Industri Nonmigas Beri Kontribusi hingga Rp1.053 Triliun

Industri pengolahan nonmigas terus tumbuh diatas pertumbuhan ekonomi nasional sejak Q2-2025 atau Kuartal II/2025, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada Q3-2025 atau Kuartal III/2025, yang mencapai 17,39% atau setara Rp1.053,56 triliun.

Menurut Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza, industri di Indonesia tidak hanya sekedar tumbuh, melainkan juga melampaui kondisi ekonomi nasional.

“Penjelasan kondisi sektor industri nasional disampaikan saat menghadiri Rapat Kerja Kementerian Perindustrian dengan Komisi VII DPR bersama Menteri Perindustrian, sekaligus menyampaikan evaluasi kinerja sektor industri tahun 2025 dan rencana program tahun 2026,” katanya usai Rapat Kerja Kementerian Perindustrian dengan Komisi VII DPR.

Menurut Wamenperin Riza, kinerja sektor industri tersebut ditopang oleh surplus neraca perdagangan industri pengolahan nonmigas sebesar US$25,95 miliar, nilai ekspor US$205,93 miliar dan realisasi investasi sektor industri nonmigas Rp552 triliun pada Kuartal I hingga Kuartal III/2025.

“Kedepan, fokus pembangunan industri diarahkan pada hilirisasi, industri hijau, peningkatan sumber daya manusia industri dan pemanfaatan teknologi untuk memperkuat daya saing,” ungkapnya.

Wamenperin Riza optimistis keberhasilan pembangunan sektor industri dengan capaian kinerja yang terukur dan penguatan program, serta implementasi kebijakan industri.

“Sektor industri akan terus menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah nasional pada tahun 2026,” tuturnya.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan bahwa pertumbuhan industri pengolahan nonmigas telah melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sejak Triwulan II/2025 dan diproyeksikan terus berada di atas pertumbuhan ekonomi pada Triwulan IV/2025.

Dari sisi sektoral, sejumlah subsektor industri pengolahan nonmigas mencatatkan pertumbuhan yang kuat di atas rata – rata pertumbuhan ekonomi.

Industri logam dasar menjadi subsektor dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 16,04%, diikuti dengan industri mesin dan perlengkapan sebesar 9,97%, industri pengolahan lainnya, serta jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan sebesar 9,55%.

Baca Juga:  PELAKU UMKM HARUS KOLABORASI DUKUNG KEBANGKITAN EKONOMI

Sementara itu, subsektor lainnya seperti industri kulit dan alas kaki, industri barang logam dan elektronik, industri tekstil dan pakaian jadi, industri kertas, percetakan, serta industri furnitur tetap menunjukkan kinerja solid dengan pertumbuhan di kisaran 1% hingga 5%.

Berdasarkan data Global Manufacturing Value Added (MVA) yang dirilis World Bank, nilai MVA Indonesia pada tahun 2024 mencapai US$265,07 miliar, jauh di atas rata – rata MVA dunia yang hanya sebesar US$78,73 miliar.

Dengan capaian tersebut, Indonesia menempati peringkat ke-13 dunia dan masuk dalam jajaran 15 negara dengan nilai MVA terbesar.

Di tingkat Asia, Indonesia berada di peringkat kelima setelah Tiongkok, Jepang, India dan Korea Selatan.

Sementara itu, di kawasan ASEAN, Indonesia menempati posisi pertama dengan nilai MVA hampir dua kali lipat dibandingkan Tailan yang berada di peringkat kedua. I

 

 

Kirim Komentar