensi delegasi Malaysian Chinese Association (MCA) Malaysia dalam rangka mempererat hubungan bilateral serta menjajaki peluang kerja sama strategis,” jelas Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza.

Menurutnya, dalam pertemuan tersebut, pemerintah menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar pada sektor industri agro yang menjadi salah satu penopang utama manufaktur nasional.

Selain itu, kata Wamenperin Riza, peluang pengembangan industri intermediate juga sangat terbuka untuk meningatkan nilai tambah bahan baku domestik dan memperkuat struktur industri nasional dari hulu ke hilir.

Pada awal 2026, industri Malaysia menunjukkan pertumbuhan yang tangguh (5,9% yoy pada Januari 2026), yang didorong oleh manufaktur E&E (industri manufaktur Electrical dan Electronics (kelistrikan dan elektronik), tetapi melambat di Februari akibat tantangan global, seperti risiko perang Iran.

Fokus utama tetap pada transformasi digital, energi hijau, dan manufaktur teknologi tinggi sesuai New Industrial Master Plan (NIMP) tahun 2030.

Produksi manufaktur Malaysia, terutama produk listrik dan elektronik (E&E), mencatat kinerja kuat di awal tahun, meskipun melambat pada Februari karena gangguan rantai pasok global.

Sementara itu, Indeks Produksi Industri Malaysia menunjukkan pertumbuhan yang melambat dari 5,9% (Januari) menjadi 3,1% (Februari) dan sektor pertambangan mengalami fluktuasi, sempat menyusut pada Februari 2026.

Berdasarkan data Kemenperin, industri manufaktur Indonesia Kuartal I/2026 tumbuh positif dengan investasi menembus Rp418,62 triliun, menyerap 219.684 tenaga kerja.

Sektor ini ditargetkan tumbuh 5,51% pada tahun 2026 dengan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 18,56%, didorong oleh digitalisasi atau industri 4.0, hilirisas, dan partisipasi >1.200 industri baru.

Baca Juga:  Malaysia dan Indonesia Tingkatkan Layanan serta Kemitraan Navigasi Penerbangan Pascaperjanjian FIR

Menurut Wamenperin Riza, pemerintah terus berkomitmen memperkuat daya saing industri nasional melalui berbagai langkah strategis, mulai dari pemberian insentif investasi, dukungan pembiayaan hingga percepatan transformasi industri 4.0.

“Upaya tersebut dilakukan melalui digitalisasi IKM, standardisasi produk dan penguatan kompetensi sumber daya manusia industri agar mampu bersaing di pasar global,” tuturnya.

Wamenperin Riza berharap audiensi dengan MCA Malaysia menjadi langkah awal yang positif dalam memperkuat komunikasi, memperluas jejaring kerja sama dan membuka peluang kolaborasi konkret di masa mendatang.

“Berbagai potensi yang telah dibahas diharapkan dapat segera ditindaklanjuti untuk memberikan manfaat nyata bagi kedua belah pihak,” tegas Wamenperin Riza. I

 

Kirim Komentar