Indonesia Swasembada Pangan dengan Impor Hanya 5% dari 11 Komoditas

Indonesia mencapai swasembada pangan dengan impor hanya sekitar 5% dari total kebutuhan konsumsi 11 komoditas strategis untuk menjaga ketahanan dan stabilitas pasokan nasional.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), yang sekaligus Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan, definisi yang disepakati swasembada pangan tercapai adalah maksimal impor 10%. “Ini kita impor hanya 5%.”

Dia menyebutkan tentang indikator swasembada pangan yang telah dicapai Indonesia dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Impor pangan pokok strategis untuk kebutuhan konsumsi dalam kalkulasinya hanya sekitar 5% dan hal itu tidak melampaui definisi swasembada dari The Food and Agriculture Organization (FAO).

“Apa itu swasembada pangan? Ini 11 komoditas, yang merah ini impor, kurang lebih 3,5 juta ton. Total produksi kita 73 juta ton. Kalau 3,5 juta ton dibagi, itu 4,8%,” tutur Mentan.

Kemudian, dia menambahkan, kalau impor ini dibagi dengan kebutuhan 68 juta ton, maka itu 5% lebih sedikit.

“Definisi yang kita sepakati, swasembada pangan adalah maksimal impor 10%, ini konsensus FAO dan kita 5%,” ungkapnya.

Menurut Kepala Bapanas, total impor tiga pangan pokok strategis 3,5 juta ton terdiri dari kedelai 2,6 juta ton, bawang putih 600.000 ton dan daging ruminansia 350.000 ton, sedangkan kebutuhan konsumsi untuk 11 pangan pokok selama setahun mencapai 68,7 juta ton. “Hasil perbandingan keduanya pun diperoleh 5,1%.”

Adapun 11 pangan pokok itu adalah beras, jagung pakan, cabai rawit, cabai besar, daging ayam, telur ayam, bawang merah, gula konsumsi, kedelai, bawang putih, dan daging sapi/kerbau.

Dari segi produksi dalam negeri, 11 komoditas tersebut dapat mencapai hingga 73,7 juta ton selama setahun.

“Jadi, swasembada pangan, ketahanan pangan, kemandirian pangan dalam waktu yang bersamaan, hari ini selesai. Pangan sesuai dengan Peraturan Presiden nomor 125 tahun 2022, itu ada 11 komoditas, dengan beras sebagai porsi konsumsi paling tinggi,” kata Amran.

Dari total konsumsi 11 komoditas yang sejumlah 68,7 juta ton, beras berkontribusi hingga 45,2% atau 31,1 juta ton.

Oleh karena itu, pemerintah memastikan ketersediaan beras nasional harus kokoh, salah satunya dengan pembuktian stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang memecahkan rekor kembali.

Bapanas mencatat stok beras Bulog telah mengalami perkembangan yang eksponensial dalam dua tahun terakhir.

Dengan total stok lebih dari 5 juta ton per 23 April 2026 meningkat hingga 264,2% dibandingkan dengan hari yang sama dua tahun lalu. Total beras Bulog saat itu di 1,37 juta ton.

“Selanjutnya jika stok 5 juta ton hari ini dibandingkan terhadap 23 April tahun 2025 telah meningkat 65,8%,” ungkapnya.

Adapun stok pada 23 April tahun lalu berada di 3,01 juta ton. Eskalasi yang sangat signifikan dalam dua tahun terakhir ini mencerminkan Indonesia yang telah mencapai swasembada beras.

Kepala Bapanas menegaskan, swasembada dapat dilihat pada realisasi serapan setara beras yang bersumber dari produksi dalam negeri yang semakin meroket.

Realisasi serapan produksi dalam negeri untuk stok beras Bulog per 23 April 2026 telah berada di angka 2,31 juta ton.

Tingkat serapan Bulog tersebut telah melampaui secara drastis dalam dua tahun terakhir.

Terhadap periode Januari – April 2024 menjadi capaian monumental, karena meroket hingga 790%, mengingat realisasi saat itu hanya 259.900 ton.

Sementara itu, terhadap Januari – April 2025 yang 1,78 juta ton pun meningkat cukup signifikan 29,4%.

“Kenapa orang mengatakan swasembada pangan identik dengan beras? Karena komposisi kalau kita makan, orang Indonesia bisa 60, 70, 80%, sehingga orang selalu menyampaikan pangan identik dengan beras, karena komposisinya yang lebih besar,” tutur Mentan.

Intinya, dia menambahkan, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo saat ini, satu, pangan beres, dua, protein beres, sehingga yang dibutuhkan tubuh ini adalah karbohidrat dan protein sudah terpenuhi. I

 

Kirim Komentar